Senin, 06 Januari 2020 13:10 WIB

Th. Sumartana

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Apa yang terjadi, seandainya Th. Sumartana tidak meninggal pada 24 Januari 2003 dan terus memimpin DEMOS yang baru didirikannya bersama Asmara Nababan dan sejumlah intelektual lainnya? Tujuh belas tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam kurun waktu sepanjang itu kita menyaksikan tidak sedikit intelektual yang keluar masuk di pemerintahan, sebagian kita tahu karena balas jasa dari presiden yang telah didukungnya dalam pemilihan yang lalu.



Seseorang seperti Th Sumartana, betapapun, sulit kita bayangkan akan duduk menjadi bagian dari rezim yang sedang berkuasa. Asmara Nababan, sahabatnya, merasa ada yang lucu ketika mendengar Th. Sumartana, ikut membentuk sebuah partai baru yang didirikan di awal reformasi. Konon, setelah keduanya bertemu, Asmara baru mengerti bahwa Th. Sumartana membayangkan partai baru itu menjadi semacam forum dialog, karena partai baru ini memang dibentuk oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama yang berbeda.

Apa yang diceritakan oleh Asmara Nababan tentang harapan Th. Sumartana terhadap partai baru itu sebagai forum dialog sangatlah bisa dimengerti. Melihat kiprahnya dan membaca tulisan-tulisannya, Th. Sumartana sangat terobsesi akan hadirnya sebuah masyarakat yang tidak tersekat oleh perbedaan dalam beragama. Skripsinya di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta yang berjudul "Soal-soal Teologis dalam Pertemuan Antar Agama" (1971), juga dalam disertasi doktornya yang diselesaikan dua dekade kemudian, di Vrije Universiteit Amsterdam Belanda (1992) adalah bukti konsistensinya untuk terus menggeluti problem klasik hubungan antar agama ini.

Th. Sumartana

Dalam kedua karya ilmiahnya itulah landasan berpikir Th. Sumartana tentang krusialnya hubungan antar keyakinan dalam beragama dan konflik yang ditimbulkannya sebagai persoalan yang perlu terus diupayakan solusinya. Mungkin, terlahir sebagai orang Jawa yang kristiani, menyadarkan posisinya sebagai bagian dari sebuah kelompok dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, namun pada saat yang sama menyembunyikan sengketa-sengketa internal yang di matanya tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonialisme yang dialami bangsanya. Keputusannya untuk mendalami dimensi sejarah keagamaan bangsanya inilah, dugaan saya, yang mendorongnya memutuskan untuk  memilih topik sejarah misi dan dilemanya di tengah kehidupan bangsanya, sebagai bahan untuk disertasi doktornya.

Judul lengkap disertasi itu adalah "Mission at the Crossroad: Indigenous Churches, European Missionaries, Islamic Associaton, and Socio-religious change in Java 1812-1936", yang telah diterbitkan oleh Penerbit BPK Gunung Mulia tahun 1993, hanya setahun setelah dipertahankannya dalam ujian doktornya. Salah satu bagian dalam disertasinya mengupas secara menarik pengalaman keagamaan dari Kartini, perempuan ningrat Jawa, istri Bupati Rembang yang sepeninggalnya dalam usia yang relatif muda meninggalkan kumpulan surat menyuratnya dengan sahabat-sahabaynya orang Belanda.  Oleh Th. Sumartana surat menyurat yang berkisah tentang dimensi keagamaan Kartini ditampilkan sebagai cermin ketegangan dan pergulatan batin yang dirasakan seorang Jawa dan Islam melihat diri dan masyarakatnya dalam hubungan dengan keyakinan dan keberagamaan orang Belanda dan kekristenan.

Dalam kata pengantarnya untuk buku kumpulan catatan pinggir Goenawan Mohamad jilid 1 yang terbit tahun 1983; kita bisa membaca ketajaman dan erudisi Th. Sumartana tentang makna intektual publik dan dilema-dilema yang dihadapi dalam konteks perubahan sosial politik yang dialami bangsanya. Di situ kita baca kalimatnya "idealisme tanpa pijakan realitas menjadikan orang pemimpi dan sekaligus pembohong. Sedang realisme tanpa nilai-nilai ideal akan menjadikan orang hidup tanpa martabat". Di bagian lain kata pengantar itu, dia tulis "...pemikiran skeptis memang tak jarang menjengkelkan orang, karena ia jauh dari kepentingan praktis. Dari satu segi - katakanlah segi pemegang kekuasaan - sikap semacam itu secara teknis sering disebut sikap seorang 'liberal'. Karena titik tumpunya bukan komitmen atau loyalitas terhadap kekuasaan, tetapi justru pemikiran ulang terhadap kekuasaan dan penggunaan kekuasaan. Sedang dari sisi lain - katakanlah sisi para pengritik keadaan - sikap skeptis dianggap sebagai sikap ragu terhadap perlunya perubahan. Keraguan yang akhirnya menelantarkan penderitaan para korban yang nyata dari keadaan. Dua tujuan dari dua sisi itu punya arah yang berbeda tetapi tuntutan yang sama - tuntutan untuk mengambil pihak".

Th. Sumartana meninggal pada usia yang relatif muda, 59 tahun, setelah lebih dari sepuluh tahun, sejak 1991 hingga 2003, memimpin sebuah lembaga yang berusaha membangun jembatan antar pemeluk agama yang berbeda, Interfidei. Th. Sumartana mungkin merasa perlu melangkah lebih lanjut, tidak terbatas pada forum dialog antar imam, yang barangkali dirasakan terbatas ruang geraknya, dan persoalan iman memang tidak mungkin dilepaskan dari konteks sosial-politiknya.

DEMOS yang didirikannya bersama Asmara Nababan, seorang intektual publik yang berbeda dengan dirinya yang lebih terbiasa bergerak di ruang pemikiran, adalah seorang aktifis kawakan yang rentang pengalamannya sulit dicari bandingannya. Asmara Nababan meninggal akibat kanker paru-paru 20 Oktober 2007,  dalam usia 61 tahun, menyusul Th. Sumartana, setelah 4 tahun memimpin DEMOS.

Menjelang 17 tahun sejak kematiannya, pada tanggal 24 Januari 2003, saya kira, harapan dan obsesi Th. Sumartana bahwa di negerinya bisa dilangsungkan kehidupan bersama tanpa dibatasi oleh sekat-sekat agama, tampaknya semakin jauh dari kenyataan, jika tidak dikatakan telah kandas di tengah jalan. Partai baru yang ikut didirikan dengan harapan akan menjadi forum dialog dari pendirinya yang lintas agama, ternyata tumbuh menjadi partai yang didominasi oleh tokoh-tokoh dari sebuah agama tertentu, menjauh dari niat awalnya.

Sepeninggal Th. Sumartana berbagai lembaga, institut, yayasan, atau perkumpulan didirikan untuk mencari jalan keluar dari ketegangan dan konflik yang timbul akibat perbedaan keyakinan dalam berkeagamaan itu. Kosa kata baru muncul seperti intoleransi, radikalisme; dan berbagai proyek dan program dengan dana besar, dari dalam maupun luar negeri; diperebutkan untuk menggarap persoalan itu. Tujuh belas tahun sejak wafatnya Th. Sumartana, meskipun kesibukan kita meningkat untuk mengatasi problem klasik hubungan antar agama ini, kita, jangan-jangan cuma riuh mengurusi badan wadagnya, tapi luput menangkap dan memahami rohnya - sesuatu yang lama menjadi obsesi Th. Sumartana.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik terbit saban Senin di rubrik SosoK kajanglako.com


Tag : #Sosok #Th Sumartana



Berita Terbaru

  Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang

Berita
  Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi

Inforial
  Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus

Berita
  Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020

Berita
  Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.