Sabtu, 04 Desember 2021 10:16 WIB

Globalisasi dan Indonesia: Post-script dan Post-humous.

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Jika globalisasi didefinisikan secara sederhana sebagai keterbuhungan apa yang terjadi di sebuah pojok bumi dengan apa yang berlangsung di pojok bumi yang lain, maka globalisasi bagi Indonesia bukanlah hal yang samasekali baru. Guru saya di Fakultas Psikologi UI, Profesor Slamet Iman Santoso sering mengingatkan kalau letak Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua lautan menjadikannya sebagai tempat persimpangan dari lalu lintas orang dengan berbagai kepentingan, antara lain untuk ikut menangguk kekayaan alam yang melimpah dari Indonesia. Jadi, jika kita ingin mengungkapkan pengalaman Indonesia dalam kaitan dengan globalisasi, kita harus menengok jauh ke belakang, ke sejarah Sriwijaya dan Majapahit, ketika pusat globalisasi belum berada di Eropa Barat dan Amerika seperti dipahami sekarang, namun masih berada di India dan Cina.



Ketika barat datang dengan semangat penaklukan, globalisasi menjadi kolonisasi, dan pertukaran peradaban yang semula lebih egaliter dan saling memperkaya, berubah menjadi penundukan dan eksploitasi. Barat yang kemudian merasa superior karena telah melewati zaman pencerahan dan menguasai ilmu dan filsafat, maka barat menjadi identik dengan industrialisasi dan kapitalisme. Sebuah buku yang menurut saya dengan bagus menggambarkan proses-proses pengalaman Indonesia dalam globalisasi ini adalah karya Denys Lombard, meskipun episentrumnya Jawa (Nusa Jawa: Silang Budaya); yang anehnya tidak saya temukan dalam daftar pustaka dari buku yang sedang kita bicarakan ini. Sebagai salah satu penulis dari buku ini saya kemudian sadar, sayapun ikut bertanggung jawab atas kekurangan ini. Buku, seperti setiap buku, memang harus dibaca dan kemudian dikritik, karena hanya dengan itu ilmu pengetahuan berkembang.

Buku ini lahir dengan sebuah semangat tertentu, yaitu semangat memberikan kesempatan bagi para sesepuh atau mereka yang menjelang pensiun untuk menuliskan bidang kepakarannya dalam sebuh tulisan yang bisa menjadi semacam peninggalan, atau setidak-tidaknya kenang-kenangan bagi mereka yang ditinggalkan, generasi peneliti yang lebih muda. Niat itu, oleh karenanya lebih merupakan niat untuk menghormati daripada niat untuk sungguh-sungguh mengembangkan ilmu.

Lima tulisan yang terkumpul dalam buku ini oleh karena itu jika diperhatikan sulit untuk menghindari adanya kesan sebagai semacam kompilasi dari berbagai pengalaman penelitian yang pernah dilakukan oleh penulisnya sebagai peneliti di pusat penelitian kemasyarakatan dan kebudayaan (PMB), Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI). 

Sejak awal memang tidak dibuat desain rencana penulisan secara ketat di samping tidak ada reviewer untuk menjaga kualitas dan koherensi antara satu tulisan dengan tulisan yang lain. Kata pengantar yang dibuat Muhamad Hisyam dibuat setelah semua tulisan terkumpul untuk mengikat agar semua tulisan itu berada dalam sebuah konteks yang sama.

Tulisan pertama, setelah kata pengantar yang ditulis oleh Muhamad Hisyam dan MN Prabowo Setyabudi, adalah tulisan lebih dari 80 halaman dari Abdul Rachman Patji yang berjudul "Transformasi Budaya Lokal di Indonesia. Tulisan kedua, hampir 100 halaman panjangnya, tentang globalisasi yang berlangsung di wilayah perbatasan, oleh John Haba. Tulisan ketiga yang tak kalah panjangnya tentang sejarah Islam ditulis oleh Muhamad Hisyam. Sementara tulisan keempat tentang penguatan daya saing tenaga kerja diuraikan oleh Bashori Imron. Tulisan terakhir tentang migrasi merupakan tulisan saya sendiri.

Kelima isu yang menjadi pokok bahasan dari buku yang diberi judul "Globalisasi dan Transformasi Sosial Budaya, Pengalaman Indonesia ini, yaitu budaya lokal, sejarah Islam, perbatasan tenaga kerja dan migrasi; bisa dikatakan memang merupakan isu-isu yang telah menjadi fokus perhatian dari para peneliti PMB yang sedang memasuki fase purna tugas itu.

Muhamad Hisyam yang harus meneruskan tugas menulis kata pengantar menggantikan John Haba yang wafat pada 11 April 2018 telah berusaha keras untuk memberikan konteks bagi lima tulisan yang sejatinya masing-masing berdiri sendiri-sendiri dalam sebuah kerangka berpikir yang berkisar pada hubungan timbal balik antara perubahan  sosial yang bersifat makro (globalisasi) dengan transformasi sosial yang lebih mikro sifatnya (interlinkage comprehensively concept, hal IX). 

Kelima isu yang menjadi tema utama kelima tulisan yang terkumpul dalam buku ini dalam kerangka berpikir yang ditawarkan oleh Muhamad Hisyam tersebut diandaikan sebagai bentuk-bentuk transformasi sosial yang bersifat mikro tersebut. Tidak lupa Muhamad Hisyam mengutip pendapat " globalisation's guru” Anthony Giddens yang mengatakan bahwa "membincangkan isu globalisasi itu salah kalau hanya memikirkan proses bertumbuhnya penyatuan dunia (growth of world unity). Globalisasi relasi-relasi sosial perlu dipahami terutama sebagai penataan kembali waktu dan jarak dalam kehidupan manusia" (hal. IX).

Muhamad Hisyam menurut hemat saya telah berhasil menulis kata pengantar yang sangat baik dalam arti telah mampu memberikan sebuah perspektif konseptual dan teoretik bagi pembaca buku untuk memasuki alur dan memahami tulisan-tulisan yang ada tanpa tersesat. Latar belakangnya sebagai sejarawan membuatnya mampu melihat berbagai bentuk transformasi sosial yang dialami oleh masyarakat dan bangsa Indonesia dalam perspektif "long duree" dan menegaskan adagium lama bahwa yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri.

Ketika sedang menyelesaikan kata pengantar itulah seorang lagi dari penulis buku meninggal dunia, Abdul Rachman Patji pada tanggal 1 Mei 2020, menyusul John Haba. Ketika keseluruhan draft buku beserta kata pengantar yang dibuatnya selesai, tak dinyana Muhamad Hisyam, wafat pada tanggal  18 Juli 2021. Kepergian secara berturut-turut 3 orang dari 5 penulis buku yang saat itu belum diterbitkan ini mendorong PLT Kepala PMB-LIPI, Ahmad Najib Burhani untuk segera menerbitkan buku ini sebelum penulis yang tinggal 2 orang yang masih hidup mengikuti jejak 3 penulis yang telah lebih dulu mangkat itu.

Skema kerjasama penerbitan yang telah dijalin antara PMB-LIPI dengan Penerbit Buku Kompas oleh Najib sangat membantu percepatan proses penerbitan buku ini. Dalam kaitan ini kita patut berterimakasih kepada Najib dan Prabowo yang telah bertindak cepat, di samping tentu saja pada Penerbit Buku Kompas yang telah memproses penerbitan sehingga buku ini dapat terbit dalam bentuk yang apik dan elegan.

Buku yang pada awalnya diniatkan menjadi ekspresi penghormatan dari sebuah lembaga penelitian pada mereka yang akan memasuki masa pensiun; sebagai salah seorang penulis saya patut merasa bangga karena kerja-keras kolega-kolega saya dalam menyelesaikan tulisan-tulisannya telah membuahkan sebuah buku yang cukup layak menjadi referensi bagi kalangan peneliti atau akademisi bahkan pembaca awam tentang sebuah isu besar yang menjadi sangat penting karena pengaruhnya yang tak terhindarkan lagi, yaitu globalisasi.

Buku ini juga menjadi unik karena menyajikan secara cukup komprehensif lima buah isu yang penting dan relevan bagi Indonesia. Pembaca yang berasal dari berbagai disiplin ilmu sosial yang berbeda dapat memilih isu apa yang menarik dan sesuai dengan disiplin dan wilayah kajian yang dimiliki dan diminati. Artinya buku ini tidak harus dibaca secara keseluruhan namun cukup dibaca bab mana yang paling relevan bagi setiap pembaca. Tidak dapat disangkal bahwa setiap bab yang ada dalam buku ini telah menyajikan pengalaman empiris yang sangat kaya yang digali oleh setiap penulisnya berdasarkan riwayat panjang penetian selama yang bersangkutan menjadi peneliti sosial dan budaya di LIPI.

Tentu saja sangat terbuka kemungkinan untuk memperdebatkan asimsi-asumsi, kerangka teoretik dan konseptual yang secara tersirat maupun tersurat dipergunakan di balik pemaparan data dan pengalaman empiris dari Indonesia dalam berhadapan dengan globalisasi. Kritik terhadap buku ini sangat diperlukan karena hanya dengan kritik ilmu pengetahuan akan berkembang dan mudah-mudahan bermanfaat bagi orang banyak.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com

*Tulisan di atas merupakan catatan untuk buku “Globalisasi dan Transformasi Sosial Budaya: Pengalaman Indonesia” – Penerbit Buku Kompas 2021.




Berita Terbaru

  Senin, 15 Agustus 2022 21:03 WIB

Bupati Kukuhkan 73 Anggota Paskibraka Kabupaten Dharmasraya

Berita
  Kopi Juaro
Senin, 15 Agustus 2022 11:18 WIB

Kopi Juaro Rilis Kopi Bubuk Kemasan, Zayyan: Pilihan Kopi Terbaik untuk Rasa Terbaik

Bisnis
  Senin, 15 Agustus 2022 10:56 WIB

Rayakan HUT Pertama, Opinia Perdalam Algoritma Pancasila

Berita
  Senin, 15 Agustus 2022 10:33 WIB

Peringatan Hari Pramuka ke-61 Berjalan Lancar, Sekda Minta Anggota Pramuka Terus Mengabdi Tanpa Batas

Berita
  Lomba Lari Candi Muaro Jambi
Minggu, 14 Agustus 2022 21:43 WIB

Ini Link dan Jadwal Pendaftaran Lomba Lari Candi Muaro Jambi 10 K

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.