Rabu, 23 Oktober 2019 11:26 WIB

Nurcholis Madjid

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Suatu kali, Goenawan Mohamad, mengatakan intelektual Indonesia pasca tahun 1970an yang paling banyak berasal dari kalangan Islam. Sampai hari ini, di antara intektual Islam yang banyak itu, tampaknya masih Nurcholis Madjid yang paling dalam sekaligus luas wawasan pemikirannya. Tumbuh pada awal 1970an pasca tragedi politik 1965, sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Nurcholis Madjid dalam waktu cepat segera dikenal sebagai tokoh muda yang menonjol dan cemerlang pemikirannya.



Lulusan pondok pesantren modern Gontor di Ponorogo dan alumni IAIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, memberi legitimasi tersendiri bagi Ketua HMI ini untuk mulai mengembangkan sayapnya di ruang publik baru bersamaan waktunya tatkala rezim Suharto sedang menata struktur politiknya.

Sumbangan pemikiran Nurcholis muda dalam pembaharuan pemikiran Islam sudah terlihat dari ketajamannya dalam mengemukakan ide-ide segar, yang memang dibutuhkan oleh sebuah masa ketika kevakuman politik sangat dirasakan. Awal tahun 1970an adalah sebuah zaman ketika guncangan politik 1965 masih kuat imbasnya dan masyarakat belum sepenuhnya sadar apa yang sebenarnya terjadi.

Posisinya sebagai Ketua HMI sebuah organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang dekat sekaligus berjarak dengan pusat kekuasaan yang didominasi oleh militer dan teknokrasi, memberikan kesempatan bagi Nurcholis Madjid muda untuk memainkan peran politik sekaligus menawarkan konsepsi-konsepsinya yang tidak jarang dianggap kontroversial di tengah kemapanan pemikiran tokoh-tokoh Islam yang menjadi seniornya.

Ket: Cendekiawan muslim, Nurcholis Madjid.

Pada tahun 1971, sebagai Ketua HMI, Nurcholis memberikan pidato di TIM (Taman Ismail Marzuki), sebuah ruang publik baru di ibukota yang dibangun oleh Ali Sadikin, seorang gubernur yang sangat progresif. Saat itu, TIM yang dimaksudkan sebagai tempat untuk menampilkan karya anak bangsa dalam berbagai aspek kebudayaan, tidak hanya karya seni, tetapi juga pemikiran dan gagasan di berbagai segi kehidupan yang saat itu sedang memasuki babak yang baru.

Ada semacam eforia dalam masyarakat yang baru melewati sebuah "political upheaval" dan berkembang semacam perasaan "triumphanth" di kalangan Islam ketika rival bebuyutannya, golongan komunis, terlibas habis. Ketika dirasakan ada kevakuman ideologis dalam memasuki babak yang baru, Nurcholis Madjid muda, seperti terlahir dan terpanggil untuk mengisi kevakuman itu.

Pidatonya di TIM yang berjudul "Keharusan pembaharuan pemikiran Islam di tengah masalah integrasi umat", segera menyentak perhatian publik. Nada polemis dalam pidato yang bisa dianggap sebagai tonggak baru pemikiran Islam Indonesia modern, selain tulisan-tulisannya yang tersebar luas, segera mengundang respons dan reaksi dari berbagai kalangan, terutama dari komunitas Islam sendiri.

Tokoh Islam sepuh seperti Natsir, Hamka dan Rasjidi, yang merupakan panutan Islam tingkat nasional, terpancing untuk memberikan komentar terhadap lontaran gagasan-gagasan keislaman yang diartikulasikan dengan jernih oleh Nurcholis Madjid yang saat itu masih berusia 30an.

Beberapa jargon seperti "Islam Yes, Politik No", "Sekularisasi bukan sekularisme",  adalah frase-frase yang merupakan beberapa nada polemis dan gaya retoris dari Nurcholis Madjid, yang tak pelak lagi mengguncang jagad pemikiran Islam dan politik di Indonesia. Islam yang memiliki tradisi pemikiran yang panjang, oleh Nurcholis  Madjid di tafsir ulang secara rasional dan ditempatkan dalam perspektif kebangsaan dan keindonesiaan yang baru, melampaui pemikiran Islam yang ketika itu seolah-olah terhenti dalam eforia kemenangan pasca tragedi politik 1965.

Nurholis Madjid, pemikir Islam modern yang berbeda dengan banyak koleganya, yang memilih menjadi politisi ketika politik berada dalam fase kemandulannya di bawah rezim militer-teknokrat Orde-Baru Suharto. Menjadi PNS sebagai staf peneliti Leknas-LIPI dan melanjutkan studinya di Universitas Chicago hampir berbarengan waktunya dengan Buya Syafii Maarif.

Memilih topik pemikiran Ibnu Taimiyah, filsul Islam yang dianggap kontroversial sebagai tesis doktornya dengan pembimbing Prof. Fazlur Rahman, memperlihatkan kehausannya untuk terus menggali kekayaan khazanah pemikiran Islam klasik. Mendirikan Yayasan Paramadina bersama sahabat-sahabatnya, sudah tak terhitung lagi banyaknya buku yang ditulisnya,  di samping kader-kader muda yang sekarang menjadi penerusnya, seperti Budi Munawar Rahman dan Komaruddin Hidayat.

Hari-hari ini ketika Islam konservatif semakin memenuhi ruang-ruang publik dan bahkan bilik-bilik istana, sosok Nurholis Madjid yang membawa keteduhan, yang tidak hanya bersifat superfisial terasa benar sebagai sebuah kehilangan besar. Indonesia modern bagi Nurcholis Madjid adalah sebuah bangsa yang harus bertumpu pada kemajemukan, juga dalam keragaman keberagamaan.

Indonesia oleh karena itu, hanya akan menjadi besar dan dihargai dunia jika pemimpinnya mengerti arti kemajemukan tidak sekedar sebagai gincu peradaban, namun sungguh-sungguh sebagai makna yang terdalam dari nilai-nilai kemanusiaan dan keberagamaan. Ketika seorang pemimpin melihat kemanusiaan dan keberagamaan lebih banyak dari sudut pandang kelompoknya sendiri, sangat dikhawatirkan akan berkembang sebuah pengkastaan baru yang meniadakan kesetaraan warga negara maupun kesamaan kelompok-kelompok masyarakat sebagai pemilik bersama negara-bangsa ini.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Nurcholis Madjid #HMI



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.