Jumat, 04 Oktober 2019 19:03 WIB

W. F. Stutterheim

Reporter :
Kategori : Sosok

W. F. STUTTERHEIM (27 September 1892- 10 September 1942)

Oleh: Bambang Budi Utomo*

Perkembangan dunia arkeologi Indonesia tidak dapat lepas kaitannya dengan tokoh-tokoh arkeologi bangsa Belanda yang pernah malang melintang di situs-situs yang mengandung tinggalan budaya masa lampau di Nusantara, terutama di Jawa dan Sumatra. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu Nusantara masih dijajah Belanda. Keberadaan tinggalan budaya masa lampau banyak dicatat oleh para arkeolog tersebut. Bahkan, cikal bakal berdirinya Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, dirintis oleh para arkeolog Belanda tersebut Ada arkeolog yang profesional, ada yang amatir, dan ada pula yang berangkat dari kecintaannya terhadap keantikan suatu karya seni.



Dari sekian banyak yang menyatakan dirinya sebagai seorang ahli arkeologi yang tergabung dalam organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), mungkin hanya sedikit yang mengetahui siapa orang itu sebenarnya, dan apa karyanya yang “monumental”. Sebagai seorang yang memproklamirkan dirinya arkeolog, sudah seharusnya mengenal orang-orang yang berjasa tersebut, mulai dari J.L.A Brandes dari abad ke-19, sampai dengan Uka Tjandrasasmita yang pernah bertualang di Sumatra Selatan dan Jambi pada tahun 1953 bersama-sama dengan R. Soekmono, R.P. Soejono, Satyawati Suleiman, dan Boechari.

Setelah edisi sebelumnya sosok J.L.A Brandes, Nicolaas Johannes Krom dan Frederik David Kan Bosch, berikut sosok peletak dasar arkeologi di Indonesia:

 

- W.F. Stutterheim -

Sejak pertengahan tahun 1936 kepemimpinan Bosch di Oudheidkundige Dienst kemudian digantikan oleh Stutterheim. Stutterheim mulai bekerja di lembaga ini sejak tahun 1924, tetapi pada tahun 1926 ia ditugaskan untuk mendirikan dan mengepalai Algemene Middlebarre School (AMS) bagian A (setingkat Sekolah Menengah Atas jurusan Sastra Timur) di Solo. Dalam kurikulumnya, sekolah ini mencantumkan Sastra dan Sejarah Kebudayaan Indonesia sebagai mata pelajaran yang utama.

Meskipun beliau memimpin sebuah sekolah menengah, namun beliau tidak meninggalkan dunia arkeologi bahkan meningkatkan kemampuannya di bidang arkeologi. Usahanya tidak sia-sia hingga pada tahun 1936 beliau diangkat menjadi Kepala Oudheidkundige Dienst. Dalam usahanya menyelami kebudayaan Indonesia, beliau banyak bergaul dengan masyarakat Indonesia sehingga dapat menyelami pandangan orang Indonesia mengenai kebudayaannya di masa lampau. Dalam pikirannya dikemukakan bahwa kebudayaan Indonesia kuno haruslah dianggap sebagai kebudayaan Indonesia, sedangkan pengaruh kebudayaan India hanyalah sebagai tambahan. Karena itu, tidak menjadi masalah dari bagian India mana unsur kebudayaan itu datang, tetapi yang terpenting bagaimana unsur itu dapat berpadu dengan pola kebudayaan Indonesia.

Stutterheim bukan saja berjasa di dalam ilmu percandian dan kebudayaan Indonesia saja, tetapi beliau juga berjasa dalam memperhatikan keramik yang dapat dijadikan bahan kajian penelitian arkeologi. Pada tahun 1939 beliau memerintahkan penelitian keramik di Prambanan, dan pada tahun 1940 di Grobogan. Tujuan penelitiannya adalah untuk melokalisasikan Kerajaan Mda?. Dari penelitiannya itu dihasilkan suatu kesimpulan bahwa pada sekitar abad ke-9 Masehi Gunung Muria merupakan pulau tersendiri yang terpisah dari Jawa.

 

*Penulis adalah arkeolog senior. Pelbagai karya tulisnya seputar kajian arkeologi di Nusantara, termasuk Jambi dan Palembang, terbit dalam bentuk buku, prosiding konferensi dan artikel di media cetak baik lokal maupun nasional. Seri tokoh peletak dasar arkeologi Indonesia lainnya dapat dibaca di rubrik Sosok Kajanglako.com


Tag : #Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia #J.L.A Brandes #Nicolaas Johannes Krom #Frederik David Kan Bosch



Berita Terbaru

  Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak

Oase
  Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job

Berita
  Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi

Berita
  Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Jumat, 05 Juni 2020 06:59 WIB

Merawat Keragaman Budaya, Melindungi Keanekaragaman Hayati

Perspektif
  Kamis, 04 Juni 2020 21:07 WIB

Ruas Jalan di Tebo Lonsor, Fachrori: Segera Kita Perbaiki

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.