Sabtu, 16 November 2019 14:27 WIB

Soengei Penoeh, Batoe Asoe dan Batoe Lipat Kain

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sibaroek terletak di tengah-tengah antara muara Soengei Seliti dan Soengei Goemanti. Beberapa pondok tampak di sana-sini di pinggir sungai; di sana-sini ada beberapa sawah yang jumlahnya kini jauh lebih sedikit.



Dulu, orang bahkan datang dari Telantam untuk membeli beras di sini.  Mereka hanya berlayar sampai ke Sibaroek saja walau sungai masih dapat dilayari sampai melewati Seliti. Selewat daerah itu, hanya ada rimba saja.

Menjelang pukul setengah satu siang, mereka bertolak lagi dari Sibaroek dan pk 14.00, perahu yang ditumpangi sudah merapat lagi di perkemahan. Setelah makan, perahu-perahu penjelajahan itu bertolak lagi ke hilir. Walaupun sungai sedang surut, airnya mengalir deras sehingga perahu-perahu itu melaju kencang.

Mereka memasuki perairan Telantam untuk meneliti bebatuan di tepian sungai (yang ternyata, bebatuan kapur). Hujan mulai turun. Angin pun bertiup kencang. Mereka cepat-cepat naik lagi ke perahu untuk kembali ke perkembahan. Di perjalanan, tampak bahwa banyak pondok  penambang emas yang tumbang dan hancur dihantam banjir. Pondok-pondok yang dibuat dalam beberapa hari hancur begitu saja dalam waktu beberapa jam oleh terjangan air sungai! Tak tampak seorang pun penambang di sana.

Para pendayung dan pemandu menggigil kedinginan. Sungguh menderita tampaknya. Akan tetapi, penderitaan itu tidak membuat mereka merasa iba mendengar panggilan minta tolong dari seseorang yang berdiri di tepian di dekat muara Soengei Lampi. Orang itu baru saja dari Abei membeli ‘obat-padi’ dan tadinya berharap para penambang dapat membantunya menyeberangi sungai. Namun, ternyata para penambang sudah meninggalkan tempat itu. Awalnya,  tak seorang pun pendayung di perahu penjelajahan yang merasa kasihan padanya. Van Hasselt yang tidak tega melihat lelaki itu dan memerintahkan pendayungnya agar mendekatkan perahu untuk membantunya menyeberangi sungai.

Menjelang pk 16.00, mereka tiba kembali di Gasing. Rumah tempat mereka menginap sudah bertambah ramai dengan kedatangan penambang dan orang-orang lain yang terpaksa menghentikan pekerjaannya di sungai oleh hujan deras dan angin kencang tadi. Di bawah atap yang sama, mereka bersempit-sempit sambil berusaha untuk memberi ruang gerak sekedarnya bagi sesama.

Sesuai kebiasaan di daerah ini, malam-malam ada saja orang yang pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Ketika pagi menjelang dengan cuaca cerah. Veth langsung menyiapkan alat-alat fotografi dan menghilang. Van Hasselt menyibukkan diri dengan menggambar dan membeli beberapa peralatan yang digunakan untuk menambang emas. Sementara itu, yang lainnya berusaha memuat semua barang dan perbekalan penjelajahan ke dalam ketiga buah perahu mereka. Sia-sia. Tampaknya, barang perolehan mereka semakin banyak.

Untunglah seseorang mau menyediakan perahunya untuk mengantarkan sebagian perbekalan ke muara Soengei Sangir. Untuk itu, ia meminta ongkos sebesar ƒ2,- saja. Perahu itu disebutnya ‘bidoek rodi’. Ketika Kontrolir de Bruin bertugas di daerah itu, biduk itu digunakan untuk menyeberangkan orang dari tepian ke tepian sungai. Pada waktu Kumpeni meninggalkan Batang Hari, biduk itu ditinggalkan dan menjadi milik kepala adat di Gasing.

Perahu-perahu itu bertolak perlahan menjelang pk 10.30. Dengan mendayung santai, mereka tiba setengah jam kemudian di dusun Soengei Penoeh.  Seperti sehari sebelumnya, pondok-pondok penambang di tepi sungai banyak ditinggalkan. Penambang yang masih bertahan, duduk-duduk di pondok mereka, menunggu air sungai surut.

Di hilir Gasing, mereka melewati tebing-tebing kapur. Air sungai telah mengguratkan celah dan gua di tebing-tebing itu. Di salah satu tebing, 70 meter tingginya, tampak dinding kapur yang warnanya seputih salju dikelilingi oleh bukit yan bertanah hitam. Dari sungai, dinding putih itu tampak seperti seekor anjing yang sedang duduk. Dalam cerita rakyat setempat, dulunya batu kapur yang putih itu memang anjing yang mengejar rusa. Entah bagaimana ceritanya, anjing itu kemudian berubah rupa menjadi batu. Penduduk setempat menyebut karya alam itu ‘Batoe Asoe’.

Hampir semua bebatuan dengan bentuk atau warna yang lain dari yang lain dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat. Tak jauh dari Batoe Asoe, terdapat batu lain yang bertumpuk-tumpuk. Lapisan-lapisan batu itu kira-kira 2 desimeter tebalnya. Batu itu dikenal dengan nama Batoe Lipat Kain. Menurut cerita, batu berlapis-lapis itu dulunya kain katun bergulung-gulung yang menjadi batu setelah kapal besar yang membawanya karam dan tenggelam di sungai.

Di Soengei Penoeh, mereka menepi untuk membeli emas urai (debu emas). Dusun itu tampak rapi karena warganya merawat tanaman mereka dengan baik. Selain itu, yang menarik perhatian adalah banyaknya ayam aduan di sana! Lebih dari 30 ekor! Ayam-ajam jago itu bertengger di bawah atap rumah atau dibiarkan berkeliaran di halaman setelah kakinya dibelenggu dengan seutas tali yang diikatkan pada sebuah tonggak di tanah.

Awalnya, kedatangan mereka tak mendapatkan sambutan yang ramah. Untunglah, suasana menjadi lebih hangat ketika van Hasselt dan Veth membagikan beberapa kalung manik-manik kepada anak-anak yang bergerombol mengawasi mereka dengan mata besar. Setelah itu, beberapa orang menyuguhkan kelapa dan mengajak para penjelajah Belanda itu  mampir ke salah sebuah pondok untuk minum kopi bersama.

Tentu saja, ajakan itu tidak ditolak! Di pondok itu, setandan pisang disuguhkan. Van Hasselt dan Veth terheran-heran melihat pisang itu. Bukan karena mereka belum pernah melihat pisang setandan, melainkan karena ketika mereka baru naik ke darat, mereka ingin membeli pisang dan orang-orang yang ditanya menjawab bahwa tak ada buah pisang di dusun itu! Kini, mereka dipersilakan menikmati pisang setandan sambil minum kopi!

Para pendayung dan pemandu membeli tembakau dari kepala dusun, Toean Toewo. Harganya tidak dapat dikatakan murah. Mereka membayar ƒ0,10 per tail (kira-kira ƒ5,- per kilogram). Setelah minum-minum kopi, tuan rumah menawarkan tembakau (untuk dibeli) kepada tetamunya, Angkoe Moeda dan kedua lelaki Belanda itu. Mereka juga berkesempatan untuk membeli emas urai. Dua ‘amas’ dijual dengan harga ƒ 8,-  (16 amas sama dengan satu tail).

Van Hasselt merogoh saku dan mengeluarkan mata uang koin sepuluh sen untuk membayar emas urai itu. Namun, penjual emas urai itu menggelengkan kepala. “Uang itu tidak laku di sini, Toean!” 

Dengan susah-payah, para kuli dan Angkoe Moeda mengumpulkan uang gulden dan koin-koin rijksdaalder (1 rijksdaalder = ƒ 2.50) sehingga mencapai ƒ 8,-, lelaki itu meminta tambahan beberapa koin 10 sen. Karena lelaki itu sudah menerima mereka di pondoknya dengan ramah, van Hasselt mengiyakan permintaannya. Lalu,  mereka meminta diri dan perahu-perahu mereka bertolak lagi.

Mereka baru tiba di muara Soengei Sangir satu jam kemudian. Perjalanan itu mengesankan. Setiap kelok sungai menyajikan pemandangan yang acapkali membuat heran dan kagum. Sungai memahat bebatuan kapur di tepiannya menjadi bentuk-bentuk yang istimewa. Setelah melewati percepatan arus di Batoe Rajo, alam yang dilewati mulai berubah. Semakin lama semakin banyak tanah datar. Air dari beberapa kali kecil menyatu dengan Batang Hari, antara lain Amang, Poedar dan Andoman.

Aliran Soengei Sangir menyatu dengan Batanghari di daerah yang tidak lagi ditinggali penduduk. Beberapa tonggak kayu menandai tempat yang dulunya merupakan rumah salah seorang isteri Radja Loeboe Oelang Aling (lelaki itu beristeri empat). Pada waktu itu, di tepian kanan Soengei Sangir ada dusun Moeara yang berseberangan dengan Kota Baroe. Beberapa pohon kelapa—yang tidak lagi berbuah, menunjukkan bahwa daerah itu belum terlalu lama ditinggalkan penduduknya.

Di muara Soengei Sangir, mereka menepi sebentar di tempat yang cocok untuk membangun pondok sederhana untuk bermalam. Gage dan Mantri bertugas membangun pondok itu. Setelah menurunkan sebagian barang dan perbekalan, van Hasselt, Veth serta beberapa kuli dan pendayung bertolak lagi.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

 

 


Tag : #telusur #Soengei Penoeh #Batoe Asoe #Batoe Lipat Kain #jambi #sejarah #budaya



Berita Terbaru

  Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko

Ensklopedia
  Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 15:08 WIB

Fachrori Beri Reward Atlet dan Pelatih Berprestasi Popnas XV dan Peparnas IX 2019

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.