Senin, 28 Oktober 2019 08:12 WIB

Soengei Penoeh dan Gasing

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Sungai Batanghari. Sumber: Midden Sumatra Expeditie, D.D. Veth.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Malam tanggal 9 November 1877, tim penjelajahan itu mematangkan rencana untuk ke Gasing, keesokan harinya. Angkoe Moeda telah mencarikan tiga buah perahu dan lima orang pendayung. Seorang kuli penjelajahan, Pakan, akan melengkapi jumlah pendayung menjadi enam orang.



Pagi-pagi ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba rumah Angkoe Moeda gaduh. Rupanya, malam sebelumnya, seorang anggota keluarga di rumah itu tiba-tiba meninggal dunia! Lelaki itu berusia sekitar 35 tahun. Seperti biasa, ia tidur ketika sudah waktunya tidur. Tak ada apa-apa. Semua baik-baik saja.

Namun, nyatanya pagi hari, lelaki itu sudah tiada. Tak ada yang dapat menjelaskan kejadian itu. Ramailah orang membicarakan hantu yang mungkin telah mengambil nyawanya. Tampaknya, kematian lelaki itu tidak menjadi hambatan bagi keberangkatan tim penjelajahan. Van hasselt tidak menceritakannya lebih lanjut.

Bekal makanan yang dipersiapkan dan dibawa cukup untuk menjelajah selama 10 hari. Sebagian bekal makanan itu, ditambah dengan bagasi lainnya, termasuk meja, kursi, tempat tidur (velbed) dan peralatan penelitian dimuat di dalam perahu-perahu. Sisanya dibawa oleh para kuli yang berangkat bersamaan dengan bertolaknya ketiga perahu tadi.

Angkoe Moeda ikut bersama mereka. Ia membawa djelo-nya untuk menangkap ikan di perjalanan. Kepala laras, yang datang menunggang kudanya, mengantar mereka sampai ke luar negari. Di sana, ia menyerahkan kudanya untuk dipakai oleh Angkoe Moeda.

Menjelang pk 08.00, setelah melewati padang ilalang dengan kerbau-kerbau yang mengangkat kepala heran melihat rombongan itu, mereka tiba di tepian sungai. Tepian itu agak berbukit dan jalan setapak seolah diiris di dinding bukit yang selebihnya menghijau dengan pepohonan hutan. Daerah ini tampaknya tidak kekurangan kerbau. Di Batoe Ngago, sebuah negari kecil yang hanya terdiri dari 5 buah rumah, terhitung lebih dari 50 ekor kerbau yang sedang merumput! Nama negari itu muncul dari adanya sebongkah batu besar di tengah sungai. Dari dekat batu itu, di tepian kiri  sungai Boekit Kapoean menjulang.

Kawanan monyet yang berbulu coklat-kelabu ramai mengikuti perjalanan mereka. Binatang-binatang itu melompat-lompat dari pohon ke pohon: tampaklah betapa banyak pohon soerian dan roembio di hutan itu. Pepohonan buah baru terlihat di teratak Bakar Dalam. Pun permukiman ini kecil saja: hanya lima buah rumah. Namun, warganya memiliki banyak sekali pohon buah-buahan: durian, ambatjang, pauhe, manggis, pepaya dan tentu saja, pisang.

Sulit menggambarkan tanaman pertanian penduduk di daerah ini. Ketika mendekati Sitapoei, tampak bidang-bidang sawah yang tak diolah karena kekurangan air sehingga tanaman di sawah-sawah itu layu setengah mati; tetapi tak jauh, ada ladang-ladang yang diairi oleh Batang Siak sehingga tanaman-tanaman biji-bijian di tempat itu subur. Dipandang sepintas lalu, Sitapoei tak banyak berbeda dengan dusun-dusun atau negari lainnya. Batu-batu nisan di pekuburannya memiliki hiasan yang sama dengan di daerah lain, dengan bendera-bendera kecil dari katun putin dan simpai yang diregang dengan katun putih yang sama.

Tepian sungai di dekat Sitapoei datar. Setelah negari itu, alamnya kembali menjadi berbukit-bukit dan jalan setapak di sana melewati padang ilalang, pimping dan semak-semak belukar. Jalan itu tampaknya tidak hanya digunakan oleh manusia saja. Kawanan gajah pun menggunakan. Ini terbukti dengan banyaknya kotoran gajah yang bertebaran di jalan itu.  Lambat-laun, mereka mendekati tempat Soengei Sangir akan ditinggalkan.

Mereka terus berjalan, melewati sebuah pondok dan dua buah kandang kerbau. Beberapa langkah lagi dan mereka tiba di rumah negari. Di sini mereka beristirahat. Rumah negari itu terletak di tepian sungai, di bawah bebayang pohon beringin yang rindang.

Beberapa ratus meter lagi, di atas sebuah bukit, mereka akan tiba di Doesoen Tengah. Akan tetapi, tak ada perahu yang dapat menyeberangkan mereka. Veth dan Angkoe Moeda memutuskan untuk berenang menyeberangi sungai. Van Hasselt—barangkali karena tak ingin berbasah-basah—menunggang kudanya beberapa meter ke hulu, lalu membujuk kuda itu untuk masuk air dan menyeberang. Di seberang, mereka duduk di tepian, mengeringkan pakaian yang kuyup sambil menunggu kedatangan para kuli.

Tak lama kemudian, kuli-kuli yang ditunggu pun datang, bersama dengan Penghoeloe Kepala Doesoen Tengah. Lelaki itu disambut dengan gembira karena ia ternyata membawakan kelapa muda. Airnya manis dan dingin. Penduduk setempat banyak menanam pohon kopi di sekitar rumah mereka. Pepohonan itu ditanam rapat dan saling berdekatan.  Hanya daun kopi saja yang biasanya digunakan untuk membuat minuman kopi. Seperti juga di daerah lain, kerusakan oleh hama tampak di pepohonan itu.

Setelah beristirahat, mereka berjalan lagi. Selama dua jam mereka berjalan di hutan, tanpa melihat adanya tanda-tanda bahwa daerah itu hendak dibuka untuk pertanian atau kebutuhan manusia yang lainnya. Akhirnya mereka tiba di Soengei Panoeh. Sebelum tiba, mereka sempat bertemu dengan tiga orang lelaki dan seorang perempuan dari Sibakoer. Keempat orang itu sedang dalam perjalanan ke Abei untuk menengok kerabat mereka yang sedang sakit. Selain pertemuan dengan orang-orang itu, tak ada lagi hal menarik. Di perjalanan, yang menarik perhatian mereka adalah banyaknya pohon banio yang pastilah sudah berumur ratusan tahun karena lingkar batangnya luar biasa besarnya. Berkali-kali mereka harus masuk ke air dan menyeberangi kali-kali kecil. Salah satu di antaranya adalah Soengei Lisop yang mengalir di dekat puncak Boekit Batoe Bilik.

Soengei Panoeh merupakan dusun kecil yang hanya terdiri dari tiga buah rumah saja. Permukiman kecil itu terdapat di tepian kiri Batang Hari, berseberangan dengan muara Soengei Penoeh. Di tepian kanan, tampak sebuah gelanggang adu ayam. Gelanggang itu dibuat di bawah naungan rerumpunan bambu auer litjin. Bentuknya bulat dan berdiameter 4 meter. Di sekelilingnya, tersusun batu-batu kali untuk tempat duduk bagi pengadu ayam dan penonton.

Semakin lama, para kuli semakin jauh tertinggal. Para penjelajah menunggu kuli-kuli itu datang di tepian Soengei Penoeh dan kuda, yang tadinya ditunggangi oleh van Hasselt, terpaksa dikirimnya pulang ke Abei karena tali pelananya putus ketika kuda itu melompati kubangan lumpur. Sambil menunggu, mereka mendengarkan cerita Angkoe Moeda, yang memandu perjalanan itu. Katanya, dahulu kala, banyak orang tinggal di sekitar aliran Batang Hari, mulai dari Loeboe Oelang Aling sampai jauh melewati daerah Gasing. Penindasan oleh Radja dan penyakit (terutama epidemi) membuat jumlah penduduk berkurang sehingga kini tinggal beberapa pondok saja. Bila diketahui bahwa Soengei Penoeh merupakan permukiman yang dianggap penting (padahal jumlah rumahnya begitu sedikit), dapat dibayangkan bagaimana keadaan dusun-dusun (yang disebut ‘kota’) lain di daerah ini.

Para kuli baru tiba dua jam kemudian. Perjalanan diteruskan. Mereka menjadi tontonan penduduk negari di seberang sungai. Tak seorang pun di antara mereka yang berani mendekat. Semakin dekat Gasing, Angkoe Moeda semakin khawatir. Apa yang harus dilakukan bila tak ada lagi rumah untuk tempat mereka beristirahat? Bagaimana kalau tak ada perahu untuk menyeberangkan tim penjelajahan? Dan bagaimana pula kalau penduduk setempat tak bersedia menerima kedatangan mereka? Van Hasselt mengajaknya menunda saja pembicaraan mengenai kekhawatiran-kekhawatiran itu sampai saat mereka betul-betul menghadapi rintangan-rintangan itu. Karena menyadari tak ada gunanya memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, Angkoe Moeda pun mengangguk setuju.

Di tepian kanan Batang Hari, mereka mulai mendaki bukit. Di depan mata, tampak lembah Soengei Penoeh berlatar belakang Goenoeng Sirih Sahalei. Sungai dan kali-kali kecil memotong-motong jalan setapak yang ditelusuri. Salah sebuah di antaranya bersumber di dalam sebuah gua. Banyak di antaranya yang tak bernama karena terlalu kecil. Di dekat muara Soengei Moewan, terlihat beberapa pondok milik penambang emas, walau sama sekali tak tampak adanya kegiatan penambangan. Namun, menjelang sore ketika tiba di Gasing, mereka bertemu dengan orang penambang emas dari Soengei Moewan. Dengan upah sekedarnya, kedua lelaki itu menyediakan perahu mereka untuk  menyeberangkan para penjelajah dan kuli-kuli mereka.

Untunglah, ternyata kekhawatiran Angkoe Moeda tidak menjadi nyata. Rumah yang dapat diinapi lumayan luas. Akan tetapi, rumah itu tidak hanya dipergunakan oleh tim penjelajahan dan rombongannya saja. Pemilik rumah itu dan keluarganya sedang berada di Soengei Lampi. Sementara pemiliknya sedang pergi, rumah itu ditinggali oleh seorang pedagang dari Sibakoer dan anak buahnya. Walaupun begitu, rumah itu cukup lapang untuk menampung semua orang, termasuk rombongan tim penjelajah. Dalam waktu singkat, bagian dalam rumah yang berlantai lebih tinggi sidah penuh dengan meja, kursi dan tempat-tempat tidur. Bungkusan dan keranjang-keranjang perbekalan disusun menempel di dinding dan ruang yang tersisa digunakan oleh para kuli penjelajahan dan rombongan pedagang dari Sibakoer tadi.

Malam hari, setelah mencatat laporan perjalanan hari itu, van Hasselt dan rekan-rekannya mengobrol bersama. Seorang kuli menceritakan bahwa di Abei, mereka sempat berbicara dengan orang-orang yang baru pulang dari Djoedjoean. Menurut orang-orang itu, pendayung-pendayung Schouw-Santvoort dikuntit oleh anak-buah Sultan Taha ketika mereka kembali ke Rantau Ikir. Salah seorang pendayung Melayu, Si Doro gelar Radja nan Sati dari negari Si Miso (Tandjoeng Balit) berhasil melarikan diri melalui Tembesi dan sampai dengan selamat di Soengei Pagoe. Dari tempat itu, ia kembali ke Djoedjoean.

Tak lama kemudian, ia tertangkap, dibawa menghadap ke Sultan Taha dan kemudian dibunuh oleh doebalang sultan. Dua orang pendayung lainnya yang berasal dari Djambi, selamat. Bahkan, pendayung yang bernama Pa Dogan—yang juga tertangkap—tidak dapat ditahan oleh Sultan Taha karena ia dilindungi oleh Pangeran Si Mangoei. Lelaki terakhir itu tinggal di dusun yang terletak di hilir tempat tinggal Sultan Taha. Pangeran Si Mangoei menolak menyerahkan Pa Dogan kepada Sultan Taha.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.