Selasa, 31 Desember 2019 16:27 WIB

Mariane Katoppo

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis.

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Mariane Katoppo meninggal pada tanggal 12 Oktober  2007, dalam usia 64 tahun, dikenal sebagai seorang pendeta Kristen, novelis, pemikir feminis. Novelnya, Raumanen (terbit pertama kali 1977), mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, Yayasan Buku Utama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Hadiah Sastra ASEAN; dan buku non-fiksinya Compassionate and Free: An Asian Woman's Theologyterbit tahun 1979 dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing.



Selain itu, Mariane Katoppo juga dicatat sebagai seorang aktifis yang terlibat dalam berbagai isu-isu sosial-politik, antara lain, pada tahun 1980 ikut membentuk sebuah kelompok yang menentang hukuman mati (HATI);  pada tahun 1991 bersama Gus Dur dan sejumlah intektual mendirikan Forum Demokrasi (FORDEM) mengadvokasikan pluralisme, kesetaraan warga negara dan demokrasi. Melihat kiprahnya, baik dalam dunia pemikiran maupun dalam dunia aktifisme, Marianne Katoppo bisa dicatat sebagai salah satu dari sedikit aktifis perempuan yang pemikirannya sudah mendahului zamannya.

Mariane Katoppo, seorang perempuan dengan latar belakang Kristen dan berasal dari sebuah etnis kecil, Minahasa, di Sulawesi Utara. Berdasarkan beberapa kali kunjungan ke Minahasa, saya mendapatkan kesan bahwa masyarakat Minahasa mewarisi tradisi pendidikan modern dari Belanda yang lebih dahulu dari masyarakat lain, di samping merupakan penganut agama Kristen yang kuat. Marianne Katoppo dibesarkan dalam keluarga yang telah terbiasa berpikir kritis yang merupakan modal dasarnya untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang pemikir, penulis dan aktifis yang terlibat dalam perubahan masyarakatnya. Mungkin tidak banyak dari kita, apalagi dari generasi yang lebih muda, mengenal sosok yang dapat disebut sebagai salah satu intelektual perempuan dengan latar belakang Kristen Protestan. Ketika hari ini isu minoritas-mayoritas menyeruak begitu kencang di ruang-ruang publik, mengingat kembali kiprah Marianne Katoppo rasanya diperlukan. "Triple minorities" yang disandangnya: perempuan, Kristen dan berasal dari etnis kecil Minahasa; menohok dengan telak berkembangnya semacam tirani yang absurd hari ini: tirani mayoritas.

Membaca buku-bukunya, baik novel maupun karya non-fiksinya; kita dapat belajar banyak dari Marianne Katoppo, meskipun"concern" utamanya bisa dipusatkan pada dua hal, pertama tentang keprihatinannya terhadap posisi perempuan yang masih mengalami diskriminasi dan marjinalisasi dalam lingkungannya, baik dalam keluarga, komunitas etnisnya, maupun dalam masyarakat yang lebih luas, dan yang kedua, yang tidak terlepas dari hal yang pertama; yaitu kegelisahannya terhadap terus berlangsungnya ketidakbebasan umat manusia; yang direpresentasikan dalam berbagai pengalaman ketertindasan, ketidakadilan dan ketidakmerdekaan.  Sebuah tulisannya yang menceritakan pertemuannya dengan Ivan Illich, seorang teolog kiri yang memperkenalkan sebuah teologi yang disebutnya sebagai teologi pembebasan, saya kira sejalan dan sangat menginspirasi pemikiran dan aktifitas Marianne Katoppo selanjutnya, bahwa berteologi berarti membebaskan manusia.

Ket: Mariane Katoppo. Sumber: idwriters.com 

Tatkala di tahun 1995 Pramoedya Ananta Toer dinobatkan sebagai penerima hadiah Ramon Magsaysay, sebuah keanehan terjajadi, komunitas intelektual Indonesia terbelah antara yang mendukung dan yang menolak pemberian penghargaan itu. Keanehan itu bagi Marianne Katoppo tampaknya tidak terlalu penting untuk dipertimbangkan ketika harus menjalankan tugas untuk mewakili Pramoedya menerima penghargaan itu. Pramoedya yang dipenjara selama 14 tahun tanpa proses peradilan, termasuk 10 tahun dibuang ke Pulau Buru; saat itu masih dilarang bepergian ke luar negeri. Bagi Marianne, mungkin, hanyalah sebuah kekonyolan, atau sikap kekanak-kanakan saja  untuk terlibat dalam pro-kontra penghargaan itu. Mengapa persoalan yang sudah begitu jelas dari sisi kemanusiaan dan kebebasan manusia masih harus dipertentangkan?

Hari-hari ini kita merasakan sebuah kehidupan bersama yang terasa semakin pengap. Betapa tidak, ketika kita saksikan seorang gubernur dari sebuah kota metropolitan, meraih kemenangannya dalam sebuah kontestasi karena lawannya dianggap telah menistakan agama. Juga, ketika seorang calon presiden harus memilih wakilnya dengan pertimbangan nggak akan menang kalau tidak memainkan kartu agama. Jika kita masih berpegang pada akal sehat, kita harus jujur mengakui bahwa politik kita hari ini telah mengalami kemunduran yang serius karena ketidakmampuan kita membendung merangseknya agama ke ruang publik.

Kesetaraan warga negara yang melahirkan republic ini, hari-hari ini telah menguap digantikan oleh politik identitas yang secara telanjang tampil dalam bentuk-bentuk tirani yang absurd, atas nama mayoritas-minoritas. Tidak terbayangkan sebelumnya begitu terancamnya nasib kaum minoritas di negeri ini; Ahmadiah, Si’ah, Kristen, LGBT, agama lokal dan komunitas adat. Setiap menjelang perayaan hari natal, kita digerayangi oleh rasa takut dan kekhawatiran karena akan terjadi gangguan keamanan pada mereka yang merayakannya. Lebih konyol lagi, ada larangan untuk mengucapkan selamat natal jika anda bukan orang Nasrani. Ketika dalam berbagai kesempatan kita menyatakan sebagai bangsa yang menghargai perbedaan namun dalam tindakan kita mengingkarinya, bukankah kita sedang hidup dalam sebuah masyarakat yang penuh dengan “hipocricy”, kemunafikan?

Politik identitas berkelindan dengan populisme, tampaknya tidak hanya mewabah di kandang sendiri, tetapi telah menjadi penyakit dunia. Di Eropa gejala itu muncul dalam fenomena Brexit yang membelah masyarakat Inggris. Di Amerika Serikat, terpilihnya Donald Trump, dan “impeachment” yang dilancarkan Partai Demokrat, menunjukkan terpolarisasinya warga negeri itu oleh isu-isu sektarian.  Melihat apa yang terjadi di belahan dunia lain, menunjukkan ternyata kita tidak sendiri. Ada gelombang zaman yang namanya politik identitas yang berlangsung bersamaan dengan ketidakadilan, represi politik serta kekhawatiran akan rusaknya alam semesta; sedang melanda dan mengancam warga planet bumi ini. Respon dan reaksi dari masyarakat terhadap kegelisahan bersama yang sedang dialami muncul dalam berbagai bentuk aksi protes terhadap para pemegang kekuasaan, seperti kita lihat hari-hari ini di berbagai belahan dunia dan negeri.

Saya kira sejak awal Marianne Katoppo menyadari pentingnya bergerak di tataran global. Latar belakang keluarganya yang kosmopolitan dan kemampuannya menguasai berbagai bahasa asing, serta pendidikan dan trainingnya di luar negeri, antara lain di Swiss dan Jepang, telah membuatnya terbiasa bergaul dalam kancah internasional. Bukunya "Compationate and Freedom", ditulis dalam bahasa Inggris, meskipun merepresentasikan keprihatinan lokal, ditawarkannya untuk pembaca yang bersifat lintas bangsa. Marianne bisa dibilang seorang intelektual publik yang mewakili "dunia ketiga" di panggung dunia. Sebuah peran yang masih sedikit diperankan oleh intelektual negeri ini.

Ketika, keprihatinan lokal semakin berhimpit dengan kecemasan global; ketika gejala lokal tak lagi bisa dilepaskan dari apa yang terjadi di belahan dunia lain; apa yang telah dirintis oleh Marianne Katoppo untuk memperjuangkan kesetaraan warga Negara tanpa lagi melihat perbedaan jender, orientasi seksual, etnisitas, ras dan agama; sungguh semakin relevan. Mengenang Marianne Katoppo mengingatkan kita akan pentingnya kesetaraan karena hanya dalam kesetaraanlah pemenuhan cita-cita kemanusiaan akan kebebasan, kemerdekaan, kemanusiaan, keadilan, dan mudah-mudahan kemakmuran, akan bisa direalisasikan.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik terbit saban Senin di rubrik Sosok Kajanglako.com


Tag : #Sosok #Mariane Katoppo



Berita Terbaru

  Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.