Minggu, 15 September 2019 07:16 WIB

Budayawan Junaidi T. Noor di Mata Sahabat

Reporter : Redaksi
Kategori : Berita Daerah Sudut

Junaidi T. Noor (27 April 1947-10 Spetmber 2019). Dok. JP.

Selasa, 10 September 2019, sekira pukul 13.00 WIB, tersiar kabar meninggalnya budayawan Jambi, Junaidi T. Noor. Kepergian pria kelahiran Tanjung Karang, 27 April 1947, ini kabar duka bagi masyarakat Jambi, khususya bagi kalangan seni dan birokrasi pemerintahan provinsi Jambi.

Di Jambi, sosok Junaidi T. Noor terbilang familiar. Selain birokrat tulen, dirinya juga dikenal sebagai budayawan yang menaruh perhatian besar pada sejarah dan budaya Jambi. Beberapa karya tulisnya mengangkat pernak-pernik sejarah Jambi dan karya sastra berupa syair dan pantun.



Berikut pendapat dan kesan para sahabat tentang sosok Junaidi T. Noor semasa hidup, yang dihimpun oleh redaksi kajanglako.com:

 

“Blio empat tahun lebih tua dari saya. Semasa kecil kami sepermainan. Ayahnya, Tajudin Noor, selain seorang tentara, juga piawai menyampaikan pepatah-petitih. Tampaknya kemampuan itu menurun pada sosok Junaidi T. Noor. Empat bulan lalu, saya berjumpa dengan pak Jun di kediamannya. Kami pun bersendagurau. Di sela-sela itu, muncul kenangan ketika sama-sama menjalani masa kecil dan kelakar saat menjalani masa pensiun masing-masing. Tentu kepergian pak jun kehilangan bagi kita bersama. Kian terkikisnya budaya lokal Jambi merupakan keperihatinan pak Jun. Semoga generasi sekarang meneruskan semangat belio untuk tiada henti berkarya. Semoga karya-karya pak Jun, yang terserak itu, dapat dikumpulkan dan dapat dibaca secara luas oleh generasi sekarang.”

(Fauzi Zubir: Perupa)

 

“Aku kenal pak Djun dalam kaitannya dengan Situs Muara Jambi. Beliau memang sangat mencintai budaya Jambi,  baik budaya benda (tangible) maupun takbenda (intangible). Dari dua budaya itu beliau bisa saja menyelaraskannya. Meskipun asalnya dari seorang birokrat, namun dia sangat menguasai di luar itu. Beruntung saya masih menyimpan tulisan beliau. Jambi kehilangan seorang informan budaya."

(Bambang Budi Utomo: Arkeolog)

 

"Pada sosok Junaidi T. Noor, paling tidak, saya melihat dua hal. Pertama, konsistensi, baik sebagai birokrat maupun sebagai budayawan. Kedua, kegigihan. Saya masih ingat betul kegigihan belio menelusuri sumber-sember sejarah lokal, sebagaimana kita bisa membaca bukunya yang berjudul “Mencari Jejak Sangkakala” (terbit 2011). Pada tahun 2000-2011, belio tekun menelusuri dan menuliskannya. Salah seorang yang berkontribusi terhadap keinginan Junaidi T. Noor adalah Pak Nasir, kepala museum Siginjei pertama. Boleh dikata almarhum Pak Nasir merupakan salah satu gurunya.

Sebagai orang yang cukup dekat dengan belio, saya secara pribadi sangat kehilangan. Salah satu yang menjadi perhatian pak Jun semasa hidup, yakni kita membutuhkan komunitas yang serius menggali dan melestarikan sejarah dan budaya Jambi. Betul, blio pernah membuat Jambi Heritage, tetapi boleh dikata belum dapat berbuat banyak. Karena itu, kepergian belio ini bak alarm bagi seni budaya Jambi. Mari kita bergerak terus. Meneruskan apa yang telah dikerjakan sepenuh hati oleh almarhum semasa hidup."

(Mg Aloy: Budayawan)

 

“Kepergian Pak Junaidi T. Noor tentu kehilangan kita bersama. Di mata saya belio orang yang jujur, konsisten dan setia. Tak terkecuali salama belio menempuh jalan seni.

(Sakti Alam Watir: Seniman dan Fotografer)

 

“Totalitas Pak Jun untuk sejarah dan budaya Jambi tak perlu diragukan lagi. Beberapa pekan sebelum beliau wafat, beliau meluangkan waktu untuk mengisi acara di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Tubuh yang ringkih tak memberatkan kakinya melangkah dan berbagi pengetahuan. Ialah tempat meminta tunjuk ajar. Ramai negeri dek nan mudo. Elok negeri dek nan tuo. Sungguh kini kita di Jambi mulai kehilangan tuo tengganai tempat betanyo.

(Deddy Rachmawan: Jurnalis)

 

“Jujur saja, saya terlambat mengenal belio. Tapi saya berkesempatan menimba ilmu padanya. Tidak jarang dia memberikan masukan bagi Tempoa Gallery, tempat saya dan kawan-kawan menghadirkan ruang ‘aktualisasi’ seni budaya Jambi. Semoga kepergian belio melecut semangat kita untuk senantiasa menggali dan melestarikan seni budaya Jambi.”

(Harkopo Lie: Pemilik Tempoa Gallery dan Museum Bioskop Jambi)

 

"Bagi saya, pak Junaidi adalah maestro yang mencintai sejarah, meskipun sebenarnya bukan sejarawan akademisi. Belio pribadi yang sederhana, hangat dan menyenangkan pada tiap generasi untuk sharing tentang apapun. Di samping itu, kecintaannya pada ilmu dan agama, tak lain daripada wujud keseimbangan sebagai makhluk tuhan. Dan itu ia jalani hingga akhir hayatnya."

(Siti Heidi Karmela: Pengajar Sejarah Universitas Batanghari)

 

"Pak Jun adalah sosok yang ramah dan tidak pelit ilmu. Saya bertemu dengan beliau dalam beberapa kesempatan, tapi jarang sempat ngobrol karena beliau selalu dikerubungi 'penggemar'. Namun, dari 2-3 kali kesempatan bercakap-cakap, beliau sungguh bersahabat dan sama sekali tidak jaim. Warisan ilmu dan wawasan yang beliau bagikan dengan sangat murah hati, semoga bisa terus terpelihara dan lestari dalam diri generasi muda Jambi."

(Meiliana K. Tansri: Novelis dan Guru)

 

"Sebagai pribadi saya betul-betul merasa kehilangan. Sehari-hari Pak Junaidi T. Noor saya panggil Datuk. Belio ini sudah saya anggap seperti orangtua, yang senantiasa menyemangati, memberi arahan, dan bahkan menegur bila ada sesuatu yang tidak tepat dalam langkah-langkah saya. Pesan belio semasa hidup, yang saya ingat betul, yaitu agar sayo fokus bersama kawan-kawan melestarikan seni, budaya dan peninggalan cagar budaya di Kawasan Percandian Muarojambi. Semoga Kepergian belio menjadi motivasi bagi kita, utamanya saya, untuk terus melestarikan kawasan Percandian Muarojambi."

(Abdul Haviz/Ahok: Aktivis/Pelestari Kawasan Percandian Muarojambi)

 

“Kala berita duka itu tiba, saya tengah diskusi dengan Pemda Tanjung Jabung Timur, terkait konsep seminar dan FGD peradaban maritim pantai timur Jambi pada peringatan hari maritim nasional tanggal 23 Sepetmber. Panitia berencana menghadirkan Pak Jun sebagai salah satu tokoh penggerak sejarah dan budaya Jambi. Tapi, Tuhan berkehendak lain, belio dipanggil keharibaanNya.

Interaksi saya dengan belio, selain beberapa kali kehadirannya sebagai pembicara seminar di FIB Universitas Jambi pada tahun 2016-2017,  juga ketika saya bersama tim pengusulan Raden Mattaher sebagai pahlawan nasional, meminta masukan sekaligus data dari belio. Pak Jun, selain tegas, menguasai seluk beluk sejarah lokal, juga humoris. Sejak itu, saya menangkap kesan kuat belio adalah guru penggerak sejarah dan budaya Jambi. Pesan belio pada generasi sekarang agar mengkaji dan menulis sejarah dan budaya Jambi, sehingga masyarakat Jambi tetap kuat berpijak pada akar identitasnya. Selamat jalan Pak Jun, pengabdianmu hidup dalam keabadian semangat kami.”

(Asyhadi Mufsi Sadzali: Ketua Program Studi Arkeologi FIB UNJA)

 

“Mengenang sosokmu, jujur aku bingung, sedih, campur baur jadi satu, tak tahu mesti menceritakan yang mana terlebih dahulu. Sebab terlalu banyak hal baik yang Abang tinggalkan dan sangat lekat dalam ingatan. Terakhir kita bertemu secara langsung, bulan Oktober tahun 2011. Saat itu, HISKI Bungo mengadakan peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda. Abang datang sebagai nara sumber yang memaparkan tentang berbagai bentuk karya sastra lisan yang berkembang di Provinsi Jambi. Terakhir abang mengajari guru-guru bagaimana teori praktis untuk berbalas pantun atau menulis pantun secara kilat. Sungguh! Saat itu semua merasa bahwa ternyata membuat pantun dalam waktu singkat itu gampang!

Pada kesempatan itu juga, abang kasih aku buku antologi pantun dengan judul “Pantun Titah”. Disitu banyak karyamu. Kenangan lain yang tak terlupa, namamu terukir jelas di tesisku, karena Abang juga narasumberku pada saat menulis tesis “Krinok; Kajian Struktural Semiotik”. Akh.. Bang, dirimu memang terlalu baik, selalu ingin memberi dan berbagi tanpa mengharapkan balasan atas apa yang telah kau lakukan. Bang, tenang dan damailah kau di sana. Amal dan kebaikanmu, akan jadi selimut dan bantal indahmu. Al Fatihah.”

(Feerlie Moonthana Indhra, Dosen dan penggiat sastra Kabupaten Bungo).

 

*Pendapat/komentar tokoh di atas dihimpun oleh Jumardi Putra. Tulisan mengenai sosok Pak Junaidi T. Noor dapat dibaca di link berkut ini: http://kajanglako.com/id-9106-post-selamat-jalan-budayawan-junaidi-t-noor.html


Tag : #Junaidi T Noor Tutup Usia #Budayawan Jambi #Mencari Jejak Sangkala



Berita Terbaru

  Senin, 21 Oktober 2019 12:28 WIB

Penerimaan CPNS, Merangin Dapat Jatah 243 Orang

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 11:16 WIB

Ungkapan Duka dari Gubenur Fachrori atas Wafatnya Wartawan Metro Jambi Janinal Abidin/Jay

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 11:10 WIB

Warning ASN, Wabup Mashuri: Hati-Hati Ujaran Kebencian

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 01:33 WIB

Hadiri Pelantikan Presiden dan Wapres di Jakarta, Ini Harapan Fachrori

Berita
  Minggu, 20 Oktober 2019 11:50 WIB

Sekda Buka Pesparani Katolik Provinsi Jambi 2019

Inforial




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.