Senin, 02 Desember 2019 16:29 WIB

Pangendum Tampung

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dari pinggiran sebuah pemukiman transmigrasi yang tampaknya sudah lama tidak diurus lagi oleh pemerintah, kami turun dari mobil carteran yang membawa kami selama hampir enam jam dari kota Jambi. Rupanya inilah pemberhentian terakhir, yang bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat sebelum memasuki kawasan pemukiman Orang Rimba. Dari tempat ini kami masih harus naik motor sekitar dua jam lebih melalui hutan karet untuk mencapai batas terluar dari Makekal Hulu, sebuah perkampungan Orang Rimba yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas.



Saat itulah saya mulai berkenalan dengan Pangendum Tampung, anak muda, yang mengendarai motor yang saya lihat tidak berpelat nomor, yang saya boncengi, melewati jalan tanah berlumpur dan di berbagai ruasnya hampir mustahil dilewati motor kecuali mereka yang sudah terbiasa. Dengan kakinya yang kuat, beberapa kali harus menahan agar motor tidak tergelincir masuk kubangan lumpur, membuat saya kagum akan ketangguhan fisiknya.

Pangendum Tampung adalah seorang pemuda aktivis dari Sokola, sebuah LSM yang didirikan oleh Butet Manurung, sarjana antropologi UNPAD yang bersama beberapa rekannya yang suka naik gunung kemudian membantu WARSI, sebuah LSM lingkungan di Jambi. Seperti biasa terjadi dalam kehidupan LSM, ketika sudah merasa cukup untuk membuat LSM sendiri, Butet pun melepaskan diri dari WARSI dan mendirikan Sokola dan memilih Makekal Hulu sebagai lokasi kegiatannya.

Sokola adalah "sekolah" dalam bahasa Orang Rimba. Butet Manurung dan kawan-kawannya memang kemudian memfokuskan LSMnya pada kegiatan pendidikan“literasi” buat Orang Rimba yang bermukim di Makekal Hulu. PangendumTampung adalah salah satu murid Butet dari angkatan yang pertama, bersama Mijak teman seangkatannya, merupakan dua pemuda generasi baru Orang Rimba yang setelah tahu baca tulis dan berhitung, menguasai bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan birokrat, aktifis maupun akademisi. Komunikasi saya terakhir dengan Pangendum adalah ketika dia bersiap-siap untuk menghadiri sebuah konferensi “indigenous people” di Kanada.

Adalah Gus Dur, saat menjadi presiden tahun 2002 yang memutuskan untuk menjadikan Bukit Dua Belas sebagai sebuah Taman Nasional yang berbeda dengan taman nasional lain yang biasanya tidak ada penduduknya, di Bukit Dua Belas ada pemukiman-pemukiman Orang Rimba. Seorang aktifis senior WARSI yang ikut menemui Gus Dur saat meminta agar Bukit Dua Belas dijadikan Taman Nasional, menceritakan bagaimana Gus Dur sambil tertawa mengatakan, "biar saja yang ini taman nasional yang ada orangnya".

Ket: Pangendum Tampung (Dok. Pribadi/facebook).

Orang Rimba, pada masa lalu dikenal sebagai Orang Kubu, hidup sebagai peramu dan pemburu, selalu berpindah tempat sambil berladang dengan cara yang sangat sederhana. Malapetaka demi malapetaka silih berganti mendera nasib mereka, ketika hutan mulai ditebang, wilayahnya dijadikan perkebunan karet dan pemukiman transmigrasi. Malapetaka terbesar ketika perkebunan sawit mulai merambah dan mengubah hutan tropis tempat mereka bermukim menjadi hutan sawit, Kisah Orang Rimba adalah kisah sedih dari warganegara yang terusir dari ekologi yang menghidupinya.

Pemerintah tentu telah berusaha dengan berbagai proyek  pembangunannya untuk meningkatkan kesejahteraan Orang Rimba yang oleh pemerintah diganti namanya menjadi SAD (Suku Anak Dalam). Dalam sebuah FGD yang kami adakan di Jambi seorang pejabat dari Dinas Transmigrasi dengan nada geram mengatakan bahwa Orang Rimba susah sekali diajak hidup yang berbudaya. Pandangan pejabat Dinas Transmigrasi ini tipikal pandangan birokrat terhadap Orang Rimba, juga terhadap orang-orang yang dianggap masih terbelakang lainnya.Pejabat ini tidak memiliki empati bahwa betapapun sederhananya, orang-orang ini memiliki kebudayaannya sendiri. Saya jadi teringat ucapan bapak antropologi Indonesia, Koentjaraningrat, “koteka itu pakaian orang Papua, mengapa harus diganti”. Koentjaraningrat dengan itu tidak sekedar menunjukkan empatinya, tetapi lebih dari itu”compassion”nya terhadap Orang Papua.

Pada saat ini, meskipun sebagian kecil masih berusaha hidup dalam perkampungan yang masih dikelilingi hutan seperti kami lihat di Makekal Hulu, tetapi tidak ada jaminan mereka bisa bertahan karena sebagai Taman Nasional jelas memiliki aturan-aturan yang biSA bertabrakan dengan kebutuhan Orang Rimba.

Ketika kami menginap beberapa malam di rumah yang berdinding kayu beratap seng milik Mijak di Makekal Hulu, kami mulai sedikit mengenal Orang Rimba dan masalah-masalah yang mereka hadapi. Pangendum Tampung membeberkan panjang lebar berbagai undang-undang yang harus mereka ketahui sebelum mereka  memutuskan mau melakukan apa. Meskipun hanya belajar dari Sokola Rimba pengetahuannya tentang berbagai pasal dan ayat dari UU tentang Lingkungan Hidup atau tentang Desa; membuat saya terhenyak kagum. Betapa saya, yang peneliti dari kota, malah tidak mengetahui sampai serinci itu.

Pangendum Tampung yang jika di kampung melepaskan celana jeansnya dan lebih suka pakai cawat karena memudahkannya berburu babi; mungkin tidak punya KTP, motornya pun tidak berpelat nomor, polisi biasanya membiarkan; sangat menyadari kalau sebagai Orang Rimba mereka tidak mungkin tetap hidup dengan cara yang lama, tetapi juga tahu pilihan hidup ke depan juga tidak banyak. Pangendum dan Mijak tahu kalau mereka tidak memperjuangkan nasib sendiri akan terus menjadi korban dari kebijakan atau berbagai tindakan dari orang lain.

Kisah Orang Rimba adalah kisah warga negara Indonesia yang mengenaskan. Ketika wabah  penyakit menyebar, secara beruntun belasan Orang Rimba meninggal dalam hitungan hari. Berita ini segera menjadi berita nasional dan mendorong Presiden Jokowi untuk mengunjungi mereka dan langsung melihat dari dekat kehidupan mereka.

Ket: Presiden Jokowi berdialog dengan Orang Rimba di Desa Bukit Suban, Sarolangun-Jambi, 2015. Sumber: setkab.go.id

Foto Presiden Jokowi ngobrol sambil jongkok dengan beberapa Orang Rimba di bawah rerimbunan pohon sawit meyentak perhatian banyak orang. Seorang presiden ngariung dengan warga negaranya yang masih memakai cawat. Kita tidak tahu apa yang diobrolkan, mungkin juga janji untuk memperbaiki nasib mereka yang terlunta-lunta, kita tidak tahu. Seperti juga janji Presiden Jokowi waktu bertemu dengan rombongan dari Sedulur Sikep yang meminta pabrik semen di Rembang ditutup karena mengancam pertanian, setelah pertemuan dengan Orang Rimba pun tampaknya tidak ada perubahanapa-apa setelahnya.

Presiden Jokowi, tak diragukan lagi, mampu memperlihatkan "gesture" dan "gimmics" yang memperlihatkan kedekatannya secara fisik dengan "wong cilik", dengan Orang Rimba, dengan Sedulur Sikep, dan dalam skala yang lebih besar dengan Orang Papua.  Tetapi, saya kira yang dibutuhkan lebih dari “gesture” dan “gimmicks”,  yang diperlukan adalah "compassion", tetapi jangan-jangan itu yang tidak dimilikinya.

 

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal ilmiah, buku dan tulisan populer. Rubrik SosoK ini terbit saban Senin di Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Pangendum Tampung #Orang Rimba #Makekal Hulu #Bukit Dua Belas



Berita Terbaru

  Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko

Ensklopedia
  Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun

Berita
  Jumat, 13 Desember 2019 15:08 WIB

Fachrori Beri Reward Atlet dan Pelatih Berprestasi Popnas XV dan Peparnas IX 2019

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.