Sabtu, 19 Oktober 2019 03:58 WIB

Pemburu Burung Dara

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Tari Tangan di Sumatra. Midden Sumatra Expeditie 1877-1879.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Van Hasselt dan timnya berjalan-jalan berkeliling dusun atau kota itu, bersama Toeankoe dan pamannya, Radja Moeda. Lelaki terakhir itu adalah saudara lelaki Radja tua yang kini tidak lagi duduk di dalam dewan (adat) dan sudah jarang muncul di publik. Kedua lelaki tuan rumah itu tampak senang bahwa cerita-cerita mereka mengenai Abei didengarkan dengan penuh perhatian oleh tetamu itu.



Malam itu, para kepala adat setempat bertandang. Mereka banyak mengeluhkan kekurangan pangan. Tak seorang pun masih menyimpan padi di lumbungnya. Tanaman biji-bijian gosong oleh terik matahari dan kemarau panjang membuat tanah kerontang padahal orang Abei tak banyak memiliki sawah.

Sebetulnya, kekeringan itu dapat diatasi—menurut pandangan para penjelajah itu. Namun, memang diperlukan usaha dan upaya dari penduduk dusun. Misalnya, mereka dapat membuat dan menggunakan kincir untuk mengairi ladang dan sawah. Soengei Sangir, yang hanya memiliki kedalaman satu meter di sini, masih dapat dilayari oleh biduk dan biloengkang karena arusnya deras.

Sungai itu hanya berjarak 20 meter dari rumah nagari. Kalau saja warga dusun itu berinisiatif melakukan sesuatu dengan air sungai itu, tentunya lahan pertanian mereka takkan kerontang. Namun, ada alasan mengenai tak ada upaya melakukan hal itu: sebagian besar warga lelaki telah meninggalkan Abei untuk mencari penghidupan di Poelau Poendjoeng atau di tempat lain.

Pada tanggal 8 November, pagi-pagi sekali, setelah menerima uang honor, enam orang kuli dan Mandor Kete diutus pergi ke Moeara Laboeh untuk membeli beras. Enam orang kuli lainnya kembali ke Bedar Alam untuk mengambil sisa perbekalan di sana.

Abei merupakan dusun dengan rumah-rumah berdinding papan atau kulit kayu. Rumah-rumah itu tampaknya tua dan kurang terawat. Rumah Radja, rumah keluarga kepala laras yang sedang menjabat, dihiasi dengan ukiran dan beberapa bagiannya dicat, tetapi dekorasi rumah itu tampaknya sudah tua. Ada sebuah andjoeng, tetapi tanduknya telah tiada. Beberapa pohon kopi ditanami di halamannya. Sejauh ini, yang tampaknya dimanfaatkan hanyalah daun kopi saja.

Di seluruh Abei, hanya ada sebuah taboeh yang digantungkan di bawah rumah Penghoeloe Kepala. Kemiskinan yang tampak di dalam dusun, tercermin juga di dalam rumah-rumah itu. Sebagian besar rumah itu tidak memiliki kamar-kamar terpisah; perabot rumah tangganya sedikit dan benda-benda mewah hampir tak tampak sama sekali.

Bersama dengan Penghoeloe Kepala, yang beristerikan ibunda Kepala Laras, van Hasselt dan rekan-rekannya mampir ke berbagai rumah untuk minum kopi dan makan gelamei, yaitu semacam kue yang dibuat dari tepung sipoeloet. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, tak banyak rumah-tangga di Abei yang memiliki barang-barang pecah-belah.

Yang mengenakan baju hanyalah kaum perempuan yang tua saja; kaum perempuan yang muda hanya melilit tubuhnya dengan secarik sarung. Anak-anak tidak berpakaian sama sekali. Kunjungan dari rumah ke rumah itu memberikan kesempatan untuk mengamati keseharian rumah tangga di dusun. Bila seorang ibu muda berkesempatan untuk duduk, segera saja anak-anaknya yang masih kecil mendekat untuk menyusu. Kaum perempuan Abei berperawakan bagus dan gadis-gadisnya berwajah cantik. Kecantikan itu tak bertahan lama karena pada pernikahan pada usia muda dan kerja keras membuat mereka cepat tampak tua dan tidak menarik lagi.

Hubungan yang santai di antara ibu dan anak juga tampak dalam hubungan warga dusun dengan para kepala adat. Sama sekali tak tampak adanya sikap pemberian penghormatan yang berlebih kepada para kepala adat itu dan memang para petinggi dusun itu pun tidak berlaku seolah-olah berkedudukan sosial yang lebih tinggi daripada warganya. Di sini, kepala laras mengurus dan membersihkan sendiri kudanya.

Ikan segar yang dipancing oleh Radja Moeda dan warga dusun tersedia di meja makan. Menangkap ikan—memoetjoek—dilakukan dengan cara yang sama dengan di Moeara Laboeh. Akan tetapi, bila di sana orang menyelam untuk mengejar ikan di dalam sungai, di Abei, ikan-ikan tu ditangkap dengan menggunakan perangkap besar. Ikan samak yang ditangkap dan diberikan kepada tim penjelajah merupakan ikan besar yang beratnya 9 kilogram. Sepotong saja sudah cukup untuk membuat perut kenyang.

Aneka burung--sejenis burung dara, pagam, balam dan burung ketitiran yang mungil—banyak sekali. Suatu hari, ketika van Hasselt siang-siang pergi melihat orang menangkap ikan, ia melihat seekor burung dara. Dalam perkiraannya, burung itu dapat ditembaknya dengan jitu. Sambil membidik, ia terus bersijingkat mendekat. Konsentrasinya penuh ditumpahkan ke burung dara itu sehingga ia tak lagi memperhatikan ke mana kakinya melangkah. Kakinya terantuk dan ia jatuh tersungkur di rerumpun djelatang! Bila tanaman berdaun lebar itu tersentuh, kulit akan langsung terasa perih terbakar.

Van Hasselt melenguh dan teraduh-aduh bangkit dari tengah-tengah jelatang itu. Tak ayal, rasa pedas di kulitnya menjadi bebintik putih berpinggiran merah. Kakinya membengkak dengan bintik-bintik itu. Kakinya itu seperti ditusuk-tusuk dan ia mulai demam. Semua orang merasa kasihan padanya dan sibuk mencarikan daoen setan untuk mengurangi rasa sakit itu. Segala kearifan pengobatan dan ramuan tradisional diterapkan untuk menyembuhkannya. Seseorang membawakan keris keramat yang bergagang akar bahar. Gagang itu harus diusapkan di bagian-bagian tubuh yang terasa sakit. Orang lain datang untuk mengusap kaki van Hasselt dengan minyak yang dioleskan di daun pisang. Orang lain lagi membawakannya air susu ibu yang dibungkus di daun. Pun itu harus dioleskan di kakinya. Ada pula yang datang membawa ramuan santan dan minyak untuk memijatnya; dan ada yang mengusap berintik bernanah itu dengan getah kemoemoe, yaitu tanaman berdaun lebar yang tumbuh di rawa-rawa. Yang terakhir memamah arang sampai halus dan meletakkan adonan yang sudah dikunyahnya itu ke tempat-tempat yang sakit di kaki van Hasselt.

Dari semua itu, yang agak membantu mengurangi rasa sakitnya hanyalah bantuan kelima, yaitu getah kemoemoe. Namun, getah itu tidak berhasil menurunkan suhu badannya. Malam itu, demam membuat pemburu burung dara itu tak dapat memicingkan mata. Keesokan harinya, ia masih kesakitan. Segala obat-obatan yang kemaren diberikan kepadanya, diulangi lagi. Sia-sia saja.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah #Jambi



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.