Senin, 13 Januari 2020 08:53 WIB

Gajah yang Membuat Penasaran

Reporter :
Kategori : Telusur

Ilustrasi. Bentang Alam, Batangsangir, Bedar Alam. Ekspedisi Sumatra Tengah, 1877.

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dalam suatu perjalanan ke Loeboe Melaka, tiba-tiba Snelleman sadar bahwa semakin lama semakin banyak orang memagari dusun dengan cara yang lebih rapi. Dulu, di daerah ini dan di Bedar Alam, pagar yang melingkungi dusun bersandar pada batang pohon di depan dan belakangnya. Orang yang datang, memanjat batang pohon yang di depan, melewati pagar, lalu turun dengan menjejakkan kaki di batang pohon yang di belakang. Kini, pagar-pagar itu memiliki pintu dengan engsel yang dibuat dari rotan. Pintu itu ditutup dengan gagang dari rotan sehingga ternak tak dapat masuk ke dalam dusun.



Di luar pagar dusun terdapat rumah negari yang digunakan sebagai peristirahatan para penjelajah itu; kali ini bersama-sama dengan seorang warga Abei yang baru pulang dari membeli beras di Pasimpei. Di dalam keranjang yang dibopongnya di punggung sesuai kebiasaan orang dari XII Kota, ia membawa 20 soekoe beras yang dibelinya dengan harga ƒ4,- (5 sen per tjoepah). Selain lelaki itu, Snelleman dan rekan-rekannya juga bertemu dengan orang-orang lain yang membawa bebuahan dan dedaunan kopi. Di depan rumah itu terdapat jalan ke arah barat. Ke Talau. Perjalanan ke tempat itu memakan waktu dua hari satu malam. Dalam perjalanan, terdapat rumah penambang emas yang dapat digunakan untuk menginap.

Penghoeloe Kepala tidak muncul. Ia sibuk membangun jalan bersama warga dusunnya. Snelleman melihat kaum lelaki dusun itu berangkat bersama-sama ke arah Loeboe Gedang  membawa cangkul dan parang. Ia sendiri berkeliling di sekitar Bedar Alam sambil mengumpulkan serangga. Perasaan puas karena dapat melaksanakan tugasnya mendadak pupus ketika ia kembali ke rumah negari tempatnya menginap.

Mandoer Kètè sudah kembali setelah membeli minyak di Loeboe Gedang. Lelaki itu membawa serta beberapa koran dan sebuah telegram tertanggal 3 Desember dari Pruys van der Hoeven, Residen Palembang. Telegram itu menyampaikan berita duka bahwa rekannya, sesama penjelajah, Schouw Santvoort mendadak  meninggal dunia di Djambi pada tanggal 23 November.

Snelleman betul-betul terpukul. Sepi yang setiap hari terasa kini makin menekan. Walaupun van Gussem ramah dan baik, ia tak dapat mendalami duka cita yang dirasakan Snelleman. Van Gussem tidak mengenal Schouw Santvoort. Pada waktu duka seperti itu, Snelleman sungguh membutuhkan kebersamaan dengan teman-teman baiknya. Akan tetapi, teman-temannya kemungkinan besar sedang berada di puncak Goenoeng Korintji.

Seorang kuli yang sempat ikut mendaki gunung juga datang dari Loeboe Gedang bersama Mandoer Kètè. Ia bercerita bahwa mereka menginap lima malam di dalam hutan sebelum akhirnya menjejakkan kaki di puncak gunung yang bercuaca dingin. Dalam perjalanan, kaki kuli itu terluka sehingga diharuskan turun gunung untuk beristirahat dan berobat.

Walau tak sedingin puncak gunung, keesokan harinya, cuaca di Bedar Alam pun terasa jauh dari hangat.  Angin kencang bertiup dari tenggara diikuti hujan deras yang menghantam rumah mereka. Beberapa bagian atap berderak terlepas. Seorang kuli dengan sigap menggunakan sebatang bambu untuk naik dan memperbaiki atap itu.  Snelleman berdecak kagum. Dalam waktu singkat, lubang menganga di atap itu sudah tertutup lagi.

Pada saat-saat seperti ini ia heran bercampur kagum melihat kepiawaian penduduk setempat. Pada saat-saat lain, rasa kesal membuncah, terutama pada orang-orang yang datang meminta-minta. Walaupun hal itu tidak menyenangkan, akan tetapi cara yang digunakan untuk meminta sesuatu terkadang menggelikan. Pada suatu pagi, ia meninggalkan rumah untuk mandi di air Sangir. Seseorang mendekat. Tampaknya, ia memang sudah menunggu kedatangan Snelleman. Pada saat itu, kebetulan awan bergeser dan puncak Korintji tampak.

“Lihatlah, Toean! Gunung itu begitu tinggi! Dan teman-teman Toean ada di puncaknya!” Setelah mengagumi puncak gunung itu, matanya turun mengamati Snelleman yang sedang mandi.

“Bolehkah saya meminta sabun sedikit? Tak perlu banyak-banyak. Sabun yang  itu saja sudah cukup.”

Dari gunung turun ke tempat sabun! Segala permintaan didahului dengan obrolan berputar-putar tak karuan seperti siamang yang tak menemukan pohon. Sesuai dengan peribahasa Melayu. Tak pernah ada permintaan yang disampaikan secara langsung.

Pagi-pagi tanggal 15 Desember, 1877, beberapa orang warga datang. Menurut mereka, gajah yang dulu merusak sawah dan ladang mereka, kini datang lagi. Lagi-lagi binatang itu menerobos dan menghancurkan tanaman yang memagari sawah. Snelleman, van Gussem dan seorang kuli dari dusun segera berangkat ke sana. Setelah lama mencari, ketemulah jejaknya. Di sekitaran sawah, jejaknya memang tampak jelas, akan tetapi jejak itu menghilang di tanah kering yang ditumbuhi rerumputan rendah. Di sana-sini, jejaknya muncul lagi di batang-batang tanaman perdu yang hancur diinjak-injak.

Snelleman melihat serumpun perdu berbunga merah dengan bebuahan berwarna ungu. Tampaknya, rerantingnya baru saja patah-patah. Warga dusun yang melihatnya mengatakan bahwa ranting-ranting itu patah oleh ulah gajah atau harimau karena bebuahan ungu tadi digemari oleh gajah dan harimau.  Tak jauh dari rumpun perdu tadi, di dekat rawa-rawa, jejak gajah itu semakin jelas tampak. Jejak tapaknya yang besar membulat menunjukkan bahwa gajah itu besar sekali.

Kini, mereka semakin bersemangat mencari jejak. Tak mudah melakukannya karena gajah itu rupanya berpindah-pindah dan meninggalkan jejak di mana-mana. Arahnya pun tak jelas lagi, walau seorang warga dusun menjelaskan cara-cara membaca jejak yang ditinggalkan untuk menentukan arah yang dituju binatang itu.

Mereka terus berjalan, melewati rumpun bambu yang tumbang diinjak-injak dan pepohonan kecil yang tumbang ditarik gajah itu. Mereka melewati beberapa kubangan dan kali sehingga akhirnya tiba di sawah lain yang tampaknya juga telah didatangi gajah itu.

Pagar hijau di sekeliling sawah itu hancur. Akan tetapi, karena lahan  sawah/ladang itu sedang dipersiapkan, sisa pepohonan kecil yang tumbang sudah dibakar. Abu dan arang membuat sawah tampak berwarna kelabu. Sialnya, di atas abu, tak tampak lagi jejak gajah itu. Sia-sia mereka mencari jejaknya. Gajah itu—dan jejaknya—sudah raib. Dengan hati kesal dan rasa penasaran yang membuncah, para pemburu gajah itu  terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Siang itu, Snelleman menerima surat dari van Hasselt. Snelleman menarik nafas lega. Teman-temannya sudah berhasil mendaki gunung dan sudah selamat sampai di markas. Pikirannya melayang pada Schouw-Santvoort, teman sepenjelajahan yang kini tiada.  Tiba-tiba kesepian menyerangnya. Menyengat dan memberatkan hatinya. Ia ingin berada di antara teman-teman dekatnya. Ia memutuskan untuk kembali ke Loeboe Gedang.

Pada hari keberangkatannya, ia bangun, keluar rumah dan terpana. Dusun, yang selama ini ditinggalinya, yang seringkali tak tampak menarik di matanya, tiba-tiba seolah-olah menjadi lain. Setelah hujan, matahari yang terbenam tampak seperti lukisan. Ketika rona emas mentari telah menghilang di balik gunung dan perbukitan di barat, deretan awan di atasnya seperti diwarnai garis-garis abu-abu perak dilatari oleh sisa-sisa cahaya emas dari matahari. Puncak Korintji yang kini tampak seperti segitiga hitam di kelilingi oleh awan.

Sayangnya pemandangan indah seperti itu tidak pernah bertahan lama. Sapuan warna kelabu—mendung dan malam—seperti tirai, menutup keindahan alam itu. Setidak-tidaknya sampai bulan muncul di langit. Sinarnya yang sepertinya terasa dingin membuat segala sesuatu yang terkena sinarnya menjadi bagus dan lain dari yang lain.

Di bawah sinar rembulan, dusun itu tampak lebih ramah. Rumah-rumah dan lumbung-lumbungnya tampak rapi, cantik dan asri. Bebayang malam menyelimuti segala sesuatu yang di siang hari tampak kotor dan jorok. Di kejauhan, bentangan sawah tampak seperti samudera yang disinari cahaya lembut.

Snelleman bersandar lama di pagar yang melingkungi dusun. Ia betul-betul menikmati keindahan alam itu. Entah berapa lama berdiri di situ. Ia lupa waktu dan terkejut ketika suara seseorang memecah sunyi yang sedang dinikmatinya.

“Toean? Kau baik-baik saja? Sakitkah? Mengapa kau diam terbungkuk begitu?”

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Sejarah Sumatra Tengah



Berita Terbaru

  Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan

Berita
  Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.