Minggu, 02 Januari 2022 07:47 WIB

Fuad Hassan

Reporter :
Kategori : Akademia

Fuad Hassan. Sumber: Kompas/JB Suratno

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Fuad Hassan, guru besar psikologi Universitas Indonesia wafat pada 7 Desember 2007, 15 tahun yang lalu, dalam usia 78 tahun. Fuad Hassan yang wafat pada hari yang sama dengan wafatnya guru besar sejarah UGM Sartono Kartodirdjo, adalah generasi pertama ilmuwan sosial Indonesia pasca kemerdekaan.



Segenerasi dengan mereka adalah Koentjaraningrat, guru besar antropologi, dan Selo Sumarjan, guru besar sosiologi; keduanya dari UI dan juga telah meninggalkan kita. Saat ini, dunia ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan Indonesia memang telah ditinggalkan oleh sarjana-sarajananya yang terbaik; seperti Ong Hok Ham, Masri Singarimbun, Mubyarto, Umar Kayam dan juga Parsudi Suparlan. Generasi pertama ahli ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan pasca kemerdekaan ini diam-diam telah meletakkan sebuah tradisi ilmuwan sosial yang selalu terlibat dalam menggumuli masalah-masalah bangsanya.

Fuad Hassan, murid pertama dan penerus Slamet Iman Santoso, pendiri Fakultas Psikologi UI,  harus dicatat sebagai seorang ahli ilmu sosial non-ekonomi yang sejak zaman pra-Orde Baru telah aktif menjadi bagian dari sekelompok akademisi-intelektual yang secara serius memikirkan arah politik dan pembangunan di Indonesia.

Kelompok akademisi-intelektual yang secara longgar berada dalam lingkaran yang berpusat pada pemikir pembangunan Indonesia Widjojo Nitisastro ini bisa dikatakan sebagai sebuah kekuatan teknokrasi yang pernah ada di Indonesia. Kelompok akademisi-intelektual inilah yang jauh sebelum runtuhnya kekuasaan Presiden Sukarno di pertengahan tahun 1965 telah melakukan analisa-analisa sosial, ekonomi maupun politik tentang perkembangan yang sedang terjadi dan merancang skenario-skenario apa yang mungkin dilakukan setelah berakhirnya masa kepemimpinan Soekarno.

Secara resmi kegiatan para akademisi-intelektual ini dilakukan di kantor Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas), sebuah lembaga yang bernaung di bawah Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) dari Departemen Urusan Research Nasional, yang berlokasi di Jalan Gondangdia Lama 39, Jakarta Pusat. Widjojo Nitisastro, selain sebagai guru besar di FEUI adalah juga direktur Leknas - sebuah think tank yang pertama kali ada di Indonesia setelah kemerdekaan.

Salah satu hasil kajian dari kelompok teknokrat ini adalah sebuah buku kecil berjudul: “Masalah-Masalah Ekonomi dan Faktor-Faktor IPOLSOS (Ideologi, Politik, Sosial)”. Dalam buku yang dicetak sederhana dan relatif tipis ini (139 halaman)  kelompok akademis-intelektual di bawah kepemimpinan Widjojo Nitisastro menuangkan pemikirannya tentang berbagai isu strategis yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat itu.

Widjojo Nitisastro dalam bab pertama buku ini menulis ulasan berjudul “Persoalan-Persoalan Ekonomis-Tehnis dan Ekonomi-Politis Dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Ekonomi”, Ali Wardhana menulis “Masalah Inflasi Di Indonesia”, Emil Salim tentang “Politik dan Ekonomi Pancasila”. Selain mereka beberapa ahli ekonomi lain juga ikut menulis, seperti Subroto, Barli Halim, Kartomo dll. Fuad Hassan, menulis dua bab dalam buku ini, yang pertama memiliki judul sangat panjang “Beberapa Pertimbangan Untuk Mengkonkritkan Cara hidup Yang Teladan Bagi Para Pemimpin dan Tokoh Negara, pada Khususnya Para Pimpinan ABRI”, dan yang kedua berjudul “Ungkapan Seni-Budaya Sebagai Refleksi Penghayatan Kondisi Sosial Umumnya”.  Selain Fuad Hassan ahli ilmu sosial lain yang ikut menulis adalah Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi.

Sebuah peristiwa strategis lain, dimana Fuad Hassan memerankan peran penting sebagai bagian kekuatan kelompok akademis-intelektual sebelum lahirnya Orde Baru adalah sebuah seminar besar yang mengambil tema “Menjelang Tracee Baru”, di kampus UI Samba pada tanggal 10 Januari 1966.

Seminar ini sangat penting karena merupakan akumulasi dari kekuatan kelompok akademis-intelektual yang berbasis kampus dalam memberikan sumbangan pemikirannya untuk keluar dari impase politik dan ekonomi yang sedang melanda Indonesia menyusul tragedi politik besar pada tahun 1965.

Fuad Hassan adalah seorang “concerned intellectual” yang secara aktif terlibat dalam ikut mempengaruhi arah politik bangsanya pada saat-saat yang sangat genting. Indonesia pasca 1965 memasuki sebuah periode politik baru dimana kita menyaksikan munculnya kekuatan politik yang tidak merepresentasikan partai politik atau kelompok sosial tertentu dalam masyarakat.

Kekuatan politik baru yang muncul bersamaan dengan lahirnya Orde Baru ini bersumber pada kekuatan pemikiran yang berdasar pada pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh kelompok tersebut. Inilah yang saya sebutkan sebagai kekuatan teknokrasi dimana orang-orang yang berada di dalamnya dikenal sebagai para teknokrat yang menjadikan pembangunan sebagai satu-satunya ideologi mereka.

Bukanlah sebuah kebetulan jika sebagian besar anggota kelompok teknokrat ini adalah para ahli ekonomi. Ilmu ekonomi – khususnya ekonomi pembangunan – adalah ilmu pengetahuan yang harus diakui sebagai ilmu sosial yang paling siap untuk menterjemahkan pemikiran dan pengetahuan kedalam berbagai bentuk kebijakan pemerintah untuk keluar dari berbagai kemelut ekonomi yang dihadapi saat itu.

Tingkat inflasi yang mencapai 600 persen misalnya adalah salah satu masalah yang bisa dimengerti hanya bisa dipecahkan oleh para ahli ekonomi. Kebutuhan akan modal untuk membangun juga merupakan sebuah masalah yang hanya para ahli ekonomi yang memahami kebijakan apa yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya.

Adalah sangat menarik melihat peran dan sikap Fuad Hassan sebagai seorang ahli ilmu sosial non-ekonomi ketika menghadapi kenyataan bahwa dominasi peranan ahli ekonomi menjadi sangat besar dalam kekuatan teknokrasi awal periode Orde-Baru. Pada masa ini kita mulai melihat munculnya kritik terhadap arah pembangunan yang sangat menekankan pertumbuhan ekonomi, di samping mulai dirasakannya peranan militer yang represif dalam menentukan arah pembangunan politik.

Kita mencatat mulai munculnya gerakan-gerakan mahasiswa dan intelektual yang mempertanyakan arah pembangunan dan berbagai isu yang muncul, seperti isu korupsi, pengerdilan partai politik, pembangunan TMII dan sebagainya. Menghadapi perkembangan politik bangsanya sikap Fuad Hassan terlihat dengan jelas dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar ilmu psikologi di Fakultas Psikologi UI pada tahun 1972. Isi pidato Fuad Hassan di samping memperlihatkan kecerdasannya sebagai seorang pengamat sosial yang tajam menunjukkan sikapnya sebagai committed scholars yang sangat menyadari akan kewajibannya untuk tidak berpangku tangan dan berhenti pada analisis namun harus turun kelapangan memberikan sumbangan bagi koleganya para ahli ekonomi yang telah terlibat mendalam dalam pembangunan Indonesia.

Ilmu psikologi dan ilmu sosial non-ekonomi lainnya menurut Fuad Hassan harus mampu memberikan analisis dan jalan keluar dari berbagai masalah yang ditimbulkan oleh pembangunan ekonomi. Sebagai seorang pengamat sosial yang tajam Fuad Hassan telah menyadari bahwa pembangunan ekonomi harus diimbangi oleh pembangunan sosial dan politik yang memadai dan sejalan dengan pembangunan ekonomi. Sikap semacam ini juga secara jelas diperlihatkan oleh seorang pemikir besar Indonesia lainnya, Soedjatmoko, yang pada awal Orde Baru sempat menjabat sebagai deputi ketua Bappenas bidang sosial-budaya dan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat.

Fuad Hassan  adalah seorang ilmuwan sosial non-ekonomi yang secara sadar melakukan pilihan politik untuk bekerja bagi pemerintah Indonesia – betapapun mungkin dia melihat betapa sulitnya medan yang dihadapi. Barangkali menarik untuk mengenang Fuad Hassan sebagai seorang intelektual yang tidak pernah menghujat secara terbuka mereka yang sedang berkuasa di era Orde-Baru. Beberapa tahun yang silam, dalam sebuah kesempatan diskusi yang membicarakan situasi masyarakat setelah turunnya Soeharto, ketika mereka yang lebih muda seperti melakukan penghujatan terhadap rejim Soeharto, Fuad Hassan berusaha mengingatkan untuk melihat kenyataan dari sisi yang lain. Sebuah suara yang terdengar agak menyimpang ketika semua orang seperti berlomba menyalahkan Soeharto. Mungkin inilah kualitas lain dari Fuad Hassan yang harus dikenang, pendekatannya yang holistic dalam melihat persoalan masyarakat dan wawasannya yang humanis.

Sejauh yang kita ingat, sampai akhir hayatnya Fuad Hassan tidak pernah merubah sikapnya dalam berhadapan dengan pemerintah Orde-Baru. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan (1985-1993) jabatan publik yang diembannya adalah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Fuad Hassan mungkin adalah contoh bagian dari kekuatan teknokrasi yang loyal dan mencurahkan segenap pemikiran dan tenaganya bagi perbaikan masyarakat melalui negara. Fuad Hassan adalah salah satu tipe dan model ilmuwan sosial yang berusaha menjawab tantangan zamannya. Adalah hak sekaligus kewajiban setiap ilmuwan sosial penerusnya untuk merumuskan apa yang menjadi tantangan zamannya dan memilih jalannya sendiri dalam ikut menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi bangsanya. Dalam lingkungan dekatnya di Fakultas Psikologi UI terpilihnya belum lama ini Bagus Takwin seorang yang mungkin menjadi murid terakhir yang dibimbingnya ketika menulis tesis doktornya sebagai Dekan, menandai estafet akan pentingnya ilmu psikologi bagi pemecahan masalah-masalah bangsa yang semakin kompleks.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #akademia #fuad hassan



Berita Terbaru

  Senin, 15 Agustus 2022 21:03 WIB

Bupati Kukuhkan 73 Anggota Paskibraka Kabupaten Dharmasraya

Berita
  Kopi Juaro
Senin, 15 Agustus 2022 11:18 WIB

Kopi Juaro Rilis Kopi Bubuk Kemasan, Zayyan: Pilihan Kopi Terbaik untuk Rasa Terbaik

Bisnis
  Senin, 15 Agustus 2022 10:56 WIB

Rayakan HUT Pertama, Opinia Perdalam Algoritma Pancasila

Berita
  Senin, 15 Agustus 2022 10:33 WIB

Peringatan Hari Pramuka ke-61 Berjalan Lancar, Sekda Minta Anggota Pramuka Terus Mengabdi Tanpa Batas

Berita
  Lomba Lari Candi Muaro Jambi
Minggu, 14 Agustus 2022 21:43 WIB

Ini Link dan Jadwal Pendaftaran Lomba Lari Candi Muaro Jambi 10 K

Olahraga




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.