Rabu, 18 Desember 2019 12:29 WIB

Bibit-bibit Kopi di Bedar Alam

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Bedar Alam. D.D. Veth. Midden Sumatra Expeditie, 1877.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Veth mencatat ketinggian pebukitan kapur di sekitar. Mereka semakin mendekati perkemahan. Boelè yang tinggal di sana selama mereka bepergian, sudah mempersiapkan kuda-kuda. Setelah memohon diri dan berterima kasih kepada tuan rumah (yang disampaikan dalam bentuk uang) dan setelah memberikan manik-manik kepada anak-anak, mereka berangkat menuju Bedar Alam. Gage dan Boelè  berjalan paling depan. Penghoeloe Kepala mengantarkan mereka sampai ke batas dusun. Pemuda-pemuda dusun dan beberapa orang perempuan juga ikut mengantarkan kepergian mereka.



Malam itu, di Bedar Alam, langit tampak cerah. Bulan bersinar terang. Goenoeng Toedjoeh dan puncaknya tampak jelas. Di rumah negari, tempat mereka menginap, seekor ikan mitar disuguhkan untuk makan malam. Bukan main besarnya ikan itu! Panjangnya sekitar 66 cm (tanpa ekornya) dan lingkar badannya 57 cm! Makanan rohani pun tersedia!

Radja Bandharo, Penghoeloe soekoe III Laras membacakan sebuah naskah undang-undang. Ia juga menunjukkan surat penghargaan yang diterimanya dari Schouw-Santvoort. Ia lalu menyimpan surat itu bersama dengan Surat Keputusan pengangkatannya sebagai penghulu suku di sebuah wadah bambu yang memang berfungsi sebagai tempat penyimpanan surat-surat.

Keesokan harinya, pagi-pagi, Veth berkeliling dusun membuat foto: sebuah rumah yang sangat panjang—lebih panjang dari rumah-rumah yang biasa terlihat. Di sebuah tongkat panjang yang dipasang di dinding rumah itu pemiliknya menggantungkan beberapa keranjang anyaman berisi ikan yang sedang dikeringkan. Ikan-ikan itu tidak diolah dengan metode pengawetan apa pun kecuali pengeringan oleh udara panas dari mentari. Ikan kering itu kemudian menjadi bahan makanan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Akan tetapi, metode pengawetan dengan sistem menjemurnya di matahari tentu saja menimbulkan bau busuk yang justeru tidak mengundang bebayang makanan nikmat.

Di beberapa rumah lainnya, tergantung keranjang-keranjang bambu yang berfungsi sebagai kandang ayam. Tongkat-tongkat pengait tersedia agar pemilik rumah dapat mencapai keranjang-keranjang ayam itu.

Beberapa ‘rengkiang’ beratap ganda—seperti mesjid. Beberapa rumah berjendela di atapnya. Jendela-jendela itu dapat dibuka (dan ditutup) dengan mendorong penutupnya ke atas.

Perempuan-perempuan di dusun itu—tua dan muda—mengenakan sarung yang dililitkan di tubuh. Secarik kain digunakan untuk menggelung rambut. Gelungan rambut itu tidak terlalu rapi, tetapi tetap enak dipandang mata.

Siang itu, beberapa orang datang meminta amunisi untuk mengusir gajah. Sejak beberapa hari sebelumnya, seekor gajah mendatangi sawah penduduk di malam hari. Hampir setiap pagi, gajah itu meninggalkan jejak-jejaknya di sawah dan tanaman padi yang hancur terinjak oleh kakinya. Sebetulnya, mengusir gajah itu tidak akan banyak membawa banyak hasil. Akan tetapi, bagi orang Melayu gajah bukan sekedar binatang besar saja.

Lucunya, beberapa hari kemudian mereka menyaksikan kerusakan tanaman kopi, bukan oleh ulah gajah, melainkan oleh informasi/penerangan para mantri kopi. Warga dusun sibuk menanam kopi di kebun-kebun. Atas saran mantri kopi, setiap dua bibit kopi ditanam di dalam lubang yang dalamnya sekitar 30cm. Hujan deras pertama yang turun pastilah akan menenggelamkan bibit-bibit kopi itu. Akan tetapi, rupanya hal ini tidak diingat oleh mantri kopi itu. Barangkali melihat keheranan van Hasselt, para petani itu bertanya apakah sistem penanaman yang dilakukan itu baik. Van Hasselt lalu menjelaskan syarat-syarat apa yang dituntut untuk keberhasilan pembibitan tanaman kopi dan menunjukkan cara penanaman bibit yang lebih baik.

Pada tanggal 23 November, mereka berangkat menuju Loeboe Gedang. Cuaca cerah. Sepanjang perjalanan, tampak orang sibuk sekali dengan  tanaman kopi di kebun-kebun. Di setiap dusun, semua orang—tua dan muda—sibuk membersihkan kebun dan menanam bibit-bibit kopi.

Rumah negari di Loboe Gedang, tempat mereka menginap semalam, untuk sementara berubah menjadi gudang kopi dan kepala gudang itu membangun tambahan di bangunan itu untuk keperluannya sendiri. Malam itu, hujan turun tanpa henti. Pagi tiba, hujan itu masih saja merintik turun. Awalnya, van Hasselt berencana akan berjalan ke Moeara Laboeh, tetapi rencana itu dibatalkannya saja. Hujan baru berhenti menjelang pk 13.30. Awan-awan kelabu menghilang satu per satu. Ia memutuskan untuk berjalan sampai ke Liki dan menginap di sana, sementara Veth menunggu di Loeboe Gedang sampai van Hasselt dan Snelleman kembali. Setelah berkumpul kembali, ketiga orang itu berencana akan bersama-sama mendaki ke Puncak Korintji.

Di Moeara Laboeh, van Hasselt dan Snelleman membicarakan secara rinci rencana pendakian itu. Mengingat sulitnya perjalanan yang harus ditempuh dalam pendakian itu dan kesulitan memperkirakan dan membayangkan rintangan-rintangan yang akan dihadapi, menurut van Hasselt lebih baik sedikit saja penjelajah Belanda yang berangkat supaya barang yang dibawa dapat dibatasi jumlahnya (ingat bahwa dalam setiap penjelajahan, tempat tidur lipat dan makanan kalengan selalu dibawa untuk penjelajah-penjelajah berkulit putih itu). Snelleman setuju dengan pemikiran itu dan ia mengusulkan agar dirinya pergi ke tempat lain saja untuk melanjutkan penelitian zoologi yang harus dilakukannya. Ia memutuskan untuk tinggal di Bedar Alam dan tinggal di sana selama sebulan bersama dengan van Gussem. Setelah sebulan di Bedar Alam, tentunya pendakian Korintji sudah selesai pula dilakukan.

Setelah keputusan ini, tim penjelajahan itu mempersiapkan keberangkatan dan membereskan segala urusan yang masih harus diselesaikan. Musim hujan sudah hampir tiba. Mereka tak dapat bersantai-santai membuang waktu. Sebagian besar barang-barang koleksi dan peralatan penjelajahan dapat ditinggalkan di markas ini karena ke tempat ini pula mereka akan kembali sebulan lagi. Rumah paling besar yang selama ini digunakan, disewa lagi untuk penyimpanan barang. Selama mereka mendaki ke Korintji dan menjelajah (lagi) ke Bedar Alam, rumah itu akan berada di bawah pengawasan Welsink.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

  Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.