Selasa, 20 April 2021 16:11 WIB

Gerak, Suara, Rupa: Sebuah Proses Pencarian

Reporter :
Kategori : Akademia

suasana workshop

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dalam salah satu bukunya, “An Essay on Man” (Esai tentang Manusia), Ernst Cassirer, seorang filsuf Jerman yang kemudian pindah ke Amerika karena sebagai Yahudi hidupnya terancam oleh Nazi; manusia dikatakannya sebagai mahluk yang mampu menciptakan simbol (animal simbolicum). Dengan kemampuannya menciptakan simbol itu, menurut Cassirer, manusia menciptakan seni, ilmu, mitos dan religi, bahasa dan sejarah.



Filsafat manusia Ernst Cassirer menjadi penting untuk dibaca karena kemampuannya dalam menjelaskan eksistensi manusia secara utuh dan bagaimana hubungannya dengan berbagai aspek penting dalam masyarakat seperti seni, ilmu, bahasa, sejarah, mitos dan religi. Di Indonesia, seperti juga terjadi di belahan dunia yang lain, ada kecenderungan berbagai aspek yang disebutkan oleh Cassirer itu dipandang sebagai terpisah antara yang satu dengan yang lain. Manusia tidak lagi dilihat secara holistik namun terfragmentasi dalam kotak-kotak.

Bambang Dwiatmoko adalah seorang sarjana musik yang menaruh perhatian pada fenomena bunyi atau suara - dia menyebutnya sebagai “soundscape”.  Bersama teman-temannya di Salatiga Bambang Dwiatmoko membuat grup musik yang diberi nama Saung Swara. Kekhasan dari pemusik Saung Swara adalah alat-alat musiknya yang dibuat sendiri dari bahan-bahan lokal. Alat-alat musik itu antara lain: Siter Sapek, Suling Shakuhachi, Gambang Kecil,  Bass Gitar, Perkusi Kendang, Kerinding Bambu dan Digiridu – alat musik tiup Aborijin yang dibuat dari kayu nangka; semua dibuat dalam sanggar Pak Meng, pemain sitar dalam Saung Swara.

Ket: diskusi seni

Saung Swara juga menciptakan lagu-lagunya sendiri, hibriditas antara lagu berbahasa Jawa, Indonesia dan Inggris. Grup ini memiliki seorang vokalis, Athan, sorang yang paling muda dalam grup ini, dengan bakat dan kemampuannya mencerap tradisi pewayangan Jawa klasik. Berbagai elemen unik yang dimiliki oleh Saung Swara menjadikan grup musik ini memiliki potensi untuk mengembangkan genre musik tersendiri, hibriditas antara tradisi dan kontemporer.

Pada tanggal 13 dan 14 April 2021 sebuah workshop diselenggarakan oleh Biro Pengembangan Mobilisasi Sumber Daya dan Pusat Studi Heritage Nusantara UKSW (Universitas Kristen Satya wacana) di Salatiga. Workshop  yang dihadiri oleh sekitar 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang profesi di seputar dunia seni dan akademi ini bisa dilihat sebagai sebuah eksperimen sosial.

Dalam workshop ini seni ditempatkan sebagai inspirasi bagi perubahan sosial dari masyarakat yang lebih luas. Perjumpaan dan perbincangan antara seniman, pegiat sosial dan akademisi dalam workshop ini berusaha untuk melihat tiga ekspresi seni yaitu gerak, suara dan rupa sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Workshop ini oleh karena itu tidak berangkat dari sebuah konsep tertentu yang sudah matang melainkan justru ingin mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang terkandung dalam kebudayaan sebagai inspirasi dan penggerak proses perubahan sosial. Perjumpaan yang terjadi melalui suara musik Saung Swara, gerak meditatif Joged Amerta dan rupa lukis di kanvas; diselingi oleh perbicangan reflektif dari seluruh peserta merupakan proses mengalami bersama sebuah peristiwa kebudayaan itu sendiri.

Saung Swara sebuah grup pemusik yang menggunakan berbagai alat musik yang dibuat sendiri dari bahan-bahan lokal dengan lagu-lagu yang diaransir sendiri seperti ingin menyuarakan keprihatinan terhadap berbagai masalah sosial dan lingkungan menjadi bagian yang penting dalam workshop ini. Secara khusus dalam workshop ini ditampilkan sebuah lagu yang berjudul "the seekers" yang terinspirasi oleh kisah pewayangan Dewa Ruci. Lakon Dewa Ruci menceritakan perjalanan Bima mencari Air Perwitasari, yang melambangkan sumber kehidupan. Yang menarik, penampilan musik Saung Swara disertai gerak meditasi Joged Amerta dari Atik Widyati, Christina Duque (Equador), Sitras Anjilin dan kawan-kawan dari Padepokan Cipto Budoyo Tutup Ngisor Merapi.

Di tengah kolaborasi gerak dan suara ini pelukis muda penuh talenta Sogik Prima Yoga menggelar kanvas dan melukiskan imajinasinya tentang pertemuan Bima dan Dewa Ruci. Kolaborasi gerak, suara dan rupa; secara tak terduga tampil sebagai sebuah kesatuan dalam proses kreatif kesenian yang mengalir indah menghanyutkan dan dengan hening dinikmati bersama oleh seluruh peserta workshop.

Ket: Foto bersama setelah workshop

Pada acara pembukaan workshop, Dr. Joseph Ernest Mambu, Pembantu Rektor IV UKSW Bidang Kerjasama mengajak peserta workshop untuk membaca kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantoro tentang makna pendidikan dan kebudayaan. Dalam kata sambutannya itu juga disinggung apa yang dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai "serendipity" sebuah peristiwa kebetulan yang justru seringkali sangat menentukan dalam eksplorasi atau proses pencarian pengetahuan yang baru.  Tampaknya, apa yang kemudian dialami bersama dalam upaya menampilkan musik, tari dan lukis dalam sebuah kolaborasi tanpa skenario itu adalah sebuah "serendipity" seperti diawal workshop disinggung oleh Dr. Joseph  Ernest Mambu.

Sementara itu, dalam sebuah sesi Dr. Agastya Rama Listya (Kelik) dari Jurusan Seni Musik UKSW menerangkan bahwa perpaduan antara bunyi, gerak dan rupa sesungguhnya merupakan hal yang biasa terjadi dalam seni tradisi yang menjadi bagian dari ritual keagamaan. Begitu juga dalam tradisi Yunani Kuno, musik selalu memiliki dimensi ketuhanan, sosial dan keseharian dalam kehidupan manusia. Tentang kesatuan antara seni musik, seni tari, seni rupa bahkan seni sastra, menurut salah satu peserta, Sitras Anjilin, paling jelas dalam pertunjukan wayang orang. Jelaslah, bahwa ketiga esensi kesenian yaitu gerak, suara dan rupa yang ingin ditelaah sebenarnya bukanlah merupakan fenomena kebudayaan yang baru.

Namun demikian, yang menjadi menarik adalah perkembangan disiplin pendidikan kesenian sebagai bagian dari akademia yang tampaknya menjadi semakin terspesialisasi dan membuat berbagai cabang kesenian seolah-olah terpisah antara satu dengan lainnya. Seperti kita tahu setiap cabang dipelajari sendiri-sendiri, seni musik, seni tari, seni rupa, seni kriya; terkotak-kotak dalam dunianya masing-masing. Dalam kaitan ini, kehadiran Dr. Titi Susilo Prabawa, Dekan Fakultas Interdisiplin UKSW dalam workshop, menjadi penting karena fakultas yang saat ini dipimpinnya memberi perspektif baru bahwa realitas sosial tak mungkin dipahami secara mono-disiplin jika diharapkan diperoleh sebuah pemahaman yang utuh dan holistik. Ilmu pengetahuan seperti juga seni adalah dua aspek yang menjadi kreasi simbolik manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Ernst Cassirer di awal tulisan ini.

Keseluruhan rangkaian acara dalam workshop kecil ini bisa dipandang sebagai sebuah proses pencarian bersama akan makna kehidupan. Keterlibatan peserta baik dalam mengekspresikan seni maupun dalam merefleksikan pengetahuan melalui diskusi dalam sesi-sesi maupun dalam perbincangan informal sepanjang dua hari itu merupakan penghayatan dan pengalaman bersama yang memberi arti yang bersifat personal bagi setiap peserta. Tanpa direncanakan misalnya, kehadiran pasangan musisi kontemporer, Adoy dan Bonita, memberi nuansa tersendiri dalam workshop. Penampilan bersama Adoy dan Bonita dengan grup Saung Swara menjadi paduan yang mengasyikkan bagi semua yang hadir. Sekali lagi sebuah momen "serendipity" terjadi tanpa di desain sebelumnya.

Barangkali bukan sebuah kebetulan jika enerji kreatif hadir dengan leluasa karena ruang workshop dari Rumah Bambu "Dancing Mountain" di pinggiran Kota salatiga yang hijau-teduh yang didesain apik pemiliknya, arsitek Budi Pradono dan dikelola kakaknya Esther, sengaja dipilih sebagai tempat workshop. Tidak dapat dipungkiri juga semangat yang selalu digaungkan oleh Ketua Pusat Studi Heritage Nusantara UKSW, Esthi Susanti Hudiono, telah menjadikan workshop kecil ini berjalan dengan ritme yang dinamis-provokatif sesuai dengan hasrat pencarian makna baru dari kehidupan sosial.

Di akhir workshop sebuah kesepakatan untuk membentuk sebuah paguyuban – yang diberi nama Paguyuban Dewa Ruci - terjadi secara spontan didorong oleh hasrat untuk melanjutkan proses pencarian yang telah diayunkan langkah awalnya. Mungkin suatu saat nanti tidak saja seni dan ilmu yang harus dipertautkan namun juga mitos dan religi, serta sejarah dan bahasa; sebagai bentuk-bentuk kemampuan simbolik manusia perlu dipertemukan dan diperbincangkan agar kehidupan bersama menjadi lebih kaya dan semakin bermakna

Dalam lagu maskumambang yang dilantunkan dengan merdu oleh Athan, diiringi Saung Swara, terdengar nasehat Dewa Ruci kepada Bima:

Sawangen cahya kang cumlorot mlengkung kae (Lihatlah cahaya yang melesat terang meliuk itu)

Yo kae dzat kang murba sakabehing ngaurip (Itulah zat yang mewadahi seluruh kehidupan)

Tanpa rupa, tanpa warna, tanpa wujud… (tanpa rupa, tanpa warna, tanpa bentuk…).

 

*Penulis adalah peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat di baca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Saung Swara #UKSW



Berita Terbaru

  Rabu, 23 Juni 2021 16:23 WIB

Sarolangun Tempat Nyaman Anak Punk Berkeliaran, PKL Harap Pol PP Segera Tertibkan

Berita
  Rabu, 23 Juni 2021 15:57 WIB

IWS: DPRD Sarolangun 'Illfeel' terhadap Aspirasi Pers

Berita
  Rabu, 23 Juni 2021 15:52 WIB

Terindikasi Lakukan Penyimpangan Anggaran, IWS Temui Bupati CE Tuntut Diskominfo Transparan

Berita
  Rabu, 23 Juni 2021 15:45 WIB

Covid-19 Klaster LP: 170 Napi dan Keluarga Sipir Terpapar

Berita
  Sosok dan Pemikiran
Rabu, 23 Juni 2021 10:26 WIB

Membaca Hatta dan Pasal 33 Itu

Akademia




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.