Senin, 28 Oktober 2019 08:21 WIB

Toeti Soewarti Kakiailatu

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Saya tidak tahu dari mana semangatnya yang menggebu-gebu itu berasal. Mbak Toeti, begitu biasanya dia dipanggil, menghabiskan kariernya sebagai wartawan di Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo. Kalau tidak salah dia bergabung sejak Tempo didirikan pada tahun 1971, bahkan mungkin sebelumnya, ketika majalah itu masih bernama Ekspress. Sebagai wartawan perempuan, dia boleh dibilang bagian dari minoritas, ketika dunia kewartawanan hingga hari ini masih didominasi oleh laki-laki.



Sebagai perempuan Jawa, Toeti Soewarti Kakiailatu, lagi-lagi tergolong rada aneh, karena stereotip wanita Jawa yang dikenal halus dan tidak agresif, seperti tidak melekat pada kepribadiannya sama sekali. Toeti Kakiailatu tidak mungkin bertahan dan mengembangkan karirnya sebagai jurnalis, sebuah profesi yang membutuhkan kecepatan bergerak, penciuman yang tajam untuk mengendus isu sosial, dan mutlak memiliki kemampuan bahasa tulis yang tinggi, yang semua itu hampir tidak mungkin terjadi jika dia bukan seorang yang asertif, berani, cakap dalam profesinya sebagai jurnalis, dan melihat posisinya sebagai perempuan yang setara dengan pria.

Jurnalisme sebagai profesi berkembang bersamaan dengan menguatnya kesadaran berpolitik dari segelintir orang yang sempat mengecap pendidikan dari Belanda. Selain juga sejalan dengan perkembangan bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa pergaulan antar kelas dan golongan yang masing-masing memiliki bahasa etnisnya sendiri. Tirto Adhi Suryo, yang oleh Pramoedya AnantaToer, dianggap sebagai Sang Pemula,  adalah seorang yang berasal dari etnis Jawa. Setelah gagal menjadi dokter, ia mempelopori membuat koran, Medan Priyayi, sebagai bagian dari perdagangan, tapi kemudian berubah menjadi Koran politik. Oleh karena itu, secara historis seorang jurnalis sudah seharusnya juga seorang intelektual publik, orang yang memiliki keprihatinan dan komitmen sosial yang tinggi, kritis dan bersemangat untuk mendorong perubahan.

Perkembangan jurnalisme, harus diakui, tidak sedikit disumbang oleh para jurnalis yang berasal dari etnis Tionghoa, selain karena dunia dagang adalah dunia mereka, tetapi dari kelompok ini juga berpolitik melalui surat kabar telah banyak kita warisi. Koran terbesar hari ini, Kompas, tidak mungkin ada tanpa peranan PK Oyong (Auw Jong Peng-Koen). Jurnalisme sebelum Orde Baru menjadi sangat progresif dikarenakan selalu membawa misi politik. Kita bisa menyebut di sini seorang tokoh yang mungkin paling penting, Mochtar Lubis, yang berprinsip lebih baik menutup Koran dan membuat pabrik tahu, daripada harus menuruti kemauan penguasa.

Ket: Toeti Soewarti Kakiailatu.

Toeti Kakiailatu adalah generasi jurnalis masa peralihan, dari jurnalisme perjuangan ke jurnalisme pragmatis yang erat dengan dunia bisnis. Surat kabar dan majalah saat ini disebut sebagai bagian dari apa yang dinamakan industri pers. Mungkin di antara berbagai penerbitan, surat kabar maupun majalah berita, tinggal MBM Tempo yang masih membawa misi perjuangan itu. Meski berkali-kali di breidel, berkali-kali pula dilanda konflik internal, Tempo terbukti masih eksis dan tetap menyuarakan kepentingan publik.

Dalam sejarah panjang Tempo itu, Toeti Kakiailatu setia di dalamnya,  dan harus disebut sebagai bagian dari kelompok jurnalis yang masih membawa misi perjuangan politik pers yang kini seolah-olah menjadi "a rare and endangered species" di tengah semakin kuatnya belitan gurita para pemilik modal, kekuatan kartel dan para oligark. Revolusi teknologi informasi juga membuat media cetak semakin tersaingi oleh media virtual yang melahirkan sosial media.

Menarik juga, ketika mereka yang merasa perlu menegaskan diri sebagai para pejuang kesetaraan jender, dan sebutan feminis terasa begitu  fashionable dan menjadi bagian dari selebrity,sosok Toeti Kakiailatu terlihat berbeda, karena gegap gempita dan kekenesan itu seperti tidak ditemukan pada dirinya, dan dia terkesan tidak peduli dengan kecenderungan-kecenderungan itu.

Sebagai pekerja pers, dia bekerja dengan standar profesionalisme yang biasa-biasa saja, dan tidak terlihat minta diperhatikan karena dia perempuan. Penampilannya juga seperti tidak terusik ketika pada sisi lain dari wajah masyarakat kita akhir-akhir ini memperlihatkan gejala menguatnya semacam kesalehan baru yang harus diperlihatkan melalui cara berpakaian, yang untuk wanita menjadi serba tertutup.

Toeti Kakiailatu ternyata memiliki passion lain di luar jurnalisme, yaitu di dunia akademia, dengan menyisihkan waktunya yang sudah padat sebagai pemburu dan penulis berita, untuk mendalami ilmu pengetahuan secara formal, yang pertama belajar antropologi dan kemudian sejarah. Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu Toeti Kakialatu secara kebetulan di University Club UGM, dia bilang mau konsultasi disertasi dengan pembimbingnya, yaitu Prof. Bambang Purwanto. Beberapa waktu kemudian, saya bertemu lagi, juga secara kebetulan, di pesta pernikahan anak Bachrun Suwatdi, mantan wartawan Tempo. Saat pertemuan yang terakhir itu, mbak Toeti sudah kelihatan payah, konon sebelumnya terkena stroke.

Raut mukanya masih menyisakan semangat yang menggebu-gebu, masih cerita niatnya untuk merampungkan disertasi, tapi saya kira fisiknya seperti tidak mau lagi diajak berkompromi. Seorang teman memberitahu, semenjak ditinggal Frits Anguts Kakiailatu, suaminya, orang Ambon, dokter istana masa presiden Soeharto (1983-1999), yang halus dan kelihatan penyabar itu, mbak Toeti seperti sangat kehilangan dan kesehatan fisiknya menurun drastis. Tapi, semangat yang menggebu-gebu itu, yang saya tidak tahu dari mana datangnya; dan sikapnya yang asertif dan penuh percaya diri itu, membuatnya tak mungkin dilupakan, karena dengan itu dia telah membuktikan dirinya mampu berdiri sejajar dengan koleganya di dunia jurnalistik, yang seperti profesi-profesi lain, masih didominasi oleh kaum pria.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Toeti Soewarti Kakiailatu #Wartawan Tempo #Jurnalisme



Berita Terbaru

  Sabtu, 16 November 2019 23:20 WIB

Si Jago Merah Mengamuk, Pabrik Karet PT ABP Pemayung Terbakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 19:37 WIB

Gubernur Fachrori Buka Festival Media 2019 di Jambi

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:31 WIB

Lokasi Kosong dari Pekerja PETI, Dua Dompeng di Jalur Dua Dibakar

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 17:10 WIB

Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke-49 Tingkat Provinsi Jambi 2019

Berita
  Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Telusur




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.