Senin, 13 Januari 2020 08:44 WIB

Asmara Nababan

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Di mana Asmara Nababan ketika Peristiwa 15 Januari (Malari) tahun 1974 meletus? Ketika sejumlah tokoh, sebagian besar intelektual ditangkap karena dianggap terlibat dalam protes terbesar di awal Orde Baru itu, nama Asmara Nababan seperti tidak tersangkut di dalamnya. Jika muncul pertanyaan seperti ini, semata karena ada semacam prasangka para intelektual penentang Orde Baru terkoneksi dalam sebuah kubu. Tapi prasangka itu jangan-jangan memang keliru. Mungkin, ada banyak kubu, ada banyak aliran, dan tradisi-tradisi yang berbeda yang membuat intektual Indonesia sesungguhnya sangat beragam.



Asmara Nababan tak mungkin dilupakan ketika membicarakan gerakan masyarakat sipil di negeri ini. Sosoknya sebagai aktifis sudah tercatat sebagai penentang Orde Baru sejak awal tahun 1970an. Bersama Arief Budiman dkk dia aktif dalam gerakan anti korupsi, KAK (Komite Anti Korupsi), demo menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang hanya menghamburkan uang rakyat, membentuk GOLPUT, sebagai perlawanan terhadap ketidakbebasan dalam Pemilu yang direkayasa Orde Baru.

Aksi-aksi protes yang dilakukan oleh Asmara Nababan, Arief Budiman dan beberapa aktifis lainnya, dilangsungkan secara damai dan tidak melibatkan masa yang besar. Keberanian untuk menentang rezim militer Suharto secara terbuka di awal tahun 1970an harus dicatat sebagai pembangkangan masyarkat sipil (civil disobedience), barangkali yang pertama, sejak kemerdekaan. Mungkin inilah cikal bakal dari gerakan masyarakat sipil (civil society) di Indonesia.

Periode awal tahun 1970an adalah periode yang penting dalam perkembangan politik di Indonesia. Imbas peristiwa G-3OS masih terasa di mana-mana, penangkapan dan pembunuhan mereka yang oleh rezim Orde Baru dianggap terlibat masih berlangsung. Dalam tubuh militer, sebagai pemenang dari kisruh politik 1965, konflik internal berlangsung sengit, berebut siapa yang paling berhak berkuasa. Meletusnya peristiwa 15 Januari 1974 pantulan dari konflik diantara para jendral di bawah Suharto, terutama antara Soemitro dan Ali Moertopo.

Berbeda dengan Th. Sumartana atau Ignas Kleden, yang lebih menekuni dunia pemikiran, Asmara Nababan memilih menggeluti dunia aktifisme yang menggelegak dan bergelora. Namun ketiganya, meskipun berasal dari suku dan tempat lahir yang berbeda, ini dugaan saya, memiliki tradisi kekristenan yang kuat, kekristenan yang telah melewati masa pencerahan,  juga kekristenan yang telah ditransendir ke dalam keyakinan universal,  keyakinan bahwa setiap manusia, apapun agama dan sukunya, terlahir dengan hak asasi yang melekat dalam kemanusiaannya, sebuah hak yang tidak dapat dihilangkan atas nama apapun.

Sebagai sebuah bangsa, kita tidak memiliki tradisi menghormati hak asasi manusia, seperti apa yang dialami di "Barat", karena sifatnya yang individual, sementara tradisi kita lebih cenderung komunitarian. Sebagai negara, konstitusi kitapun lebih condong pada paham komunitarianisme daripada individualisme. Secara akademik tampaknya memang ada persoalan diskrepansi di sana, tapi bagi Asmara Nababan, mungkin, terlalu mewah dan hanya menghabiskan waktu untuk berdiskusi, sementara pelanggaran terhadap hak asasi manusia begitu telanjang di depan mata. Para korban itu tidak bisa menunggu kita selesai berdiskusi, mereka membutuhkan uluran tangan segera.

Ket: Asmara Nababan. Sumber foto: Pamflet.or.id.

Asmara Nababan, menggunakan perspektif Th. Sumartana adalah intelektual yang tidak ragu dalam berpihak. meskipun kita tidak ragu aktifismenya dilandasi oleh pengetahuan yang mendalam tentang seluk beluk hukum yang dipelajarinya.  Tapi yang menjadikannya berbeda, mungkin, "conviction" nya sebagai orang Kristen, dan keyakinan yang tidak bisa ditawar akan universalitas hak asasi manusia. Rada sulit mencari bandingan buat orang sekaliber Asmara Nababan yang sejak awal Orde Baru, bahkan sebelumnya, telah turun ke jalan menentang penindasan dan ketidakadilan yang saat itu umumnya "committed by the state".

Selain turun ke jalan, Asmara merupakan tokoh yang telah membidani lahirnya berbagai LSM yang memperjuangkan hak asasi manusia dan demokrasi. Meninggal karena kanker paru-paru dalam usia 64 tahun, di hari yang menurut Ignas Kleden, sahabatnya, seperti sengaja dipilihnya sendiri, 28 Oktober 2010. Sepeninggalnya, pelanggaran hak-hak asasi manusia tidak lagi menjadi monopoli negara, meskipun "by ommision" negara ikut bertanggungjawab ketika pelanggaran dan persekusi politik dilakukan oleh aktor-aktor non negara.

Sejak serangan teroris ke gedung WTC New York 2001, dan peristiwa Bom Bali, 2002; kita menyaksikan perubahan besar dalam politik global. Tantangan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia tidak mungkin lagi dibatasi dalam batas-batas wilayah sebuah negara. Kesadaran akan hal ini sudah terlihat dengan keterlibatan Asmara dalam berbagai forum dan organisasi yang bersifat lintas bangsa. Bersama Marzuki Darusman diapun merintis terbentuknya Human Resource Center for ASEAN sebagai basis mengadvokasi HAM lintas negara.

Asmara Nababan, tidak merasa pantang untuk bekerja dari dalam tubuh negara, seperti dilakukannya dengan masuk menjadi anggota Komnas HAM yang didirikan oleh pemerintah Orde Baru, yang mungkin dipandang dengan sinis oleh para aktifis yang lain. Bersama Baharuddin Lopa, seorang ahli hukum yang terkenal kejujuran dan integritasnya, Asmara Nababan telah membuktikan bahwa Komnas HAM, bukan cuma lembaga pemanis sebuah rejim otoriter.

Dengan legitimasi yang dimiliki, juga dengan "courage" dan "conviction" yang lekat di hatinya, Komnas HAM yang dipimpinnya mampu mencapai banyak hal, dan yang lebih penting, berhasil menancapkan sebuah tradisi baru, penghormatan terhadap hak asasi manusia, melampaui batasan suku dan agama. Jejak Asmara Nababan bisa dilihat di hampir semua tempat yang mengalami pelanggaran hak asasi manusia, mulai dari Tanjung Priok, Semanggi, Timor Timur hingga Aceh. Bersama almarhum Munir, masih bisa dilihat fotonya mengangkat jenasah korban kekerasan di Timor Leste. Saya kira, Papua pastilah akan menjadi lokasi yang akan menjadi perhatian utamanya jika hari ini Asmara Nababan masih bersama kita.

Inilah "legacy" seorang Asmara Nababan, keberhasilannya menanamkan sebuah tradisi yang penting bagi generasi aktifis yang lebih muda. Sebuah tradisi perjuangan menegakkan prinsip dasar yang bernama hak asasi manusia. Baginya, inti demokrasi adalah hak asasi manusia, dan tidak ada demokrasi ketika hak asasi manusia dilanggar. Mengakui hak asasi manusia secara otomatis mengakui, dalam berdemokrasi, semua warga negara, tanpa kecuali berkedudukan setara. Penghilangan atau penyingkiran seseorang atau sekelompok orang semata karena alasan perbedaan agama, suku bangsa, kelas sosial dan ekonomi, orientasi seksual dan jenis kelamin; harus ditentang karena mengingkari hak asasi, hak paling dasar seorang manusia.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di kajanglako.com


Tag : #Sosok #Asmara Nababan #Hak Asasi Manusia #Orde Baru



Berita Terbaru

  Jelang Pilgub 2020
Selasa, 29 September 2020 15:35 WIB

Mulai Hari ini, Organisasi Keris Siginjai Bergerak untuk Pasangan Cek Endra-Ratu

Berita
  Jelang Pilgub 2020
Selasa, 29 September 2020 15:17 WIB

Ditegur Bawaslu, Mantan Aktivis ini Kritik Cara Berkampanye Paslon Haris-Sani dan CE-Ratu

Berita
  Selasa, 29 September 2020 15:05 WIB

Baru Bebas Asimilasi, Ridwan Kembali Dibekuk Lantaran Bawa Sabu

Berita
  Jelang Pilgub 2020
Selasa, 29 September 2020 15:02 WIB

Dukung Fachrori-Syafril, Ketua Koperasi Petani Karet Jambi Yakin Harga Karet Membaik

Berita
  Selasa, 29 September 2020 15:00 WIB

Badko HMI: Jaga Hak Konstitusi Pilkada Patuhi Protokol Covid-19 Secara Ketat

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.