Sabtu, 19 Oktober 2019 05:15 WIB

Sakti Alam Kerinci, dari Catatan Menuju Aksi Pemajuan Kebudayaan

Reporter :
Kategori : Jejak

Danau Kerinci

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*

“Sakti Alam Kerinci”, selain alamnya bertuah, bentang lahannya diibaratkan bak sepenggal tanah surga yang jatuh ke bumi. Korinjti atau Kerinci merupakan satu toponimi yang merujuk pada gunung volcano aktif (3.805 mdpl) di dataran tinggi Jambi, yang namanya termahsyur sejak masa kolonial Belanda.



Setidaknya, ekspedisi ke dataran tinggi Kerinci pernah dilakukan oleh Perhimpunan Ilmu Bumi Kerajaan Belanda atau Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap (KNAG) tahun 1877-1879 yang tercatat dalam laporan Pj. Veth “Reizen en Onderzoekingen der Sumatera-Expeditie, uitgerust door het Aardrijskundig Genootschap”. Masa-masa awal Veth dan saintis eropa menapakkan langkahnya di Kerinci, bukan semata untuk pemetaan bentang lahan dan jalur pendakian menuju puncak Kerinci, tetapi juga mencatat tinggalan kebudayaan berupa tangible (bendawi) dan intangible (non-benda).

Tinggalan budaya artefaktual (tangible)  yang banyak tersebar berupa batuan berukuran besar yang telah dibentuk sedemikian rupa dengan hiasan motif tertentu, pada bagian permukaannya yang oleh para peneliti kolonial disebut sebagai “sisa peradaban zaman batu purba”, yang kini oleh para arkeolog disebut kebudayaan “megalitik”.

Jejak kebudayaan megalitik di dataran tinggi Kerinci tidak hanya menjadi bukti bentangan waktu yang berlalu di wilayah ini, tetapi juga menjadi magnet penarik ilmuwan dan para arkeolog untuk merekam paradaban purba itu.

Selain peneliti Eropa di masa kolonial (Pj Veth, 1877. A. Tobler, 1913. Zwierzycki, 1926), para peneliti Indonesia dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Sumatera Selatan juga menyusun kumpulan catatan penelitian di wilayah Kerinci (Bagyo Prasetyo, Tri Marhaeni).

Para peneliti arkeologi Kerinci ini hampir menjejakkan kakinya di segala sudut situs megalit Kerinci, namun waktu seoalah tak mau kalah dan ingin membuktikan betapa itu semua belum tuntas mengungkap simpul peradaban dataran tinggi Kerinci yang amat kaya.

Kepingan-kepingan catatan hasil penelitian beberapa telah dibukukan, antara lain, Pernak Pernik Megalitik Nusantara oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kerincimu Kerinciku oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan. Tentu karya ini belum dapat dikatakan memadai untuk mengungkapkan panjangnya perjalanan peradaban Kerinci. Masih banyak ruang kosong sekaligus daya tarik bagi para peneliti, sebut saja, seperti peneliti asing bernama Dominik Bonatzs, yang pada kurun waktu 2003-2004 melakukan ekskavasi arkeologi di beberapa situs di Kerinci (situs Pondok, situs Lolo, dan lain sebagainya). Sayangnya, laporan hasil penelitian dan ekskavasi ini belum banyak diketahui masyarakat Kerinci.

Dari beragam pendapat, muncul satu asumsi mendasar atas berakhirnya kebudayaan megalitik Kerinci, yakni besar kemungkinan diakibatkan terjadinya peralihan kepercayaan dari animisme ke agama Islam. Asumsi ini lalu diperkuat dengan keberadaan Masjid-masjid kuno di Lempur Mudik, Lempur Tengah dan Pondok Tinggi, yang secara penanggalan relatif dibangun pada abad ke 17-18 Masehi. Hampir serupa, demikian juga yang menjadi penyebab meredupnya penelitian arkeologi di Kerinci, disebabkan ditinggalkan para penelitinya, yaitu Prof. Bagyo Prasetyo dan Tri Marheini.

Balai Arkeologi Sumatera Selatan terakhir melakukan penelitian prasejarah/megalitik tahun 2015. Praktis empat tahun setelahnya para arkeolog tidak lagi intensif hadir ke dataran tinggi Kerinci.

Bertolak dari hal itu, program studi arkeologi FIB Universitas Jambi mengambil inisiatif untuk mengisinya, dimulai dari tahun 2017 hingga kini di tahun 2019. Kegiatan awal penelitian berupa survei terkait potensi arkeologi yang tersebar di dataran tinggi Kerinci, lalu di tahun 2018 beranjak mendalami arsitektur dan motif hias masjid-masjid kuno di Kerinci.

Penelitian ini terus berlanjut hingga sekarang, yakni dengan melakukan empat kegiatan penelitian bersama dengan mahasiswa arkeologi; 1) penelitian peradaban megalit Kerinci, 2) ekskavasi arkeologi di Desa Pulau Sangkar, 3) Perencanaan Konsep Museum Kerinci, dan 4) Perancangan konsep Wisata Terpadu wilayah Kerinci.

Empat sub-topik penelitian di tahun 2019 ini bertujuan mengungkapkan dan mereka ulang peradaban lampau, sedang penelitian konsep museum dan rancangan wisata terpadu mewakili persoalan dan kebutuhan pemajuan kebudayaan Kerinci masa kini.

Penekanan empat poin di atas, tentu mengacu pada metodologi arkeologi serta Undang-Undang No,11 Tahun 2010 tentang Cagar budaya dan Undang-undang No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kedua payung hukum ini mengamanatkan agar dilakukan kajian konseptual dan tindakan aktual, yang nyata dalam rangka pelestarain dan pemajuan kebudayaan bangsa, khususnya Kerinci.

Setakat hal itu, pada 9 Oktober 2019, di Ruang Pola lantai dua Kantor Bupati Kerinci, dengan dihadiri unsur pemerintah daerah, guru-guru sejarah, pelajar, dan komunitas, tim peneliti arkeologi FIB Universitas Jambi, memaparkan bahwa titik awal peradaban Kerinci bukanlah dari kebudayaan megalit, melainkan justru bermula jauh ke masa mesolitik atau preneoloitik, dimana ditandai dengan temuan alat serpih berbahan obsidian, rijang, serta beliung persegi di kotak ekskavasi situs Pulau Sanggkar.

Ket: Kuliah Kerja Lapangan Metode Arkeologi. Sumber: Didi AB.

Selain itu, teori yang mengasumsikan megalitik senantiasa dalam poisisi tegak dan berorietasi arah hadap ke gunung tidak selalu mutlak, sebab di Kerinci batu tunggal/monilitnya diposisikan rebah dan memiliki orientasi arah hadap yang beragam, atau tidak selalu menghadap ke gunung, sebagaimana yang senantiasa disebutkan dalam teori-teori megalit.

Terkait motif hias, sifatnya berkesinambungan, sehingga beberapa motif hias pada megalit masih dijumpai pada motif hias pada masjid kuno Lempur dan Pondok Tinggi, dan terus berlanjut hingga ke motif ukiran pada rumah-rumah tradisional Kerinci dan Melayu Jambi.

Besar kemungkinan, jika terus dilakukan penelitian berkesinambungan, maka asumsi yang beranggapan Kerinci sebagai pelatak dasar kebudayaan melayu kuno akan segera terbukti. Tentunya jalan panjang peradaban itu harus disusun secara menarik dalam suatu wadah dan media bernama museum.

Meskipun di Kerinci telah dibangun gedung museum Kerinci yang berlokasi di tepian danau Kerinci, tetapi gedung itu lebih direkomendasikan sebagai pusat informasi kebudayaan dan pariwisata Kerinci ketimbang museum tertutup dengan model umum. Untuk Kerinci yang kaya tinggalan artefak dan tradisi adat istiadat yang masih hidup, sebaiknya diterapkan konsep ecomuseum; suatu konsep yang awalnya ditawarkan oleh museolog Prancis bernama Henri Riviere dan Huegue de Varine.

Ecomuseum menawarkan konsep museum tanpa dinding, dimana warisan cagar budaya dan budaya tetap dibiarkan pada tempat aslinya, sehingga pengunjung dapat merasakan suasana asli dan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam. Selain itu, ekomuseum menekankan adanya pemberdayaan masyarakat lokal melalui keterlibatannya mengelola dan memanfaatkan objek koleksi ekomusuem, dimana tradisi budaya lokal akan dikombinasikan dengan artefak yang ada dalam satu rangkaian yang utuh menyeluruh.

Catatan lapangan ini tidak berujung pada titik, justru yang hadir adalah tanda tanya, yang harus kembali diteliti di tahun mendatang, sehingga asumsi bahwa “Kerinci adalah kunci untuk mencari akar kebudayaan Melayu” perlahan akan semakin terungkap. Melayu yang tua, Melayu yang mendunia, Melayu yang dalam catatan It-Sing di tahun 634 Masehi, yang lantas oleh banyak pakar di satu sisi diinterpretasikan sebagai nama sebuah kerajaan, dan di sisi lain sebagai sekelompok masyarakat yang bermukim di dataran rendah.

Mari kita cari jawabannya di Kerinci, di antara gunung, batu silindrik, Masjid kuno, dan catatan-catatan lapangan. Tentunya ajakan ini berlaku untuk semua, terutama pemerintah daerah Kerinci maupun pemerintah Provinsi Jambi pada bidang terkait, seperti Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Pendidikan. Karena selain dukungan penelitian atau kajian dari para ahli, komunitas dan masyarakat, kebijakan dan dukungan regulasi pemerintah daerah sangat menentukan arah pembangunan kebudayaan Kerinci ke depan.

*Ketua Program Studi Arkeologi FIB Universitas Jambi.


Tag : #Sakti Alam Kerinci #KNAG #Kebudayaan Megalitik #Ekomuseum



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.