Senin, 07 Oktober 2019 13:23 WIB

Asfinawati

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dalam sebuah wawancara dengan harian The Jakarta Post, 23 Mei 2008, Asfin, begitu dia dipanggil, mengatakan tidak akan menggunakan ucapan "Assalamualaikum" – jika hal itu akan membuat perasaan tidak nyaman bagi audience-nya yang mungkin bukan beragama Islam. Agak langka hari-hari ini menemukan sikap seperti yang diperlihatkan oleh Asfin, ketika "Assalamualaikum" betapapun netral arti yang dikandung dalam kata itu, merupakan ekspresi yang bersifat keagamaan dan semestinya tidak dianggap sebagai sebuah salam yang bersifat umum, seperti halnya “selamat pagi” atau “selamat siang”.



Meskipun usianya tergolong muda, lahir di Bitung, Sulawesi Utara, tahun 1976, ia sempat tinggal di Aceh dan Bali, dua wilayah yang kental dengan tradisi keagamaannya-sebelum kemudian besar di Jakarta. Asfin tipikal anak metropolitan, menempuh sekolah di SMA 6 Jakarta yang terletak di bilangan Blok M, yang dari dulu hingga hari ini semrawut lalu lintasnya, dan sering menjadi ajang tawuran siswa di situ, kemudian kuliah di Fakultas Hukum UI, menjadikan Asfin tampaknya tumbuh sebagai anak yang dari sononya kosmopolit, sehingga terbiasa dengan perbedaan, lingkungan yang menghargai berpikir kritis dan menganggap setiap orang setara, terlepas dari latar belakang etnis, agama maupun kelas ekonomi. Kepandaiannya main piano yang konon dimiliki, melengkapi atribut dirinya sebagai “the true city girl”.

Pilihannya untuk belajar hukum, dan keputusannya untuk berkarir sebagai pengacara publik bersama LBH Jakarta, bahkan sejak mahasiswa, memberi ruang terbuka yang sangat dinamis untuk mengepakkan sayapnya sebagai anak muda yang batinnya terpanggil untuk membela mereka yang disingkirkan dan tak terlindungi oleh penegak hukum yang di negeri ini hanya melayani yang punya uang dan kekuasaan; ketika hukum menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Sebagai sebuah negara, yang katanya merupakan negara hukum, negeri ini justru tampil penuh carut marut karena tidak tegaknya hukum, “rule of law”. Hukum hanya ada di teks-teks perkuliahan dan di rak-rak mahkamah atau pengadilan, serta para“lawyers” - yang tampil necis, glamor dan menjadi bagian selebriti kelas atas.

Asfinawati, terlihat kontras di tengah-tengah koleganya yang necis itu, hampir selalu hanya memakai kaos oblong, celana panjang warna gelap, membungkus tubuhnya yang tergolong kecil; namun bagi orang yang mengenalnya, menyimpan enerji yang terekspresikan melalui artikulasi komunikasi yang lugas, tanpa basabasi namun berisi pikiran dan gagasan yang jernih tentang perlunya menyuarakan kebenaran, bahkan untuk hal-hal yang di negeri ini masih dianggap tabu, dan untuk sebagian besar orang, takut mengatakannya.

Asfinawati tahu bahwa dia memiliki kawan-kawan seiring yang memiliki aspirasi dan idealisme yang sama untuk mengupayakan keadilan bagi mereka yang selama ini tersisihkan: kaum buruh, perempuan, kelompok minoritas, mereka yang dianggap sesat, korban 1965, petani yang dirampas tanahnya, komunitas adat yang tak diakui wilayah adatnya; tapi juga para pencari keadilan lainnya yang terlunta-lunta, ditelantarkan oleh negara.

Ket: Asfinawati. Sumber: suara.com

Ketika hukum dan politik tak jelas lagi batas-batasnya, yang diperlukan mungkin memang sebuah suara yang berani menyampaikan kebenaran dan apa yang menjadi keprihatinan orang banyak. Ketika hukum telah dilumuri oleh dogma-dogma agama yang dibutuhkan barangkali memang sebuah "moral courage" untuk berbicara atas nama kemanusiaan, penderitaan dan ketidakberdayaan  manusia (human suffering), yang terkungkung dogma yang menutup cakrawala pencerahan hati nurani. Sebuah kewarasan publik harus terus diupayakan, meskipun tantangan dan resiko politik yang dihadapi sangat besar. Almarhum Munir barangkali adalah contoh terbaik dari negeri ini, betapa mahal harga yang harus dibayar untuk terus mengupayakan sebuah kewarasan publik di tengah rimba belantara kekuasaan, yang telah membuat hukum menjadi politik dan dogma agama menjadi pedoman buta para penganutnya.

Pengalamannya sebagai direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta (2006-2009) dan saat ini dipercaya sebagai Ketua YLBHI (2017-2021) menjadi bukti konsistensi komitmennya pada sebuah idealisme perlunya hukum ditegakkan bagi mereka yang tercampakkan dan diperlakukan secara tidak adil. Gedung yang cukup megah di Jl. Diponegoro 82 Menteng Jakarta tidak saja sejak awal telah menjadi rumah berteduh bagi para pencari keadilan, namun juga menjadi simbol dan saksi sejarah masih adanya perlawanan yang menyuarakan kemerdekaan, di tengah intimidasi, represi dan persekusi politik, seringkali oleh Negara terhadap warga negaranya sendiri.

Hari-hari ini, ketika kepercayaan kepada otoritas Negara begitu rendah, maka parlemen tidak mencerminkan sila ke-4 pancasila – “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwakilan/permusyawaratan – ketika ketidakadilan dalam situasi darurat seperti sekarang disuarakan di jalan-jalan oleh anak muda, mahasiswa, pelajar, yang memang menjadi pemilik sah masa depan negeri ini, Asfinawati dan kolega-koleganya yang tergabung dalam berbagai jaringan masyarakat sipil (civil society), tampil bersama  gelegak arus pergolakan politik itu. Adagium lama yang kedengaran klise, "speak truth to power" tampil otentik dalam diri Asfinawati.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Lembaga Bantuan Hukum #YLBHI #Hukum #Demokrasi



Berita Terbaru

  Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak

Oase
  Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job

Berita
  Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi

Berita
  Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Jumat, 05 Juni 2020 06:59 WIB

Merawat Keragaman Budaya, Melindungi Keanekaragaman Hayati

Perspektif
  Kamis, 04 Juni 2020 21:07 WIB

Ruas Jalan di Tebo Lonsor, Fachrori: Segera Kita Perbaiki

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.