Sabtu, 11 Mei 2019 05:48 WIB

Memindahkan Ibukota: Revolusioner Visioner

Reporter :
Kategori : Oase Esai

ilustrasi. ibu kota Jakarta

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo *

Memindahkan ibukota adalah rencana revolusioner yang visioner. Jika terlaksana, Indonesia akan berubah hampir total, sebuah perubahan raksasa yang meskipun bisa diprediksi namun tidak mungkin bisa terbayangkan sepenuhnya.



Peta bumi sosial, ekonomi dan politik serta kebudayaan Indonesia akan berubah drastis karena pusat gravitasi tidak lagi di Jawa tapi di luar Jawa yang selama ini jadi daerah pinggiran. Pergeseran pusat gravitasi inilah yang akan merubah peta bumi Indonesia, yang selama ini di dominasi oleh Jawa, secara fisik dan mental, menjadi Indonesia dengan wajah yang baru - sebuah Indonesia masa depan.

Sebagai sebuah tindakan revolusioner langkah ini sudah pasti kontroversial dan dengan gampang akan dianggap mengada-ada, mencari-cari masalah, mengalihkan isu untuk menghindari pelbagai persoalan pelik sekarang dan hari ini: kemiskinan, korupsi, nepotisme, oligarki, ketidakadilan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dekadensi moral, ketidakjelasan arah pendidikan, gerakan separatis, sektarianisme,  implementasi ideologi yang kedodoran dan seabreg masalah lain yang hari ini mengepung bangsa ini dari hampir semua jurusan.

Gagasan memindahkan ibukota kita tahu adalah gagasan lama. Presiden pertama Sukarno sudah memikirkan dan merencanakan Palangka Raya di Kalimantan Tengah sebagai ibukota baru. Jika kita berkunjung ke Palangka Raya bisa kita lihat kalau kota ini memang didesain sebagai sebuah kota baru, bukan kota yang tumbuh secara alamiah seperti kota-kota pelabuhan yang berkembang karena adanya pasar. Jokowi seperti Sukarno, mungkin punya insting yang sama dalam hal merekayasa (engineering) sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Memindahkan ibukota adalah sebuah proyek rekayasa raksasa: geologi, spasial, sosial-politik, yang niscaya membutuhkan perhitungan dan perencanaan yang matang, sebelum mulai dieksekusi di lapangan.

Melihat rekam jejak Jokowi dalam membangun infrastruktur selama ini, ngotot dan harus jadi; gagasannya untuk memindahkan ibukota, tampaknya akan sunguh-sungguh dilakukan. Langkah ini tampaknya harus dilihat sebagai bagian dari kerja nyata yang ingin dia buktikan semasa menjadi presiden, sebuah waktu yang tidak lama, untuk membangun fondasi yang diharapkan bisa diteruskan oleh generasi pemimpin Indonesia masa depan, untuk sebuah Indonesia baru yang dinamis, makmur dan berkeadilan.

*Riwanto Tirtosudarmo, Ph.D. Peneliti sosial independen. Salah satu bukunya “From Colonization to Nation-State: The Political Demography of Indonesia (LIPI Press, 2013)


Tag : #ibu kota pindah #jakarta



Berita Terbaru

  Kamis, 23 Januari 2020 20:51 WIB

Jambi Tuan Rumah PWN 2020, Fachrori: Kita Alokasikan Rp 5,8 M

Berita
  Kamis, 23 Januari 2020 20:45 WIB

Fachrori Dorong Ajang Kreatif Seni Siswa Jenjang SMA/SMK

Inforial
  Kamis, 23 Januari 2020 20:41 WIB

Gubernur Cup 2020 Sukses, Fachrori: Upayakan Peningkatan Pembinaan Sepak Bola Jambi

Inforial
  Kamis, 23 Januari 2020 19:35 WIB

Aksi Massa Berujung Penyegelan Gerbang Masuk Kantor DPRD Sarolangun

Berita
  Kamis, 23 Januari 2020 18:20 WIB

Hari Ketiga Aksi, Warga Mandiangin Bertahan Duduki Kantor Bupati

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.