Sabtu, 23 November 2019 09:35 WIB

Poelau Kakaran

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Sungai Batanghari

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Lebih jauh ke hilir, terbuktilah omongan orang bahwa permukiman sambung-menyambung memenuhi tepian Batang Hari. Setelah melewati Ombak Koeboer (yang dinamakan demikian karena konon pada suatu saat, sebuah kuburan hilang terbawa air ketika sungai membanjir), setelah melewati Soengei Ajer Mantjoer (air terjun setinggi tiga meter) dan setelah melewati Moeara Oesoep, mereka tiba di dusun Poelau Kakaran yang terdapat di tepian  kanan. Perahu-perahu mereka berhenti di sini.



Sungai luas dengan bentangan sawah di seberangnya dan bukit-bukit berkemul  hutan di sebelah kanannya sungguh mempesona. Angkoe naik ke darat untuk meminta izin menginap. Kepala dusun itu ternyata masih bekerja di ladangnya, akan tetapi orang yang sementara menginap di rumahnya bersedia menyambut kedatangan rombongan penjelajahan itu. Selain laki-laki tadi, ternyata seorang perempuan tua dan beberapa orang anak tinggal di rumah itu. Dengan ramah, mereka membolehkan van hasselt dan timnya menginap selama dua malam di situ.

Para kuli dan pendayung membongkar perahu-perahu mereka, sementara Ninik tua itu langsung sibuk membersihkan rumah dan membentangkan tikar rotan di lantai. Ia juga menyuruh seorang anak untuk memanggil pulang kepala dusun. Ketika tiba, kepala dusun itu menunjukkan sikap yang sangat ramah. Walaupun anak-anak di rumah itu belum pernah melihat, apalagi bertemu, dengan orang-orang berkulit putih, mereka sama sekali tidak takut atau pun malu-malu. Anak-anak itu tambah berani mendekat ketika van Hasselt dan Veth memberikan mainan, cermin dan manik-manik kepada mereka.

Rumah itu merupakan bangunan paling baik di antara empat rumah yang ada di dusun itu. Atapnya terbuat dari dedaunan lipè. Namun demikian, baik rumah itu maupun dusun dan alam sekitarnya tidak terlalu menarik. Di belakang dusun, terbentang empat ‘piring’ sawah (catatan Fried Amran: rupanya istilah ‘piring’ digunakan untuk menyatakan satuan lahan pertanian). Sawah-sawah itu tampak terbengkalai dan ditumbuhi rerumputan. Tiga ekor sapi menikmati rerumputan itu. Pagar bambu diselingi tanaman hidup mengelilingi dusun itu. Menurut cerita rakyat, namanya berasal dari ‘poeti’ (baca: putri) yang dahulu kala turun dari langit untuk menjemur padi di tempat ini. Dalam bahasa setempat, ‘kakaran’ memang berarti tempat menjemur.

Malam hari, bulan yang bersinar terang menerangi dusun. Van Hasselt melangkah ke tepian sungai untuk menikmati sinar rembulan di atas permukaan air. Seorang lelaki mendekat dan ikut berjalan bersamanya.

“Berjalan-jalan di malam hari, terkadang berbahaya,” katanya. “Banyak ‘goeloeng’ di sini. Tetapi memang, alam di sini bagus sekali.” (Goeloeng adalah nama yang digunakan penduduk setempat untuk menyebut harimau).

“Sepanjang Batang Hari, tak ada tempat lain yang lebih bagus. Sayang sekali, hanya sedikit orang yang tinggal di sini. Dulu, lain keadaannya. Toeankoe Loeboe Oelang Aling-lah yang membuat penduduk (Batang) Hari pindah ke tempat-tempat lain. Semua orang hidup dalam ketidakpastian: kapan ia akan dikenakan denda semena-mena oleh Toeankoe, padahal ia sendiri banyak melanggar adat.”

“Mengapa orang-orang itu tidak menyampaikan keluhan pada pemerintah Hindia-Belanda?” tanya van Hasselt.

“Ah, apa gunanya? Kumpeni tak mungkin akan datang ke sini karena tak ada apa-apa yang dicari oleh Kumpeni di sini. Kami sendiri acapkali kekurangan beras untuk makan.”

Suara dan nada bicaranya yang lembut—di telinga van Hasselt terdengar seperti senandung—menyentuh hati. Tak banyak pula orang Melayu yang mengungkapkan kekaguman pada keindahan alam yang diterangi sinar rembulan seperti yang dilakukan oleh lelaki itu.

Angkoe Moeda tiba-tiba muncul dan ikut berjalan bersama mereka. Obrolan dari hati ke hati di antara van Hasselt dan lelaki pertama tadi terhenti. Mereka memutar arah dan melangkah pulang ke rumah penginapan. Van Hasselt meraih buku catatannya dan mulai mencatat pandangan dan pikirannya. Di luar, orang masih mengobrol panjang-lebar, tetapi apa yang diobrolkan tak terdengar lagi. Van Hasselt dan Veth sudah tertidur.

Pk 07.00 pagi, 15 November 1877, van Hasselt, Veth dan tim mereka sudah duduk lagi di atas perahu-perahu mereka. Pagi ini mereka akan mendayung ke muara Soengei Potar. Sebelum meninggalkan Poelau Kakaran, van Hasselt memberikan uang sepuluh sen gulden kepada perempuan tua dan anak-anak yang tinggal di rumah tempat mereka menginap. Perempuan tua itu mengizinkan mereka meninggalkan sebagian barang di rumahnya.

Banyak percepatan arus sungai  di antara Poelau Kakaran dan Potar yang menyulitkan perjalanan mereka. Tepian kiri sungai terutama bertanah rendah, sementara kaki pebukitan terdapatan di tepian kanan. Dua buah dusun kecil terdapat di tepian kanan itu. Yang pertama adalah Tanah Galo.

Di dekat dusun ini, aliran sungai berkelok besar sehingga membentuk sebuah lubuk yang dikenal dengan nama Teloek Lipat. Anak-anak yang berenang-renang di sungai berair deras itu acap diwanti-wanti oleh para orangtua: “Awas! Kalau tak hati-hati, nanti terbawalah ke Teloek Lipat!”

Dusun kedua adalah Batoe Gadjah yang disebut demikian oleh adanya batu besar di tengah sungai yang tampak seperti gajah. Dari dusun ini, tampak puncak Goenoeng Mengantei . Gunung itu terletak tak jauh dari Loeboe Oelang Aling. Dari tepian tak jauh dari Teloek Lipat, tampak air mengalir sedikit. Menurut para pendayung, air itu berasal dari Soengei Mamoen. Dulu—kata mereka—pernah ada perahu dagang yang terbalik di dekat Kota Baroe ketika sedang melayari Soengei Mamoen. Tak lama kemudian, barang-barang dari perahu itu terbawa air dan kemudian muncul kembali di Teloek Lipat. Kapan itu terjadi? Lama sekali, tetapi tak seorang pun tahu kapan persisnya kapal itu terbalik dan tak seorang pun menyaksikan peristiwa itu.  

Setelah melewati sungai-sungai kecil--Batang Amas dan Toekoeh—dan beberapa ladang, mereka tiba di muara Soengei Potar menjelang pk 08.00. Setelah membongkar perahu-perahu itu, Veth segera mendirikan tenda untuk membuat foto. Gai, koki, mulai menyiapkan sarapan pagi. Angkoe Moeda naik ke perahu dan menyeberangi sungai.

Di tepian itu kini telah ada pondok kecil yang belum ada ketika mereka terakhir berada di tempat ini. Angkoe Moeda berharap akan bertemu dengan Toeankoe Loeboe Oelang Aling, tetapi ia kecewa karena lelaki itu dan adiknya sedang ke hulu. Salah seorang anak Toeankoe sakit. Angkoe Moeda ingin memperkenalkan Toeankoe Loeboe Oelang Aling dan adiknya kepada van Hasselt dan Veth.

Kedua penjelajah Belanda itu tidak terlalu kecewa. Matahari bersinar cerah. Mereka memerlukan terik mentari itu untuk mengeringkan serangga-serangga yang dikumpulkan di hari-hari terakhir. Van Hasselt dan Veth puas karena telah berhasil menjelajah  melewati batas wilayah Hindia-Belanda dan mereka telah berhasil pula menambah pengetahuan dan mengumpulkan informasi tambahan mengenai daerah aliran Soengei Batang Hari.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #telusur #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah 1877 #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

  Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko

Ensklopedia
  Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 15:08 WIB

Fachrori Beri Reward Atlet dan Pelatih Berprestasi Popnas XV dan Peparnas IX 2019

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.