Minggu, 29 Desember 2019 17:35 WIB

"Remembering" Suprapto Suryodarmo

Reporter :
Kategori : Perspektif

Suprapto Suryodarmo. Sumber:livingmyth.ru

Oleh Riwanto Tirtosudarmo*

Subuh tadi seorang kawan mengabarkan kalau Mbah Prapto, sekitar jam 1.30 pagi, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saya agak kurang percaya, meskipun saya tahu sepulang dari tour panjangnya hampir empat bulan di Eropa (Perancis, Italia, Belanda, Irlandia, Spanyol, Jerman dan Inggris) Oktober lalu, sempat masuk rumah sakit karena jantungnya bermasalah. Pertemuan terakhir dengan beliau di Hotel Tentrem Yogya saat acara pembukaan Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) akhir November. Saat itu, seperti biasa beliau tampil anggun dengan senyumnya yang ceria, serta seragam serba hitam dan rambutnya yang tersanggul rapi.



Saya mengenal Mbah Prapto, panggilan akrab Suprapto Suryodarmo, relatif belum lama, kalau tidak salah ingat di Studio Mendut, pada suatu malam, mungkin lima tahunan yang lalu, saat itu Mas Tanto, menyelenggarakan sebuah pementasan tari dan musik, dan Mbah Prapto salah satu yang menari; selain, antara lain Mas Sitras Anjilin dari Komunitas Tutup Ngisor lereng Merapi. Sejak malam itu saya berusaha setiap kali ada kesempatan untuk ngobrol dengan Mbah Prapto terutama tentang pengetahuan dan pengalamannya yang mendalam tentang kejawaan. Ngobrol dengan Mbah Prapto berarti berdiskusi dua arah, saya tidak hanya menggali tetapi beliau juga meminta pendapat saya tentang suatu hal.

Ki-ka: Mbah Prapto, Riwanto Tirtosudarmo dan dua peserta lainnya. Dok. Riwanto.

Ketika ada kesempatan ke Solo saya berusaha menemui beliau. Sebagai orang tua beliau sangat egaliter dan tidak segan-segan memperkenalkan saya pada teman-temannya dari berbagai profesi, seingat saya, dengan Mas Teguh Yuwono, empu pembuat keris, dengan Prof Sahid, direktur Institut Jawanologi UNS. Beliau juga mengajak saya makan tengkleng di Tambak Segaran, langganannya. Kemudian saya juga tahu kalau beliau memang seorang "networker". Setiap kali katemu, selalu saja saya diberitahu apa agenda kegiatannya kedepan. Melaui WA beliau juga rajin mengirim kabar dan meneruskan rencana-rencana kegiatan kebudayaan yang menarik. Acara mendatang beliau yang sudah beredar "rundown" nya adalah di Tubaba (Tulang Bawang Barat) Lampung, yang diberi judul "Sharing Time: Megalitikum Milenial", 23-26 Januari 2020. Sebuah acara yang tidak hanya melibatkan peserta lokal tapi internasional, yang menunjukkan luasnya jaringan dan pengaruh beliau.

Mendapatkan gelar sarjana muda dari Fakultas Filsafat UGM, kemudian aktif di ASKI dan ISI Solo, membuatnya dekat dengan dunia akademia. Sebagai orang yang bergerak di dunia kesenian, karyanya banyak dan beragam. Tetapi yang kemudian menjadi trademark nya adalah sejenis tari yang dikenal sebagai gerak bebas, yang oleh Mbah Prapto sendiri dinamai Joged Amerta. Mengenang Mbah Prapto, bagi saya berarti paling tidak mengenang dua hal. Yang pertama adalah aktifismenya sebagai seorang penggerak kebudayaan, melalui jaringan dan kenalannya yang luas; dan yang kedua, adalah mengenangnya sebagai seorang guru, meskipun beliau tidak suka disebut guru, dari Joged Amerta, yang lucunya lebih menarik buat orang asing daripada orang Indonesia sendiri.

Dalam tulisan pendek di hari terakhir beliau ini, saya ingin mengenang beliau untuk hal yang kedua ini.  Baik saat pentas bersama murid-muridnya di Padepokan Lemah Putih, atau saat pentas di tempat lain, seringkali di pelataran candi; Joged Amerta sepertinya memang tidak memiliki pola dan struktur tertentu. Mbah Prapto hanya memberikan beberapa pedoman singkat, dalam bahasa campuran Jawa dan inggris; kemudian membiarkan murid-muridnya bergerak sendiri-sendiri mengikuti dorongannya masing-masing. Mbah Prapto sendiri akan bergerak, bisanya sambil "rengeng-rengeng", terkadang terdengar seperti irama lagu Jawa.

Karena muridnya kebanyakan orang asing, bahasa pengantar yang dipakai Mbah Prapto dalam menjelaskan prinsip-prinsip ajaran dan saat memberikan instruksi adalah dengan bahasa Inggris yang khas Mbah Prapto. Dugaan saya, semula merupakan istilah-istilah atau kata-kata yang asalnya dari bahasa Jawa, yang kemudian beliau terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tetapi dengan berjalannya waktu, dan predisposisi Mbah Prapto sendiri yang terus berkembang dan berefleksi, terbentuk kosa-kata yang menjadi menjadi "vocabulary" dari Joged Amerta.

Ket:Riwanto (baju putih) mengikuti sesi pelatihan Joged Amerta bersama Mbah Prapto. Dok. Riwanto.

Saya beruntung diperkenankan oleh Mbah Prapto mengikuti sebuah sesi pelatihan joged amerta yang setiap tahun secara rutin dilakukan oleh Mbah Prapto. Saat itu saya ikut  pelatihan yang diadakan di Pura Samuan Tiga di Bedulu Bali, selama sepuluh hari secara intensif dari pagi hingga malam hari, biasanya hanya ada jeda saat makan siang dan mekan malam. Tempat latihan selain di pelataran pura Samuan tiga juga di pelataran dan taman di Goa Gajah. Selain saya dan beberapa peserta dari Indonesia, mayoritas pesertanya dari berbagai negara, Jerman, Spanyol, Inggris, Irlandia, Mexico dan Cina.

Sebelum mulai latihan gerak, biasanya Mbah Prapto memulai dengan semacam pengantar tentang beberapa konsep dan prinsip yang menjadi semacam pedoman atau teori yang mendasari gerakan-gerakan yang akan dipilih oleh masing-masing peserta latihan. Meskipun Mbah Prapto tidak menyebutnya sebagai Yoga atau Samadi, namun dimensi "olah roso" yang bersumber dari tradisi kebatinan Jawa sangat terasa. Mbah Prapto juga tidak mengingkari pengalamannya sebagai penganut Sumarah, sebuah kelompok kebatinan di Solo, disamping yoga vipasana yang dipelajarinya dari seorang tokoh di Solo yang bernama Sudarno Ong.

Sejak awal saya memang bertanya-tanya, mengapa ajaran Joged Amerta dari Mbah Prapto begitu diminati oleh orang asing, dan bukan oleh orang Indonesia sendiri? Jawaban sementara yang saya peroleh dari pergaulan saya dengan Mbah Prapto adalah apa yang diajarkan rupanya memenuhi kebutuhan jiwa orang-orang asing itu tentang bagaimana memaknai hidup itu sendiri. Apa yang diajarkan dan dilatihkan oleh Mbah Prapto secara intensif selama beberapa hari itu memberikan pengalaman langsung bagaimana manusia menjadi bagian dari alam semesta.

Dengan latihan gerak yang diawali dan diakhiri penjelasan dan tukar pikiran antara Mbah Prapto dan pengikut latihannya, proses reflektif terjadi berdasarkan pengalaman dan latar belakang masing-masing, yang menghasilkan semacam pengayaan diri (self enrichment) yang akan dimaknai secara berbeda oleh setiap peserta latihan. Para peserta sejak awal sudah merasakan dan dengan berjalannya waktu meyakini bahwa mereka samasekali tidak sedang mempelajari sebuah paham keagamaan atau keyakinan spiritual tertentu. Tekanan Mbah Prapto yang selalu mengingatkan pentingnya tubuh, "sensing", "moving", "breathing"; menyadarkan peserta bahwa mereka tidak diajari untuk meraih hal-hal yang hanya bersifat abstrak-spiritual.

Bahasa menjadi unsur yang penting dalam Joged Amerta, dan istilah serta konsep-konsep yang dipakai dan pililih oleh Mbah Prapto berkembang menjadi sangat khas Mbah Prapto. Salah satu kata, dari sekian puluh kata yang diperkenalkan Mbah Prapto, sambil bergerak kita harus juga melakukan "remembering" dan "re-membered". Jika "remembering" diartikan sebagai "mengingat" sesuatu yang pernah kita alami, "re-membered" dimaksudkan oleh Mbah Prapto sebagai "mengutuhkan kembali" hal-hal yang tadinya terpisah-pisah.

Di mata saya, Mbah Prapto, adalah seorang pemikir dan pelaku Jawa yang penting, karena dengan kreatif dan juga radikal, telah berani melakukan rintisan dan eksperimen untuk membangun epistemologi baru tentang kejawaan. Dapat diterimanya apa yang dinamakannya oleh Mbah Prapto sendiri sebagai Joged Amerta, terutama oleh orang-orang dari "barat" membuktikan keberhasilan dari epistemologi baru yang dibangunnya itu. Secara akademis, beberapa buku dalam bahasa asing, di antaranya berupa disertasi, yang mengupas Mbah Prapto dan Joged Amerta-nya, akan menjadi "legacy" Suprapto Suryodarmo, yang akan kekal dan menjadi sumbangan penting bagi khazanah tentang Jawa yang akan terus berkembang, tidak peduli di sini atau di sana.

*Malang, Omah Saras, 29 Desember 2019. Penulis merupakan peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer.


Tag : #Sosok #Suprapto Suryodarmo #Joged Amerta



Berita Terbaru

  Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.