Minggu, 22 Desember 2019 19:38 WIB

Tak Apa Menjadi Ibu yang Tidak Sempurna

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Ratna Dewi

Oleh: Ratna Dewi*

 “Konsep Ibu yang sempurna adalah reifikasi.



 Ia hanya ada karena kita mengkonstruksikannya”. (RD)

Baca Juga

Kabut Zaman

Pagi ini saya terbangun karena pesan WhatsApp dari anak-anak yang mengirimkan ucapan selamat hari Ibu. Disertai emoji hati dan mawar, kalimat yang mereka kirimkan membuat saya tersenyum. Bukan hanya anak-anak saya, beberapa aplikasi di layar HP juga mengucapkan selamat yang sama, tentu bukan hanya untuk saya, tapi untuk semua ibu di dunia. Buru-buru jemari saya juga mengetik sederet kalimat manis untuk dikirimkan ke Ibu saya di Depok. Hari ini rasanya hampir semua kita melakukan hal serupa. 

Saya lalu membuka salah satu narasi ucapan hari Ibu itu, di sana tertera “Untuk Para Ibu-Ibu Tangguh”. Sejenak, saya terdiam. Saya kok merasa tidak menjadi bagian dari yang disebut itu. Ibu-ibu tangguh. Saya ini ibu yang cengeng. Sangat. Kerap menangis kala rindu anak-anak. Menangis saat kesepian dan tak punya uang. Menangis ketika dicurangi. Menangis karena mendengar raungan si Atuk, kucing betina di rumah yang susunya bengkak setelah dua hari ini tiga anaknya hilang tak pulang. Saya juga sering merebakkan airmata membaca novel sedih atau menonton film drama. Lalu saya merasa kecil, lemah dan rapuh. Emosi kerap mendominasi. “Jangan Baper dong. Ilmuwan kok baper”. Begitu seseorang sering “memarahi” saya yang biasanya langsung saya jawab sewot kalau saya bukan ilmuwan.

Saya juga bukan ibu yang dalam banyak meme digambarkan sebagai “ibu sempurna”. Perempuan dengan tangan kanan memegang wajan, kiri menggenggam setrika, punggung menggendong anak balita, dada menyusui bayi, kaki menginjak kain pel, pikiran mengkalkulasi jurang angka kebutuhan belanja dengan gaji yang diterima. Semua itu akan lebih sempurna jika sang perempuan tetap bertubuh ramping terjaga. Berkulit putih dan wangi. Apalagi jika berseragam kantoran atau punya sejenis usaha.

Sungguh, saya jauh dari itu. Saya tidak masak karena lebih sering beli nasi bungkus. Baju di penatu. Mengepel seminggu sekali. Anak-anak sudah besar dan satu tahun terakhir saya titipkan pada ayahnya karena saya pindah kerja keluar kota. Sehari-hari saya di depan laptop dan ruangan kantor yang berAC. Sesekali ke lapangan yang justru terasa seperti liburan. Sejauh ini walau tak mudah, hidup saya terasa menyenangkan. Saya merasa tidak cukup menderita dan karenanya minder dengan sebutan ibu-ibu “tangguh”.

Ibu sempurna, dalam pandangan mainstream kita (atau sebagian besar dari kita) adalah ia yang hidupnya sedia menderita untuk keluarga. Untuk anak-anak dan suami tercinta. Simak saja pemberitaan atau kicauan media sosial kita, semakin kisah hidup seorang  ibu berlarat-larat dan menguras airmata, semakin ia dikatakan sempurna.  Ibu yang hebat juga adalah  ia yang dicitrakan sedia berkorban demi orang banyak. Para ibu-ibu Desa Kendeng, buruh Marsinah, Menteri Susi atau Mbak Najwa yang terampil berkata-kata.

Menteri Susi, misalnya, menjadi kurang dramatis “kesempurnaannya” jika tidak digambarkan sebagai sosok yang sedari kecil berada dalam jerat kemiskinan khas keluarga nelayan pantai utara. Tidak tamat SMP karena kurang biaya. Belum lagi kehidupan rumah tangganya yang mengalami tiga kali kawin-cerai dan penuh kontroversi. Susi tampil sebagai ibu “tangguh” karena mampu melewati fase-fase berat itu dalam hidupnya. Jika saja ia tergelincir dalam satu atau dua babakan, mungkin ia takkan muncul menjadi satu dari tokoh perempuan negeri ini yang disegani.

Lalu bagaimana dengan mereka yang gagal? Para perempuan yang gerak hidupnya menjauh dari standar umum yang alih-alih harus dipenuhi seorang Ibu?

Ingatkah anda awal tahun 2018 lalu,  seorang ibu di Surabaya bernama Puji Kuswati yang ikut meledakkan empat anaknya beserta dirinya dan suami dalam rangkaian bom bunuh diri di sebuah Gereja? Hujatan bertubi-tubi datang terutama dari mereka yang melabeli si ibu sebagai korban paparan ideologi radikal.  Penghakiman semacam ini tentu saja sangat ganjil karena pada saat yang sama, merujuk pada tuntutan mainstream, seorang istri harus patuh pada suami. Even if the husband is a terorist! Dan Puji, dalam hal ini, menunaikan kewajiban itu.

Berdasarkan telisik kejiwaan psikiatris, seorang psikolog memberi pandangan bahwa tindakan Puji melibatkan empat anaknya dalam peledakan itu, bukan lagi faktor patuh pada suami. Namun lebih karena kekhawatiran si ibu akan nasib keempat anaknya setelah ia dan suami terbunuh di medan jihad. Puji tak mau keempatnya menerima sanksi sosial seumur hidup. Juga ia mengganggapnya sebagai hal yang mengerikan membayangkan anak- anak itu harus tumbuh dan besar dalam asuhan rezim thogut

Jelas, bahwa naluri seorang ibu yang menggerakkannya! Bukan karena kepatuhan pada suami karena ia bisa saja tetap meledakkan diri dengan terlebih dahulu melepaskan anak-anaknya di tempat yang aman. Mengutip Phillip J. Resnick, seorang psikiater forensik, bahwa altruisme adalah salah satu alasan mengapa seorang ibu sedia membunuh anaknya, yaitu menganggap yang dilakukannya demi kebaikan sang anak.

Apakah masyarakat kita menilai Puji Kuswati seorang ibu yang baik? Yang tangguh?. Apakah ia layak menerima ucapan “Selamat hari Ibu wahai kamu yang telah meledakkan empat putra putrimu?”.

Bunuh diri saja membutuhkan keberanian luar biasa. Apalagi membunuh orang-orang tercinta. Dalam upaya bunuh diri yang sulit itu, seorang Puji masih memikirkan nasib anak-anaknya kelak paska ia tiada. Pilihan antara mengikuti perintah suami (atas nama agama) dengan intuisi ibu yang menginginkan anak-anaknya “selamat” membuat Puji memutuskan ikut meledakkan keempat anak tercintanya. Hati ibu mana yang lebih pedih dari seorang Puji Kuswati?

Mungkin akan menjadi lain ceritanya jika saja seorang perempuan, istri, ibu atau anak tidak melulu digambarkan “sempurna” jika mereka mengikuti atribusi kehendak mainstream. Ibu yang digambarkan sempurna adalah ia yang selalu bersama keluarga (entah makan atau kelaparan), yang anak-anaknya tumbuh menjadi orang hebat dan berguna (sementara publik menutup mata terhadap kontribusi sistem sosial yang carut marut dan mencemarkan anak-anak sedemikian rupa). Yang taat beribadah (dan mencibir perempuan yang tak menutup auratnya yang adalah wilayah privasinya). Yang teguh pada ikatan perkawinan (sumpah serapah bagi yang bercerai dan memuji perempuan yang sedia setia walau jiwa mereka keropos merana).

Mengapa masyarakat kita menjadi demikian penuntut terhadap para ibu? Apakah ini cerminan masyarakat patriakh yang karena ketidakmampuan dirinya, maka menuntut kesempurnaan yang lain untuk menutup kelemahannya? Mengutip perkataan Bahrun Naim, salah satu pimpinan ISIS asal Indonesia dalam buku Prof. Musdah Mulia tentang pelibatan perempuan sebagai pengantin, “perempuan meledakkan dirinya karena para lelaki telah menjadi demikian pengecut.”

Saya juga teringat cerita Mama Aletha, pejuang lingkungan dari Papua dalam sebuah diskusi yang diadakan Jurnal Perempuan. Mama mengisahkan tindakannya dan para ibu di Desanya memeluk erat pohon. Berjam-jam, berhari-hari. Mereka lakukan bukan karena rencana. Tapi karena putus asa mengusir kendaraan bermesin berat yang datang untuk menggilas tanah adat mereka atas nama konsesi yang diberikan negara.  Ketika mesin-mesin itu akhirnya pergi, mama dan kawanannya baru sadar, bahwa para kaum laki-laki telah lama mundur ke garis belakang. Gentar melihat mesin raksasa dengan kaki-kaki besinya yang perkasa, meremukkan tulang belulang manusia dalam waktu beberapa detik saja. Dan mereka tahu, itu bukan perkara yang mustahil terjadi di Papua. Mama Aletha muncul menyelamatkan tanah adatnya dari kepengecutan massal semacam itu.

Kembali lagi, saya merasa serupa remah-remah rangginang di kaleng biskuit Khong Guan. Bagi saya, Mama Aletha dan Puji Kuswati adalah dua role model. Yang satu dielu-elu, yang satu membuat lidah kelu.

Jika mama Aletha sedia menerima “kepengecutan” para kaum lelakinya, mengapa kita tak hendak menerima kebenaran bahwa konsep umum “ibu yang sempurna” itu adalah tiada. Ia tak lebih dari reifikasi, ada karena kita mengkonstruksikannya. Bagian dari kepandaian manusia dalam merumuskan sesuatu, mengkonstruksinya dan mempercayainya seolah-olah sesuatu itu ada.

Mengucapkan selamat hari ibu, bagi saya seharusnya juga dengan menerima mereka apa adanya. Ibumu, sesempurna atau selemah-lemahnya ia. Ibumu bukan pribadi yang selalu harus memenuhi kriteria umum yang menyesakkan itu. Kita tak pernah tahu apa yang bergejolak di kedalaman jiwanya. Juga karena kita sebagai manusia, tak semestinya menghakimi manusia lain. Apalagi ia seorang ibu. Perempuan yang melahirkanmu dan anak-anak bangsamu.

 *Penulis bergiat di Seloko Institute. Saat ini tinggal dan bekerja di Pekanbaru.


Tag : #Oase #Hari Ibu #Perempuan Tangguh



Berita Terbaru

  Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.