Minggu, 13 Oktober 2019 04:54 WIB

Patikan dan Abei

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Moera Laboe. Sumber foto: Midden Sumatra Expeditie, 1877.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Menjelang pk 17.00, para kuli kembali dari Loeboe Gedang membawa beras yang dulu ditinggal di sana. Ternyata, dua orang di antaranya, Malim Saidi dan Radja Boedjang, tidak ikut kembali. Mereka melarikan diri. Baru kali inilah hal itu terjadi. Selama ini, para kuli yang dipekerjakan oleh tim penjelajahan tampak baik-baik saja. Karena itu, minggatnya kedua kuli itu mengherankan van Hasselt dan rekan-rekannya.



Malam itu, Radja datang untuk meminta maaf atas penerimaan yang kurang ramah di rumahnya pagi itu. Radja itu merupakan lelaki sederhana yang tidak terbiasa bergaul dengan orang Eropa. Rupanya, ia mengira bahwa bukan dirinya yang merupakan penghoeloe kepala, melainkan orang lain, yaitu salah satu orang gedangnya.

Salah paham ini aneh, tetapi tidak terlalu mengherankan. Van Hasselt dan tim penjelajahan menjelaskan banyak hal yang berkait dengan pengangkatan itu kepadanya (Catatan FA: apa saja yang dijelaskan tidak diuraikan lebih lanjut di dalam catatan laporan penjelajahan ini).

Radja itu juga bertanya apakah pemerintah Hindia-Belanda yang menentukan bahwa penghoeloe kepala dan penghoeloe soekoe menerima ƒ0,50 untuk sapi dan ƒ1,- untuk kerbau yang dijual di nagari? Dan apakah pemerintah Hindia-Belanda juga menentukan bahwa kedua kepala adat itu menerima ƒ1,- untuk setiap binatang yang disembelih? Dan, bila ia sendiri menjabat sebagai penghoeloe kepala, apakah ia juga berhak atas uang itu?

Pada tanggal 7 November, pagi-pagi sekali, barang-barang yang harus dibawa para kuli sudah siap. Kuda-kuda pun sudah siap. Mereka berangkat menuju Abei. Pada awalnya, jalan yang diikuti menelusuri tepian kanan Soengei Sangir, melewati beberapa sawah di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri, tampak daerah berawa-rawa. Tanah di daerah itu tampak kering. Kubangan-kubangan yang biasanya basah berlumpur, tempat kerbau mendinginkan badan, pun tampak kering. Tak lama kemudian, deretan gunung-gunung itu ditinggal dan jalan itu melewati dataran yang penuh dengan ladang. Di sebelah kanannya, di seberang kali kecil--Soengei Patikam—tampak tiga buah kandang kerbau dan kerbau-kerbaunya yang merumput tak jauh dari situ.

Dusun Patikan, yang hanya memiliki beberapa buah rumah saja, terletak di tepian sungai, di tengah-tengah sawah dan ladang yang ditanami padi dan jagung. Penghoeloe Kepala tinggal di negari ini. Lelaki itu dan isterinya berdiri di dekat sebuah ladang, menunggu kedatangan tim penjelajah itu. Ketika rombongan penjelajahan itu tampak di mata, beberapa orang anak dan tiga orang perempuan muda, ikut berdiri di dekat Penghoeloe Kepala dan isterinya.

Mereka menyambut tetamu mereka dengan ramah. Isteri Penghoeloe Kepala bercerita bahwa dulu, ia pernah menjadi isteri Kepala Laras Loeboe Tarab. Suaminya itu menjadi korban gajah yang mengamuk dan kemudian meninggal dunia. Ketiga perempuan muda yang tadi ikut menyambut kedatangan para tamu merupakan anak-anak gadisnya dari perkawinannya yang pertama. Isteri Penghoeloe Kepala mengenakan sarung dan baju, sementara perempuan-perempuan lainnya hanya mengenakan sarung dan selendang yang diselempangkan di bahu. Gelang-gelang--enam atau tujuh untaian manik-manik merah—melingkari pergelangan tangan mereka.

Tak terasa, tiba waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, kuda hitam yang ditunggangi Veth tak tampak! Ke mana kuda itu? Setelah dicari ke sana-kemari, kuda itu akhirnya diketemukan. Binatang itu rupanya meninggalkan kawanannya dan berjalan pulang! Ia ingin kembali ke Bedar Alam. Setelah Veth menaiki kuda hitam itu, mereka memohon diri dari isteri Penghoeloe Kepala. Suaminya pun pamit untuk menemani rombongan itu sebentar.

Di kejauhan tampak beberapa bukit kapur. Mereka mendekati Soengei Balé. Di tempat ini, mereka mulai memasuki hutan. Di sini pula mereka berpisah dengan Penghoeloe Kepala yang ingin kembali ke ladangnya. Sebelum ia meninggalkan rombongan itu, ia meminta seorang lelaki—yang kebetulan hendak ke Moeara Ekoer—untuk menemani rombongan itu.

Seekor ayam jago aduan terapit di bawah lengan lelaki itu. Beberapa kali, ayam itu berkokok dengan suara keras. Unggas itu tampaknya lebih garang daripada pemiliknya karena lelaki itu berjalan beberapa langkah di belakang penjelajah-penjelajah Belanda yang ditemaninya. Barangkali, hal ini dilakukannya karena dianggapnya lebih sopan. Tambahan pula, ia rupanya agak takut pada kuda.

Mereka mulai mendaki Boekit Singapoejen. Di sebelah kanan, tampak sebuah bukit yang lebih tinggi lagi, yaitu Boekit Gedang. Kedua bukit itu tertutup belantara. Hutan-hutannya ditumbuhi oleh kajoe kampé, jenis pohon dengan kayu berat yang tidak digunakan untuk apa pun. Setidak-tidaknya itu yang disampaikan oleh lelaki yang menemani perjalanan mereka. Suara cicada, sejenis jangkrik, terdengar ribut di dalam hutan. Suara itu sudah sering didengar, akan tetapi mereka belum berhasil menangkap serangga itu untuk diawetkan.

Pk. 09.30, mereka tiba di Soengei Nila. Seperempat jam kemudian, mereka menyeberangi Soengei Teloepang, di tempat airnya menyatu  dengan aliran Soengei Sangir. Setelah melewati Moeara Teloepang, lembah yang sedang dilewati mulai melebar dan menjadi lebih datar. Di depan mata, tampak tepian kiri Telaki dengan sawah dan ladang di kiri dan kanannya. Dua warna menarik perhatian di sini: warna hijau tua tanaman padi dan atap rumah-rumah Telaki yang berwarna kuning.

Satu bukit lagi dilewati dan tampaklah sawah-sawah yang dimiliki oleh warga Moeara Ekoer. Tak jauh dari sawah-sawah itu, terlihat sekitar empat belas buah rumah di dusun itu. Untuk masuk ke Moeara Ekoer, mereka harus membuka sebuah pintu pagar yang berat. Entah mengapa dusun itu dikelilingi pagar kokoh itu karena tak ada tanaman yang harus dilindungi di halaman rumah-rumah yang tampak terlantar itu.

Atap rumah Radja bertanduk empat, yang masing-masing ditutup dengan periuk terbalik. Banyak pemilik rumah memiliki ayam aduan yang bertengger di tongkat-tongkat khusus untuknya atau di dalam keranjang-keranjang yang digantungkan di bawah atap. Dalam perjalanan kali ini, tim penjelajahan itu banyak melihat ayam aduan—jauh lebih banyak dibandingkan dengan di daerah lain. Di bawah tempat ayam-ayam itu, terpasang dedaunan pandan (hutan) yang diperuncing supaya unggas-unggas itu terlindung dari serangan musang.

Di batas dusun, di bawah sebatang pohon ambatjang, para kuli menurunkan dan meletakkan barang-barang bawaan mereka untuk beristirahat sementara penjelajah-penjelajah Belanda itu melihat-lihat suasana di Moeara Ekoer. Perjalanan diteruskan ke dataran yang dipenuhi rumput dan ilalang yang mengitari dusun itu. Di sebelah kiri masih tampak bukit-bukit kapur dan aliran Soengei Sangir, di sebelah kanan terbentang ladang-ladang. Di sini, Soengei Ekoer berlebar sekitar 20 meter. Pada waktu surut, seperti sekarang ini, ketinggian airnya tak sampai satu meter. Membawa kuda-kuda menyeberanginya tidak sulit. Namun, betapa sukarnya mendaki tepian sungai yang sangat curam.

Bentangan ilalang yang harus dilewati cukup luas dan seolah-olah tanpa akhir. Akhirnya, ilalang yang membosankan itu digantikan oleh bukit dengan hutan pepohonan rendah dengan tanah lembab seperti rawa-rawa. Masih tampak jejak jalan di sini, tetapi keadaannya jelek dan sulit dilalui. Banyak kubangan becek berlumpur penuh air tergenang yang perlahan mencari jalan ke Soengei Ekoer. Semua kubangan itu harus dilewati sebelum mereka melihat ladang pertama milik penduduk Abei.

Di tengah-tengah ladang itu, tampak sebuah pondok sederhana, di atas tiang, untuk penjaga ladang, yaitu seorang perempuan dan dua orang anak. Dengan wajah ingin tahu, ketiganya mengawasi kafilah penjelajahan itu berlalu. Tak jauh dari ladang, dua orang lelaki mendekat: Penghoeloe Kepala Abei dan salah seorang warganya. Mereka menyambut kedatangan tetamu asing itu dengan kelapa muda yang dijinjing di tangan.

Penghoeloe Kepala Abei adalah lelaki Melayu yang agak tua. Sikapnya sangat santun. Ia termasuk salah seorang kepala adat Abei yang datang untuk mengakui kedaulatan dan tunduk pada Komandan Militer di Gasing. Ia ramah dan banyak berbicara. Ia mengangkat tangan menunjukkan tempat-tempat yang dulunya ladang, tetapi kini sudah kembali ditumbuhi semak-belukar dan ilalang. Boekit Taboeh dan Boekit Boengkoei (yang tertinggi) terdapat di sebelah kanan dan di sebelah kiri, di seberang Soengei Sangir, terdapat Goenoeng Selasi dan Boekit Oelam.

Sambil terus berjalan dan mengobrol, mereka menyeberangi Soengei Tiak yang kecil dan dangkal. Mereka sudah di dekat dusun yang dikelilingi oleh padang ilalang. Di sebelah barat, dusun itu mendapatkan air dari Soengei Sangir. Di sisi-sisi lainnya, dusun itu dilingkungi oleh saluran-saluran air dan pematang pembatas.

Setiap rumah di Abei berpagar dengan halaman yang ditanami pisang, kelapa dan pohon-pohon buah lainnya. Pk. 11.30, mereka melewati mesjid yang tampak lebih terawat daripada rumah-rumah dan lumbung-lumbung padi di dusun itu. Sebuah alun-alun terdapat di depan rumah negari. Banyak orang di situ: Toeankoe, Mantri, Radja Moeda dan sejumlah lelaki dan pemuda ramai menyambut kedatangan mereka. Orang-orang itu menawarkan kelapa dan rokok kepada para tetamu itu. Di dusun ini, para penjelajah itu betul-betul tidak perlu khawatir akan kesepian ditelantarkan orang Abei!

Sambil mengobrol, Radja Moeda menyampaikan bahwa ia ingin sekali memiliki kain pemberian tim penjelajahan untuk tutup kepalanya. Dengan senang hati, keinginannya dikabulkan. Van Hasselt membuka peti penyimpanan kain. Untung saja, peti itu dibuka! Semua kain di dalam peti itu basah kuyup! Rupanya ketika menyeberangi Soengei Ekoer, Bagindo Sati—yang membopong peti itu—tergelincir dan jatuh ke dalam sungai!

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Budaya Jambi



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.