Sabtu, 21 September 2019 04:37 WIB

Mencari Jalan ke Puncak Gunung Korintji

Reporter :
Kategori : Telusur

Gunung Kerinci. Sumber: A.L. van Hasselt en Joh. F. Snelleman. Midden Sumatra Expeditie, 1877-1879.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

20 Oktober. Para penjelajah itu masih di Loeboe Gedang. Tak mudah menemukan orang yang dapat memandu mereka mendaki ke Puncak Korintji. Akhirnya, dua orang Melayu bersedia, yaitu Nan Toenggang dan Radja Lai, dua lelaki Melayu yang sejak dulu sudah sering menjelajah dinding-dinding curam Korintji.



Kedua orang itu itu bercerita bahwa mereka sebetulnya gagal mendaki ke puncak gunung itu karena mereka melarikan diri, dikejar oleh binatang berkaki empat yang berbulu panjang. Walau demikian, mereka bersedia mencoba lagi. Konon, binatang misterius itu dulu datang mendekat dan mendengus mencium-cium bau tubuh kedua lelaki itu. Setelah itu, ajaib! Matahari seketika tertutup awan sehingga mereka tak dapat saling melihat lagi!

Kedua orang itu diutus untuk berangkat duluan, pada tanggal 21 Oktober, mencari jalan. Mereka disertai oleh 12 orang kuli. Kelompok pendahulu ini dipimpin oleh Pa Bohor, dubalang Radja di Sambah. Seperti juga Radja Lai dan Nan Toenggang, dubalang itu mendapat honor sebesar ƒ1,- per hari. Selain itu, Radja Lai dan Nan Toenggang juga mendapatkan bekal beras dan garam serta uang sebesar ƒ20,- nantinya, bila pendakian itu berhasil.

Sembilan orang kuli membawa parang dan kampak, sisanya membawa beras dan garam. Semuanya sudah membawa bekal cukup untuk perjalanan itu. Untuk pendakian itu, tim penjelajahan sudah menyiapkan 50 gantang beras yang dibeli seharga ƒ10,-. Para pemandu juga dibekali dengan senapan, beberapa peluru dan amunisi untuk 10 tembakan untuk keperluan membela diri bila terancam oleh binatang buas atau untuk berburu rusa (untuk makan).

Para penjelajah itu sendiri kembali ke Moeara Laboeh untuk menunggu kembalinya tim pendahulu itu. Mereka baru tiba kembali sepuluh hari kemudian dan membawa cerita yang mengecewakan. Setelah berjalan selama 6 hari, mereka terpaksa berbalik arah. Perjalanan tak mungkin dapat diteruskan. Awan kelabu yang bergantung rendah menghambat penglihatan. Tak lama kemudian, sebuah dinding batu yang terjal menghadang jalan. Walau cerita itu hampir saja mematahkan semangat, para penjelajah itu bertekad untuk tetap melakukan pendakian.

Sementara itu, Moeara Laboeh semakin ramai oleh kedatangan kepala-kepala adat dari XII Kota yang hendak menghadiri rapat adat yang direncanakan akan diselenggarakan pada tanggal 1 November. Dengan persetujuan para kepala itu, tim penjelajah berencana kembali ke Loeboe Gedang bersama mereka. Mantri Kopi untuk Moeara Laboeh dan Abei (yang baru saja diangkat) dan Kepala Gudang Loeboe Gedang akan berangkat bersama untuk memulai tugas di tempat baru.

Tiga belas orang kuli berangkat duluan membawa perbekalan untuk perjalanan di daerah XII Kota: antara lain 120 soeke beras (seharga ƒ 6.85) dan garam. Di Loeboe Gedang, keduanya mahal sekali—kira-kira empat kali lebih mahal daripada di Moeara Laboeh. Menurut para kepala adat, hal ini disebabkan oleh gagal panen. Mereka bahkan khawatir akan terjadi ancaman kelaparan.

Hujan turun pada tanggal 2 November. Ketika para penjelajah itu sudah siap berangkat, belum seorang pun kepala adat tampak. Menjelang pk 8.00, mereka berangkat—tanpa kepala-kepala adat itu. Kuda-kuda yang ditunggangi berjalan lancar. Di antara Ajer Angè en de Pelaké, mereka melewati dua orang kuli, yaitu  Oesoef dan Koendoeh. Mereka bertemu dengan kuli-kuli lainnya di dekat Doerian Taroeng.

Menjelang pk 16.00, mereka tiba di Loeboe Gedang. Di sini, mereka menginap lagi di rumah negari, tempat mereka menginap sebelumnya. Keesokan harinya, para kepala adat tiba. Kuli-kuli yang terakhir pun tiba pula. Mereka dapat mulai mempersiapkan perbekalan untuk penjelajahan.

Tengah hari, Radja Lai datang untuk menceritakan pengalamannya mendaki ke puncak Korintji. Pengalamannya serupa dengan yang diceritakan oleh Nan Toenggang di Moeara Laboeh. Kedua lelaki itu—Radja Lai dan Nan Toenggang—ternyata berselisih pendapat. Radja Lai menyatakan diri siap memandu dan mencari jalan, asal saja Nan Toenggang tidak ikut serta. Permintaannya disetujui dan mereka memutuskan bahwa bila cuaca membaik, Radja Lai akan segera berangkat mencari jalan. Siang itu juga, para kepala adat datang berkunjung. Pertemuan ramah-tamah itu ramai dan bermanfaat karena para tetua adat itu banyak sekali menceritakan dan menjelaskan aturan-aturan adat tua.

Para penjelajah Ekspedisi Sumatera Tengah memutuskan untuk berangkat pada tanggal 4 November ke Badar Alam, yang berjarak kira-kira 14 pal (1 pal = 1851 meter) jauhnya dari Loeboe Gedang. Barang-barang yang tidak dibawa dititipkan di rumah seorang penghoeloe soekoe dan masing-masing pencari jalan menerima selembar kain katun hitam sebagai tanda terima kasih dan pengganti upah.

Rute perjalanan mereka melewati sembilan negari, yaitu Beriang dengan lima rumah; Tangoe-akal (8 rumah), Sampoe (9 rumah); Kota Rembah (8 rumah), Boeloeh Kasab (5 rumah), Padang Ajer Dingin (15 rumah), Djapang (20 rumah), Loeboe Melaka (20 rumah dan Soengei Kampé (6 rumah).  Jalan yang ditelusuri perlahan-lahan menurun.

Setelah meninggalkan Beriang, yang sebagian warganya merupakan suku Melayu Loeboe Gedang, tak tampak lagi persawahan di kiri-kanan jalan. Hutan yang terutama terdiri dari pohon-pohon bebuahan terbentang di depan mata. Tempat ini bernama Teratak. Dulu, daerah ini merupakan permukiman. Kini hanya ada sebuah rumah saja yang tersisa di Soengei Pelabian (anak Soengei Liki). Pisang dan jagung tumbuh di halaman rumah yang berpagar rapi itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Kerinci #Korintji #Loeboe Gedang #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

  Senin, 21 Oktober 2019 12:28 WIB

Penerimaan CPNS, Merangin Dapat Jatah 243 Orang

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 11:16 WIB

Ungkapan Duka dari Gubenur Fachrori atas Wafatnya Wartawan Metro Jambi Janinal Abidin/Jay

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 11:10 WIB

Warning ASN, Wabup Mashuri: Hati-Hati Ujaran Kebencian

Berita
  Senin, 21 Oktober 2019 01:33 WIB

Hadiri Pelantikan Presiden dan Wapres di Jakarta, Ini Harapan Fachrori

Berita
  Minggu, 20 Oktober 2019 11:50 WIB

Sekda Buka Pesparani Katolik Provinsi Jambi 2019

Inforial




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.