Rabu, 13 November 2019 14:34 WIB

Eksploitasi Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi. buruh sawit perempuan. sumber: medium.com

Oleh: Zubaidah*

Matahari baru saja meninggi di atas kepala, saat puluhan buruh perempuan menginjakkan kakinya di hamparan kebun sawit di Desa Sogo, Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi. Di bawah perintah seorang mandor, mereka bergegas mengambil peralatan kerja untuk meyemprot batang-batang sawit yang terhampar berhasta-hasta luasnya.



Siti (45), satu di antara puluhan buruh tersebut berstatus sebagai buruh harian lepas. Ia bekerja meyemprot rumput liar yang tumbuh di sekitar 64 Batang sawit. Jika sedang musim pemupukan, Ibu dua anak ini juga mengerjakan bagian pemupukan.

Jangkauan kerja pemupukan tiap hari berkisar 1 hektar dengan target minimal 12 karung (berat pupuk 50 kg perkarung),  tergantung dosis pupuk yang akan diberikan setiap harinya.

Sebagai buruh yang sudah bekerja hampir satu tahun. Siti merasakan  beban dari perusahaan yang menuntut  target kerja terlalu tinggi untuk mencapai upah sekitar Rp. 97.600/hari. Jika tidak memenuhi target,  upah akan dikurangi.

“Upah tersebut sangat tidak layak, jika dihadapkan resiko  terpapar bahan kimia. Di awal bekerja perusahaan memberikan masker dan sarung tangan. Bulan berikutnya kami harus membeli sendiri perlengkapan keselamatan kerja!” Ujar Siti, seraya  memperlihatkan botol Paraquat kepada Tim Beranda Perempuan.

Siti juga mengeluhkan tidak tersedianya fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK), sehingga ia bersama puluhan buruh perempuan kesulitan jika  ingin  buang air kecil dan mencuci tangan bekas pestisida. Bahkan mereka terpaksa mengunakan air kanal yang ada di sekitar kebun sudah berwarna dan berbau. Tentu saja hal ini beresiko terhadap kesehatan reproduksi perempuan.

Cerita Siti di atas mungkin bisa memberikan ilustrasi tentang eksploitasi tenaga buruh perempuan terjadi di balik bisnis sawit, seperti halnya nasib jutaan buruh perempuan di sejumlah Desa-desa yang tersebar di sumatera, kalimatan dan papua.

Negara yang membebek pada kepentingan investasi membangun jaring pengaman bagi perusahaan untuk melipatgandakan keuntungan dari tiap tetes keringat buruh, tanpa menjalankan kewajiban untuk pemenuhan atas fasilitas dan perlengkapan keselamatan selama bekerja.

Undang-Undang Tenaga Kerja Nomor 13 tahun 2013 dan juga berbagai skema dalam standar sawit berkelanjutan  sama sekali tumpul dalam memberikan jaminan pemenuhan hak pekerja yang layak dan pemenuhan hak maternitas perempuan.

Akibatnya, sekitar 80 persen buruh perempuan peyemprot dan pemupuk terikat kerja dalam hubungan yang rentan, menanggung resiko kesehatan akibat terpapar bahan kima seperti Paraquat dan Gramaxon.

Di lansir dari laporan Pestsicida Action Network Asia Pasific, sebuah organisasi hak-hak pekerja di Malaysia, mengungkapkan Paraquat dijual dengan nama Gramaxon untuk pemusnah ilalang, kandungannya sangat berbahaya meliputi mimisan, infeksi kulit, kulit melepuh dan kematian janin pada buruh perempuan yang sedang hamil.

Feminisasi Buruh Perkebunan

Meski tidak ada jaminan perlindungan dan sarat dengan praktik eksploitasi,  perempuan yang tinggal di dekat perkebunan sawit berbondong-bondong untuk menjadi buruh murah di perkebunan. Mereka tidak punya pilihan lain.

Sebab, masyarakat pedesaan selalu mengalami kekalahan ketika terjadi perebutan tanah oleh perkebunan besar. Selanjutnya dengan mudah  kita meyaksikan partisipasi perempuan dalam pengelolaan lahan semakin hilang. Sektor pertanian yang menjadi andalan bagi penghidupan keluarga petani semakin tidak menjanjikan.

Bersamaan dengan itu, sistem kapital dari investasi perkebunan sawit luar biasa deras mengubah perempuan sebagai produsen makanan menjadi pembeli makanan. Maka, untuk mendapatkan uang tunai perempuan harus bekerja.

Padahal, sebelum hadirnya sawit ada periode- periode relatif stabil, seperti kebutuhan sayur mayur dan beras yang disajikan oleh  perempuan dengan mudah didapat dari panen di kebun sendiri. Sekarang, nyaris semua kebutuhan pangan anak-anak dan keluarganya harus dibeli.

Dalam pada itu, cerita pembangunan kesetaraan yang dipromosikan oleh investasi hanya isapan jempol semata.  Faktanya, 4jurang kemiskinan antara orang miskin dan kaya dipedesaan semakin lebar. Perempuan dari kalangan rakyat miskin mengenyam pendidikan lebih rendah daripada laki-laki.

Tentu saja, kenyataan tersebut mengubah Desa-desa menjadi kantong yang meyediakan buruh murah berjenis kelamin perempuan. Berbanding lurus dengan permintaan perusahaan atas kebutuhan buruh murah.

Dengan melanggengkan subordinasi perempuan sebagai tenaga yang lemah dan tidak berpendidikan, perusahaan dengan leluasa mendapatkan buruh dengan cepat namun dengan hubungan kerja yang memungkinkan mereka untuk tidak terikat dengan pertanggungjawaban. Skema tersebut dikenal dengan buruh harian lepas.

*Direktur Beranda Perempuan dan Juru Bicara Save Our Sisters.


Tag : #Perspektif #Buruh Perempuan #Perkebunan Sawit #Jaminan Hak Pekerja



Berita Terbaru

  Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko

Ensklopedia
  Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 15:08 WIB

Fachrori Beri Reward Atlet dan Pelatih Berprestasi Popnas XV dan Peparnas IX 2019

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.