Selasa, 07 Januari 2020 17:52 WIB

Perjalanan Snelleman ke Moeara Ekoer

Reporter :
Kategori : Telusur

ilustrasi. Bentang alam dan Batanghari. (Ekspedsi Sumatra Tengah, 1877-1879)

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di Moeara Laboeh, seorang kuli bernama Mantri minta berhenti. Ia mengundurkan diri karena hendak kembali mengurus lapaunya yang terletak di jalan menuju Lolo. Tiba-tiba saja, Mantri datang lagi untk menagih hutang yang belum dibayar oleh Mandoer Kètè. Tak disangkanya bahwa perjalanan yang harus ditempuhnya cukup melelahkan padahal jumlah uang yang ditagihnya tak terlalu banyak. Ia duduk lalu bercerita bahwa Boelè dan lima orang kuli yang tinggal di Loeboe Gedang karena sakit kini sudah membaik dan memotong rumput untuk pangan kuda-kuda yang juga ditinggalkan di dusun itu.



Pada tanggal 10 Desember, Snelleman berangkat  menuju Moeara Ekoer melalui jalan yang kini berlumpur dan licin karena hujan deras malam sebelumnya. Padi, yang tumbuh di ladang dan sawah berpagar, belum tampak subur. Tanaman-tanaman itu belum pulih setelah kekeringan lama dalam musim kemarau. Kubangan kerbau sudah kembali terisi air, tetapi hanya beberapa ekor kerbau saja yang tampak di jalan.

Sebelum tiba di ladang Penghoeloe Kepala, tiga orang lelaki dari XII Kota melewati mereka. Di punggung, mereka menggotong keranjang-keranjang berisi beras yang baru saja diambil dari Soengei Pagoe. Ketiga orang itu tak banyak berbicara.

Snelleman dan rombongannya berjalan lamban. Sebetulnya tak ada yang penting dilakukan di Moeara Ekoer dan perjalanan itu dilakukan untuk mengumpulkan spesimen botani. Di ranting-ranting terbawah sebuah pohon, tampak semacam panggung yang terbuat dari ranting dan dedaunan. Kemungkinan panggung itu dibangunan oleh seseorang yang kemalaman di jalan. Di atas panggung sederhana itu, ia dapat tidur dan beristirahat tanpa harus takut diserang harimau atau binatang lainnya.

Rumah-rumah di Moeara Ekoer sangat terlantar dan tampak rapuh. Rasanya rumah-rumah itu dapat dirubuhkan dengan mudah dengan menggunakan sebatang kayu yang kokoh. Dilihat dari dekat, ternyata hampir setiap rumah dibangun dengan aneka-ragam bahan yang diikat-ikat menjadi satu. Sebuah jalan diperkeras dengan bebatuan memotong dusun, menuju ke tepian Soengei Sangir. Bila sedang pasang seperti saat ini, sungai itu sungguh membuat yang menyaksikannya terperangah. Dua per tiga lebarnya dibendung warga dusun untuk keperluan penangkapan ikan, yang rupanya dilakukan dengan teknik yang berbeda dengan yang biasa dilakukan di Bedar Alam.

Dalam perjalanan pulang, Snelleman berusaha membeli pisang. Sia-sia karena semua orang yang ditanya menjawab bahwa pisangnya belum matang. Ketika ia menceritakan hal itu kepada Penghoeloe Kepala, tiba-tiba saja ada pisang yang sudah matang dan dapat dibeli olehnya! Barangkali dengan modal semangat dari pisang-pisang matang itu, perjalanan pulang lebih cepat daripada perjalanan ketika pergi. Menjelang siang, mereka sudah tiba kembali di pondok. Snelleman puas. Mereka berhasil mengumpulkan banyak serangga.

Pada tanggal 11 Desember, Snelleman berjalan-jalan keliling Bedar Alam. Rasa herannya tak habis-habis melihat betapa rumah-rumah di dusun terlantar. Warga dusun tampaknya tidak tergerak untuk merawat rumah. Ukiran-ukiran yang rusak tak diperbaiki padahal bila itu dilakukan, pastilah dusun itu akan tampak seperti keadaannya di masa lalu, asri dan rapi.

Di dekat sebuah lumbung, Snelleman duduk di atas batu dan mengeluarkan kertas dan pinsil untuk menggambar ukiran yang menghias dinding lumbung itu. Dalam waktu singkat, anak-anak Bedar Alam ramai menontonnya. Setiap kali ia berdiri untuk melihat detil ukiran di lumbung itu, anak-anak itu berhamburan berlari menjauh. Beberapa saat kemudian, mereka mendekat lagi. Snelleman mengeluarkan manik-manik dari tasnya. Tanpa berdiri, ia menunjukkan manik-manik itu ke seorang anak perempuan. Diiringi sorak-sorai dari anak-anak yang merasa berani, anak perempuan itu mendekat perlahan dengan wajah takut seperti orang yang hendak mendekati harimau yang buas. Ia cepat-cepat berlari menjauh setelah menggenggam manik-manik itu. Snelleman pura-pura tidak memperhatikan anak-anak itu. Tak lama kemudian, sesisir pisang sebagai tanda terima kasih diletakkan seseorang di dekat batu tempatnya duduk.

Ia berjalan lagi melewati perempuan-perempuan yang sedang bekerja di halaman dan beberapa lelaki yang sedang membetulkan pagar rumahnya sampai ke masjid. Masjid itu sendiri tidak istimewa,  akan tetapi bangunan itu terletak di lapangan terbuka dan dinaungi oleh pepohonan yang tinggi dan rindang. Seperti juga di rumah-rumah penduduk, balka masjid pun digantungi keranjang-keranjang untuk mengeringkan ikan.

Sebuah kanal tanpa air mengelilingi masjid itu dengan jembatan yang terbuat dari pohon sebatang. Dari lapangan di depan masjid, ada jalan kecil (yang sepertinya dibuat untuk tupai saking kecilnya) menuju jembatan gantung dari rotan untuk sampai ke ‘sindir’. Di sisi lain masjid itu terdapat pekuburan. Batu-batu kali menjadi penanda nisannya.

Jalan di Bedar Alam berputar dan berkelok di antara rumah-rumah di dusun. Seseorang yang belum mengenal dusun itu mudah tersesat memasuki halaman rumah orang. Pun itu dialami Snelleman. Sudah sering pemilik halaman rumah yang tak sengaja dimasukinya, menggerutu: “ Ini bukan jalan! Apa yang kau cari di sini?”

Suatu malam, ketika Snelleman sedang membaca buku di bangku di depan rumah, Djemain memperkenalkan seorang lelaki yang sepertinya hendak menceritakan sesuatu. Memang begitu. Lelaki itu bercerita bahwa beberapa orang dari daerah Soengei Pagoe—atau lebih tepat, Moeara Laboeh—kebetulan datang ke Loeboe Gedang. Sebuah bendera berkibar di puncak Korintji! Itu kata mereka.  Snelleman berdecak kagum. Betapa besar tiang Alangkah besarnya bendera yang dibawa oleh rekan-rekan yang mendaki gunung itu?

Lelaki itu masih bersemangat ingin membagi cerita. Dari puncak gunung, orang akan tiba di Korintji. Ia sendiri sudah pernah ke sana, lima tahun sebelumnya. Korintji, menurut lelaki itu, adalah daerah yang kira-kira sama luasnya dengan Soengei Pagoe. Daerah itu dingin sekali. Dinginnya kira-kira sama dengan cuaca suhu dingin Alahan Panjang.

Yang hendak pergi harus berjalan dari  XII Kota ke Tobo. Lalu? Lelaki itu diam. Mungkin ia lupa jalan yang pernah dilaluinya. Mungkin juga, ia tidak tertarik bercerita lagi.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telsusur #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

  Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang

Berita
  Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi

Inforial
  Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus

Berita
  Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020

Berita
  Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.