Sabtu, 30 Juli 2022 09:24 WIB

Pelacur dan Wanita Tuna Susila

Reporter :
Kategori : Akademia

Ilustrasi.(SHUTTERSTOCK). Diambil dari kompas.com

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Mochtar Lubis, kalau diibaratkan seekor harimau barangkali adalah harimau yang paling keras mengaum mengenai soal-soal seperti ini. Maksudnya yang menyangkut penghalusan bahasa (euphemisme). Dia menggelitik benak kita untuk memikirkan kembali penggunaan kata-kata seperti komersialisasi jabatan, lembaga pemasyarakatan, wanita tuna susila dan kata-kata lain yang sering keluar dari mulut kita, orang orang yang sopan dan berbudaya.



Mengapa kita mesti mengganti kata-kata yang sebenarnya sudah tepat, gertaknya! Kenapa pelacur mesti diganti menjadi wanita tuna susila, korupsi mesti dikatakan sebagai komersialisasi jabatan, mengapa penjara mesti dirubah menjadi lembaga pemasyarakatan.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam kesadaran kolektif kita, moralitas kita? Apa yang berubah dengan kesadaran bermasyarakat kita sesungguhnya dengan gejala kegemaran menghaluskan kata-kata tadi? Mungkinkah gejala semacam ini mengindikasikan semakin halusnya perasaan kita? Semakin berbudayanya bangsa kita? Semakin peka hati nurani kita terhadap keluhuran, kesucian, nilai-nilai moral. Apresiasi yang meningkat terhadap kemanusiaan, hak-hak asasi? Semakin jauh dari hati nurani kitakah ide akan kekotoran, kebusukan, kekerasan dan penindasan?

Kita ini ibarat orang gedongan yang emoh sepatunya menginjak jalan yang becek di kampung. Seperti gadis kota yang anggun mau muntah melihat mamang-mamang dari udik yang sedang menggosok lehernya dengan PPO karena mual akibat baru sekali naik kereta Parahiyangan. Nampaknya memang ada yang sedang berubah dalam kesadaran kolektif kita, moralitas kita. Masalahnya berubah menjadi apa dan apa artinya?

Cobalah kita rasa-rasakan, kita banding-bandingkan antara kata pelacur dan kata wanita tuna susila. Pelacur artinya perempuan yang menjual diri pada laki-laki hidung belang. Namanya saja, menjual, tentu maksudnya mendapatkan untung, mendapatkan uang. Sedangkan wanita tuna susila, rasa-rasanya memiliki arti jauh lebih luas dari sekedar pelacur. Kira-kira artinya adalah wanita yang sudah cacat moralnya, cacat susilanya. Tapi dengan demikian apakah hanya pelacur yang umumnya wanita itu yang cacat susilanya? Apakah laki-laki yang memakai si pelacur untuk memuaskan nafsu syahwatnya bukan tuna susila? Seorang pejabat korup bukanlah cacat moralnya? Apakah seorang ilmuwan yang memanipulasi data bukan seorang tuna susila? Seorang wartawan yang terima suap bukan cacat moralnya? Mengapa hanya wanita yang kita lihat menjual diri sebagai pemuas nafsu pria kita mengenakan istilah tuna susila? Apakah itu cacat susila yang paling besar dalam masyarakat kita?

Sedemikian sopankah masyarakat kita? Pernahkah kita sebagai orang-orang sopan dari masyarakat yang berbudaya luhur mencoba mengetahui kenapa ada orang yang demikian busuk sehingga mau menjual kehormatannya?

Saya yakin ada bermacam macam sebab mengapa seorang gadis memilih menjadi pelacur. Walaupun tidak dipungkiri bahwa dorongan mencari uang dengan segera merupakan dorongan yang terbesar. Dorongan mencari uang adalah dorongan ekonomi. Apalagi dalam jaman sulit seperti sekarang. Di Pulau Jawa ada daerah-daerah antara Krawang sampai Kuningan. Daerah ini pada masa-masa subur merupakan daerah penghasil padi yang terbesar di negara kita. Tapi begitu musim paceklik, daerah ini berubah menjadi produsen pelacur. Kenapa demikian? Karena memang hidup sekarang susah. Cari pekerjaan lain suit. Mereka kemudian rame-rame menjual diri.  Logis bukan kalau sawah kering, mereka kemudian rame-rame menjual diri ke Jakarta, dimana pasaran pelacur tinggi. Apalagi sesudah, kenop lima belas.

Rupanya ada hubungan yang erat antara kepelacuran dan kultur, maksudnya kultur ekonomi orang miskin. Sebagai orang miskin mereka adalah orang-orang yang sederhana cara berpikirnya. Di pihak lain sebagai orang yang melarat merekapun rupanya adalah orang-orang yang sederhana dalam kesusilaan. Kesadaran susila mereka rupanya miskin pula. Lantas apa artinya usaha menghaluskan sebutan profesi pelacur bagi mereka? Saya rasa tidak punya arti apa-apa. Pun tidak merubah kesadaran susila mereka. Mereka tetap miskin: miskin uang dan miskin susila.

Penghalusan kata pelacur menjadi wanita tuna susila, penjara menjadi lembaga pemasyarakatan, korupsi menjadi komersialisasi jabatan tidak lain adalah untuk kepentingan kita sendiri, kita yang merasa diri orang sopan dan berbudaya. Buat mereka: baik itu pelacur, koruptor maupun para tahanan sama saja artinya. Demi kepuasan batin kita, itulah tujuan penghalusan kata-kata tadi. Saya tidak tahu siapa yang pertama kali mengusulkan penggantian kata-kata itu. Mungkin salah seorang dari anggota komisi istilah, saya tidak tahu. Terlepas dari siapa yang memulai, rupanya itulah yang menjadi kesadaran kita sekarang, kesadaran kolektif kita, moralitas kita. Kita emoh dengan kata-kata yang rasanya kasar, vulgar dan blak-blakan. Kita malu memiliki perbendaharaan kata yang jorok itu. Perasaan kita yang halus, tidak membolehkan menggunakan kata seperti itu! Di balik keengganan kita memakai kata-kata yang jorok itu, tidaklah sebenarnya menunjukkan ketidakberanian dan ketidaksiapan kita menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada di masyarakat?

Tidak cukup kuat keberanian moral kita untuk mengatakan bahwa Pak Anu yang menjabat Kepala Bagian Keuangan Departemen Anu adalah seorang yang telah melakukan korupsi besar-besaran dan bukan sekedar mengkomersilkan jabatan. Kenapa kita mesti berpura-pura bahwa penjara memang pada kenyataannya penjara dan tidak usah muluk-muluk kita namakan Lembaga Pemasyarakatan? Karena toh yang kita lakukan adalah tidak lebih dari memenjarakan para tahanan dan bukan yang lain-lain?

Saya kira Mochtar Lubis benar, bahwa salah satu ciri bangsa kita adalah munafik. Terus terang yang saya khawatirkan adalah Jangan-jangan sekarang kita sedang rame-rame menjadi bangsa yang munafik.

*Penulis merupakan peneliti independen. Bekerja sebagai peneliti LIPI dari tahun 1980 sampai tahun 2017. Tulisan di atas merupakan karya Dr. Riwanto Tirtosudarmo terbit pada tanggal 28 Oktober tahun 1979 di Koran Salemba, Surat Kabar Mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Redaksi kajanglako akan memuat tulisan-tulisan penulis secara berkala yang pernah terbit di koran Salemba UI.


Tag : #Akademia



Berita Terbaru

  Selasa, 16 Agustus 2022 13:29 WIB

Bupati Hadiri Berbagai Kegiatan Dalam Rangka Memeriahkan HUT RI ke-77

Berita
  Senin, 15 Agustus 2022 21:03 WIB

Bupati Kukuhkan 73 Anggota Paskibraka Kabupaten Dharmasraya

Berita
  Kopi Juaro
Senin, 15 Agustus 2022 11:18 WIB

Kopi Juaro Rilis Kopi Bubuk Kemasan, Zayyan: Pilihan Kopi Terbaik untuk Rasa Terbaik

Bisnis
  Senin, 15 Agustus 2022 10:56 WIB

Rayakan HUT Pertama, Opinia Perdalam Algoritma Pancasila

Berita
  Senin, 15 Agustus 2022 10:33 WIB

Peringatan Hari Pramuka ke-61 Berjalan Lancar, Sekda Minta Anggota Pramuka Terus Mengabdi Tanpa Batas

Berita




Berita Bisnis Ragam Zona Inforial Akademia Perspektif Oase Telusur Pustaka Jejak Sosok Ensklopedia Sudut

Profil Sejarah Redaksional Hubungi Kami Pedoman Media Siber Disclaimer

© Copyright 2017. ® www.kajanglako.com All rights reserved.